Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Kemunculan Evi


__ADS_3

Seminggu berlalu namun Evi belum kunjung memunculkan diri membuat Shelly sedikit cemas. Karena targetnya hanyalah 1 bulan. Dan kenapa 1 bulan, waktu yang perutnya berikan karena akan semakin membesar.


Meski begitu, dia sudah mengantongi bukti lain tentang kecurangan Edrik dalam mengelola restoran suaminya.


Tentu saja Edrik tak mengetahui tentang hubungan spesial antara Shelly dan Sean. Karena yang Edrik yakini adalah Sean bernasib sama sepertinya.


Pengagum Shelly.


"Shell, jalan yok" ajak Rio saat istirahat.


Sistem shift membuat mereka beristirahat secara bergantian setelah jam makan siang karena jam makan siang merupakan rush hour nya restoran, dimana waktu paling sibuk saat orang orang melakukan reservasi untuk makan siang.


"Jalan? maksudmu jalan kaki?" Shelly mengernyitkan dahi sambil mengunyah apapun yang ia ambil di dapur resto.


"Ya jalan jalan aja. Nge mall, nonton bioskop, ato muter muter kota pake motor" jawab Rio yang diakhiri dengan menaik turunkan alisnya.


Shelly tampak berfikir sejenak.


"Males ah. Kalo mo ngajak jalan gue minimal ke Bali gituh, ato Lombok, ato paling deket Singapore" timpal Shelly sambil terkekeh.


"Ya ampun tinggi amat standar elo" cebik Rio yang merasa patah semangat.


"Ayok kita ke Bali" timpal Edrik yang tiba tiba muncul dan bergabung dengan mereka.


uhuk


uhuk


Sayangnya kemunculan tiba tiba Edrik membuat Rio tersedak.


Shelly menyodorkan minumnya dan Rio lantas menandaskan air dalam gelas itu.


"Ekhem, makasih.. Tapi.. sadar gak sih kalo kita ciuman gak langsung" ucap Rio dengan wajah memerah.


Shelly melempar tisu pada wajahnya.


"Ciuman pala lo mesti dijedotin pintu. Orang belom diminum juga" ketus Shelly membuat Rio terkekeh. Namun Rio mendapat kode dari Edrik untuk menyingkir, membuat Rio mendecak kesal.

__ADS_1


"Gimana, mau main ke Bali?" lanjut Edrik sambil menyangga kepalanya pada sebelah tangannya diatas meja.


"Bali? siapa yang mau ke Bali?" timpal seorang wanita yang baru datang dengan rok mini dan heels cukup tinggi membuat kaki jenjangnya terlihat lebih indah.


"Halo, sayang. Punya mainan baru?" sapa wanita yang selama seminggu ini Shelly tunggu, akhirnya muncul juga.


Evi mengalungkan kedua lengannya di leher Edrik, namun segera Edrik lepaskan dengan perlahan karena tak mau terlihat kasar dimata Shelly yang tak menatap sama sekali pada mereka.


Shelly tengah asik mempreteli kaki kepiting, dan berharap sedang mempreteli tangan dan kaki Evi, satu per satu.


"Datang juga" ucap Edrik sedikit ketus. Matanya melirik sekilas pada Evi, namun kembali menatap Shelly dan arah lain. Merasa malas dan kesal karena kemunculan Evi yang tak tepat waktu.


"Ya ampun sayang, jan ngambek dong" bujuk Evi membelai rahang Edrik lalu hendak mengecup bibirnya, namun Edrik menghindar sembari melirik Shelly.


"Ooow... lagi merajuk atau lagi tebar pesona, nih" sindir Evi yang langsung melirik Shelly karena Edrik tak hentinya melirik padanya.


"Heh, anak baru" serunya pada Shelly yang tengah asik mengunyah dan menjilati tangan lentiknya karena bumbu yang sangat kaya akan rempah.


Shelly mendongak karena seruannya. Menampilkan wajah polosnya.


"Sherli" jawab Shelly dengan mulut penuh makanan.


"Sherli? hmm.. keknya kita pernah ketemu" tukas Evi sedikit menimbang nimbang pernah melihat Shelly dimana.


Hari ini Shelly berpenampilan sangat natural seperti tak ber make up, dengan rambut diikat ekor kuda dan kaca mata berbingkai hitam bertengger di hidungnya.


Shelly menggeleng menampilkan mata bulatnya.


"Saya gak ngerasa pernah ketemu orang seperti anda" tukas Shelly cuek. Makanan yang membuat pipinya menggembung sengaja tak ia telan untuk menyamarkan wajahnya.


"Terserah. Bisakah kamu pergi dari sini? aku dan bos mu ini ada hal penting yang ingin kami lakukan" tukas Evi sambil berjalan mengelilingi Edrik yang memutar bola matanya. Jari ber cat kuku hitam itu menyusuri pundak lebar milik Edrik.


"Maaf, carilah tempat lain, karena sedari tadi saya sudah menempati meja ini sebelum pak Edrik datang, juga anda" tolak Shelly yang kembali menjejalkan makanannya kedalam mulut.


"Mmm.. Axel mesti bikin kek beginian" gumam Shelly bermonolog, tak menghiraukan Evi yang tengah mengangakan mulutnya.


Edrik terkekeh, sedikit tak percaya Shelly tak terintimidasi oleh wanita yang setahun ini menguasainya namun dia tak sanggup menolaknya.

__ADS_1


"Kamu berani sama saya? kamu gak tahu siapa saya?" pekik Evi sambil berkacak pinggang.


"Saya tahu. Anda adalah orang luar yang kebetulan mempunyai hubungan khusus dengan wakil bos namun belum mempunyai status sah dan saya tidak punya alasan menghargai orang yang tak menghargai saya" jelas Shelly tanpa jeda. Dia kembali melanjutkan makan nya.


Edrik kembali terkekeh. Dia bahkan hendak menyeka bumbu yang belepotan di bibir Shelly dengan tissue, namun Shelly segera mengambil alih tissue itu dan membuatnya untuk lap tangan.


Shelly lantas menjilati bibir sensualnya untuk membersihkan bumbu yang menempel.


"Koki yang handal. Tak heran mereka kembali kesini untuk menikmati makanan ini" monolog Shelly yang lantas bangkit untuk mencuci tangannya di wastafel dapur.


Namun langkahnya dijegal Evi, membuat Shelly tersandung dan hampir jatuh tersungkur karena tangannya reflek meraih rambut Evi. Alhasil, Evi yang jatuh ke belakang karena tarikan Shelly di rambutnya.


"Aah.. cewek sialan. Edrik, kamu gimana sih, malah diem aja pegawai kamu kurang ajar sama saya" pekik Evi.


"Hhh.. kamu sih.." Edrik merespon dengan malas sambil meraih tangan Evi untuk membantunya berdiri.


"Kalau sekiranya anda tak bisa menerima hasil tindakan anda sendiri, jangan pernah melakukan tindakan yang akan berbalik pada anda nantinya" cebik Shelly sambil berlalu. Tangan kirinya menyentuh perutnya, dalam hati mengucap syukur karena tak terjadi apapun yang membahayakan sang calon buah hati.


"Kuatlah nak. Ibu akan selalu melindungimu" gumam Shelly dalam hati.


Waktu istirahat Shelly habis. Namun pekerjaannya meng input data sudah selesai.


Shelly berjalan jalan dengan iseng. Ke area resto, sudah tak begitu banyak pengunjung, jadilah dia menyusuri seluruh gedung resto yang suaminya bangun dengan desain interior dan ornamen mewah membuat kesan restoran mewah melekat pada tampilan bangunan itu.


"Kenapa kamu belum mendapatkan sample tanda tangan dan surat kepemilikan? apa yang kamu lakukan selama disana?" suara obrolan terdengar dalam sebuah ruangan yang tertutup saat Shelly melewati gudang penyimpanan makanan. Dan itu adalah ruangan tempat membuat yoghurt yang sedang tidak dipakai produksi. Karena mereka memproduksinya setahun sekali.


"Itu karena istrinya yang sialan itu tiba tiba muncul terus mergokin kita. Kamu gak tau kalo aku keguguran dan masuk rumah sakit gara gara sepupumu itu melemparku ke meja"


"Istri? kamu bilang Sean sudah punya istri?"


"Kamu gak tahu?"


"Jangan jangan.."


jeglek


Pintu dibuka..

__ADS_1


__ADS_2