
"Pah..pah.." seru mama Sean pada suami yang masih tampak gagah meski perutnya sedikit bundar.
"Hn" jawabnya singkat karena tengah dipakaikan dasi oleh sang istri yang selalu mengurusinya dari a sampai z.
"Mama udah punya calon mantu" lanjut mama antusias. Senyumnya selalu mengembang sedari bangun tidur.
"Iya, kan mama kemarin bilang mau bawa ke apartemen Sean. Anaknya Baskoro kan?" timpal papa yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang berumpak milik mama.
"Bukan Cindy, pah. Ini lain lagi" tukas mama yang selesai dengan dasi. Lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Gadis yang ini beda dari gadis kebanyakan" cup. Mama mengecup sekilas bibir sang suami yang selalu disukainya. Lantas membereskan kamar sembari terus menyampaikan pikirannya.
"Apa dia anak pengusaha?" tanya papa sembari meraih jas dan hendak memakainya namun segera mama ambil alih.
"Dia anak biasa, pah. Masih kuliah dan lagi magang di perusahaan kita" jelas mama sembari merapikan jas yang sudah dipakaikan pada sang suami.
"Tapi dia bukan tipe wanita manja yang kerjanya hanya menghamburkan uang. Bukannya mama mau pelit ya pah, dia mau hamburin uang kita juga gak masalah bagi mamah. Hanya saja tipe wanita seperti itu kayaknya rame, pah. Mama suka. Mama bisa jadiin dia bestie mama buat lawan mami Rosie" cerocos mama diakhiri kikikan kala membayangkan kemurkaan ibu mertuanya saat dia mengangkat seorang menantu dari kalangan orang biasa.
"Mama ini, masih aja gak akur sama mami" tukas sang suami yang menggelengkan kepala. Istrinya ini selalu tak mau mengalah pada ibunya. Tapi selalu berjalan paling depan kala sang ibu dirawat di rumah sakit.
"Kalo mama akur sama mami ya gak rame dong pah. Udah sana kerja. Udah cakep. Jangan kecakepan nyari daun muda, nanti mama santet tau rasa" ancam mama menggiring sang suami keluar kamar.
"Terus anaknya Baskoro gimana? kan kemaren papa udah nanggung bilang mau angkat dia jadi mantu kita" tanya papa sambil menuruni anak tangga dengan lengan diapit mama.
"Ya bilang aja kalo Sean udah punya calon. Pokoknya mama gak mau lepasin gadis itu. Selain cantik, dia berkharisma. Papa tau sendiri kan, anak kita itu hampir gak normal, kayak yang gak suka gitu sama cewek. Mama pikir anak kita itu penyuka sesama jenis" ungkap mama sambil memenuhi piring sang suami dengan berbagai menu sarapan kesukaannya.
"Hush.. mama itu kalo ngomong suka sompral" tukas papa yang membuka mulutnya untuk menerima suapan dari sang istri. Bagaimana mau pindah ke lain hati dan bodi kalo diperlakukan seperti seorang raja oleh sang istri.
"Ya habis, mama perhatiin, kalo mama ajakin Sean arisan, dia gak pernah mau ngelirik bahkan diajak kenalan sama anak temen arisan mama yang cantik cantik dan seksi, pah. Kan mama jadi kuatir. Masa iya anak semata wayang kita suka yang batangan" gerutu mama sambil terus menjejalkan sendok demi sendok makanan ke mulut sang suami.
uhuk
Papa sedikit terbatuk karena tersedak. Tak menyangka dengan pemikiran sang istri yang nyeleneh.
"Pelan pelan dong, pah" mama menyodorkan air minum pada papa.
"Orang tuanya kerja apa, bisa nguliahin anaknya? biaya kuliah gak sedikit loh" papa masih penasaran dengan pilihan istrinya yang berbeda dengan pemikiran awal jika pendamping sang anak kelak haruslah yang sederajat dengan mereka.
__ADS_1
"Katanya sih ayahnya pensiunan, tapi gak tau pensiunan mana, terus ibunya masih kerja" jelas mama, namun ada sedikit nada was was pada kalimat terakhir.
"Suaminya sudah pensiun, tapi istrinya masih kerja. Pasti mereka tipe keluarga pekerja keras. Kerja dimana istrinya? pasti pensiunan suami gak mencukupi kebutuhan hidup. Kesian" tukas papa mengomentari cerita mama.
Mama terdiam, tak menjawab pertanyaan papa karena tampaknya hanya mengomentari.
"Ma.." seru papa.
"Hn?" mama terkesiap.
"Papa nanya kok gak dijawab?" lanjut papa.
"Emang papah nanya apa?" mama sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Istrinya emang kerja dimana? kali aja perusahaan papa bisa bantu" papa kembali bertanya sambil melangkah menuju mobil.
"oooh.. katanya sih di bengkel mobil" tukas mama dengan enteng.
Papa mengernyitkan dahi.
"oooh..." reaksi papa membuat mama mengernyitkan dahi menggantikan sang suami.
"Admin bengkel kan? gampanglah, paling papa tempatin jadi admin gudang, gajinya juga pasti lebih besar dari bengkel" tukas papa dengan enteng.
"Bukan admin nya papaa" sanggah mama.
"MOONTIR.." imbuh mama menekankan kata yang diucapkan.
tiiiiiin....
"Papa berisik iiihh..." mama menampar lengan papa kala papa tak sengaja menekan klakson mobil karena terkejut.
"M.. montir? gak salah?" tanya papa terkejut.
Mama mengangguk lalu mengusir papa sebelum pertanyaan lain memberondongnya.
"Udah sana, kerja. Cari uang yang banyak buat biaya nikah anak kita" tukas mama membuyarkan lamunan dan pertanyaan yang sedang papa susun dikepalanya.
__ADS_1
"Papa belum liat sih, anaknya gimana. Pasti kelepek kelepek kalo udah liat" gumam mama yang melambaikan tangan pada suami yang melaju dengan mobil mewahnya.
"Jangan deng. Kalo ketemu nanti papa yang jatuh cinta. Bisa gawat kalo anak sama suami yang rebutan. Aduhh.. kok mendadak pusing gini ya" lanjut mama bermonolog sambil memijat pelipis yang mendadak nyut nyutan.
Di Perusahaan
Papa Sean penasaran dengan informasi yang istrinya sampaikan.
"Ben, kumpulkan data pemagang baru. Saya tunggu 15 menit" titahnya pada sang asisten melalui sambungan telpon.
Papa yang menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan tempat Sean bekerja, dan Shelly magang, tak pernah mempublikasikan jika Sean adalah anak semata wayangnya. Beruntung sang anak pun tak mau mengandalkan sang ayah atau keluarga dalam meniti karirnya.
Dia bahkan masuk ke perusahaan melalui proses seleksi hingga menjabat sebagai manajer operasional atas pencapaiannya sendiri.
tok
tok
"Masuk" titah papa pada pengetuk.
"Permisi, pak. Ini data yang anda minta" ucap Beben sang asisten dengan dahi berkeringat.
"Dari mana kamu?" tanya papa Sean dengan dahi berkerut, terheran dengan kondisi sang asisten yang terengah.
"Liftnya rusak pak, lagi di service. Terpaksa saya naik tangga darurat" jawab Beben ngos ngosan.
Ruangan kantor sang Presdir berada di lantai 10. Bayangkan Beben harus turun ke lantai 4 tempat divisi personalia berada lalu kembali naik ke lantai 10.
"Kumpulkan para pemagang di ruangan meeting sekarang" titah papa Sean yang seketika membuat wajah pucat Beben bertambah pucat.
Pasalnya, ruangan meeting berada di lantai 10 ini, dan dia harus turun ke lantai masing masing pemagang ditempatkan.
"Se.. sekarang.. pak?" tanya Beben terbata. Baru saja dia mengambil nafas lega, harus kembali mengolah pernafasannya lagi.
"Apa saya harus mengulangnya?" ucap tegas papa Sean.
"Ah.. b.. baik.. pak.. (ya Tuhaaaan.. tolong ratakan kantor ini dengan tanah... eh gak jadi deng.. nanti saya ikut terkubur.. jangan Tuhaaan.. saya delet permintaan saya...)" hibaan Beben dalam benaknya setelah meng iyakan perintah sang atasan.
__ADS_1
ADA YANG PUNYA MASUKAN NAMA BUAT MAMA DAN PAPA SEAN?🤔