
Wanita paruh baya itu mengecupi wajah Rendi karena kerinduan yang teramat sangat.
"Mama.. mama sama siapa kesininya?" tanya Rendi masih tak percaya.
Dia memang sangat menyayangi ibunya. Namun ide perjodohan yang papa nya atur dengan tegas membuatnya mengambil keputusan yang mengubah hidupnya.
"Sama papi, juga calon istrimu. Tapi kalau kamu memang tak mau ya sudah, mama yang akan membujuk papi untuk membatalkan, asal kamu kembali ke rumah, ya" bujuknya sambil menyisir rambut Rendi dengan jari jarinya yang mulai keriput dan mengusap wajah yang sangat dia rindukan.
"Ekhem.. jadi gini kelakuanmu selama mencoba membuktikan diri?" suara baritone terdengar dari pintu, membuat semua orang sontak menoleh kearah pintu masuk.
Bukan hanya sosok pria paruh baya yang masuk, namun sosok wanita mungil nan cantik bak bidadari mengekor di belakangnya.
"Papi.. " lirih Rendi sedikit ketakutan.
"Ma, itu siapa?" Rendi bertanya sambil berbisik.
"Ooh, itu Amira. Mantan calon istrimu" jawab mama Rendi sambil tersenyum.
"Mantan calon?" ulang Rendi.
"He em.. mama udah bujuk papi buat batalin perjodohan. Kebetulan tadi mama sama papi lagi ke kota ini buat ketemuan sama kolega papi mu, eh gak sengaja ketemu Amira, yaudah sekalian pulang aja mama ajak bareng. Eh malah dapet kabar gak enak tentang kamu"
__ADS_1
"Tapi.." Rendi tampak ragu.
"Iya, mama ngerti. Kamu tenang aja. Amira anaknya pengertian kok. Dia juga gak mau memaksakan. Toh kita masih bisa silaturahmi.."
"Gak usah ma" potong Rendi.
"Maksud kamu?" tanya mama Rendi bingung.
"Gak usah dibatalin, ma. Kalo modelan begini sih Al juga mau" tukas Rendi yang mendapat toyoran di kepalanya oleh Shelly.
"Geser lo punya otak. Kemaren kemaren kemana lo?" sarkas Shelly.
"Maaf ya mba. Ini anak saya. Gak seharusnya mbak seperti itu pada anak saya" sergah mama Rendi yang tak suka dengan perlakuan Shelly di depan matanya.
"Kasus penculikan" jawab mama Rendi lirih tak percaya.
"Nah, saya ini korbannya bu. Selain itu, dia juga pernah mau.." penjelasan Shelly dijeda oleh Rendi yang tak mau perilaku bejatnya diketahui oleh calon istrinya yang ternyata se imut ini.
"Al memang udah bikin salah, ma. Maafin Al ya. Shell, gue minta maaf ya. Gue ngaku salah. Gue bersedia dihukum sesuai peraturan, asal lo mau maafin gue.
Mama juga harus maafin Al, ya. Al janji bakal pulang dan nurut sama mama" ucap Rendi yang sesekali melirik pada Amira.
__ADS_1
"Giliran disodorin yang bening, baru tobat. Kampret lu, Ren" cebik Shelly.
"Biarin. Sirik aja lo" timpal Rendi.
"Amit amit sirik, iiiih.. gue dah punya kali yang lebih bening dari lo. Ngapain mesti sirik" balas Shelly.
Perdebatan mereka yang kembali bagai sahabat itu pun membuat seisi ruangan tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu melanjutkan perjodohan ini?" tanya mama Rendi memantapkan keputusan sang anak.
Bukan kerena apa, setelah sebelumnya sang anak dengan tegasnya menolak bahkan nekat kabur karena akan dijodohkan meski belum melihat sosok calonnya.
Seandainya sedari dulu dia tahu akan sosok calon istrinya ini, mungkin dia tak akan kabur.
"Iya, ma. Al yakin. Seratus persen yakin" jawab mantap Rendi saat mereka duduk berdua di kursi tunggu. Rendi meminta izin berbicara berdua saja dengan sang ibu pada Sukri.
"Ya sudah, nanti mama bicarakan lagi sama papi" ucap mama Rendi lega.
"Tapi, ma. Bukannya dulu yang mau dijodohin sama Al itu bukannya janda beranak satu ya? gak mungkin Amira kan? itulah sebabnya Al kabur. Mana ada yang mau bekasan" tukas Rendi memastikan.
"Ya memang dia orangnya" timpal mama Rendi mantap.
__ADS_1
"Jedderr gak tuh.. belaga pengen yang gres, sendirinya udah gak gres" tukas Shelly terkikik.