
Shelly dan Axel keluar dari klinik. Axel melajukan motor trail kearah apotik. Sedangkan Shelly belum mendapatkan alamat dosen mata kuliah matematika bisnis. Namun sebelum langkahnya sampai di ruang administrasi, tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria berkacamata seusia Sean yang baru keluar dari ruangan itu.
"Sori sori" Shelly dan pria itu meminta maaf bersamaan dan bersitatap seper sekian detik. Lalu Shelly memunguti buku buku yang terjatuh berhamburan.
Sedangkan si pria melanjutkan langkahnya karena merasa sudah meminta maaf.
"Dih, cakep cakep kok jutek" gerutunya yang menyayangkan sikap dingin si pria.
tok
tok
"Permisi. Maaf bu, mau minta alamat dosen matbis, beliau bilang kalau mau ada yang perlu dengan beliau bisa meminta alamat kesini" pinta Shelly sopan.
"Matbis? Pak Aryo?" bu mimin balik bertanya.
"Iya bu" Shelly membenarkan maksudnya.
"Pak Aryo sedang ada kunjungan studi banding ke Universitas A, untuk sementara digantikan pak Terry, yang barusan keluar dari sini" jelas bu mimin.
"Yang baru- ah makasih bu" Shelly segera melesat kembali keluar setelah berterimakasih.
"Moga belom jauh" harapnya sambil celingukan saat berlari mencari sosok yang sedikitnya ia ingat saat bertabrakan tadi.
ciiiit
__ADS_1
Sol sepatu kets nya berdecit karena gerakannya yang berhenti tiba tiba.
"Sialan, kenapa juga harus bareng sama orang itu?" keluhnya kala melihat orang yang dia cari tengah berjalan berdampingan dengan Erlan.
Salah satu orang yang ingin dia hindari.
"Ah, bodo amat. Gue perlunya sama dosen matkul gue. Gak ada hubungannya sama tu orang" monolognya masa bodoh. Lalu melanjutkan kembali langkah cepatnya karena sang dosen pengganti tampak membuka pintu mobil Erlan. Sepertinya dia hendak menumpang. Pikirnya.
"Pak.. paaaaak..." teriaknya kala Terry sudah masuk. Namun saat hendak menutup pintu, pintu itu ditahan Shelly pada bagian kacanya yang terbuka full.
"Pak Terry.. hah hah hah.." seru nya lagi sambil terengah.
Pintu yang tertahan itu mengalihkan perhatian Terry yang semula tampak tertawa lebar, seketika merubah ekspresinya menjadi mode jutek on.
"Ya, ada apa?" jawabnya dingin.
Terry mengangkat tangan kirinya menilik rolex yang dengan gagahnya melingkar di pergelangan tangannya.
"5 menit, dimulai dari.. sekarang" jawabnya.
"What?" pekik Shelly.
"Time is running" (waktu terus berjalan) peringatnya.
"Oke.. kenapa nilai saya D, sedangkan saya sangat yakin mengerjakan soal dengan benar sesuai dengan yang diajarkan pak Aryo. Saya minta penjelasannya karena saya butuh transkrip nilai sementara untuk portofolio ke perusahaan tempat saya magang" tanyanya dengan ritme cepat.
__ADS_1
"Seharusnya kamu yang beritahu saya, kenapa kamu bisa dapat D padahal menurutmu menguasai mata kuliah itu" balas Terry melipat kedua tangannya di dada.
Shelly membuka mulutnya tak percaya.
'Ni orang ditanya malah balik nanya. Untung cakep' batinnya.
"Waktu habis. Jalan" tukas Terry karena Shelly tak kunjung berbicara. Dia lantas meminta Erlan melajukan mobilnya karena dirasa sudah tidak ada masalah.
"What? sialan lo. Cakep cakep asem lu. Kalo bukan karna nilai udah ku potek potek tuh muka. Aaaaarrgh..." pekik Shelly frustasi diparkiran dengan gerakan menendang dan meninju udara kosong karena gemas.
Erlan yang melihat melalui spion terkekeh dengan tingkah Shelly.
Disusul dengan Terry yang melipat mulutnya menahan tawanya.
"Sejak kapan lo sok jaim gitu?" ledek Erlan pada mantan player disebelahnya.
"Lo gak tau sih. Ngadepin cewek tipe bar bar gitu ya harus cuek" tukasnya santai sambil terus melihat kearah spion.
"Hei hei.. jangan coba coba tertarik sama dia" peringat Erlan.
"Kenapa? apa kamu juga tertarik dengannya dan tak mau bersaing denganku?" sanggahnya membuka mulut Erlan tak percaya.
"Itu.. salah satunya. Tapi yang pasti dia sudah sold out" jawab Erlan membenarkan lalu memberi keterangan tentang status Shelly.
"Benarkah?" tanya Terry terkesan lebih penasaran.
__ADS_1
"Kalau begitu akan kubuat dia mengejarku" ucapnya kemudian sambil menyunggingkan senyum.