Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Pasrah


__ADS_3

Shelly mengendarai motor yang ia paksa pinjam dari Terry dengan menjaminkan mobilnya, hadiah dari sang suami.


Terry sekuat tenaga mencegahnya, namun nahas dia malah kena bogeman mentah dari Shelly.


Akhirnya Terry mengijinkan dengan syarat, dia harus ikut.


Bukan tanpa alasan.


Terry khawatir dengan kondisi Shelly yang tengah emosi.


Beruntung mereka berdebat diluar rumah, jika tidak, sudah pasti mengganggu istirahat ibunya dan Mario.


Terry membiarkan Shelly yang mengendarai.


Di malam yang dingin dan pekat, Shelly mengendarai motor itu bak kesetanan.


Berteriak sekencangnya, memekik dan melengking seiring suara knalpot yang memecah kesunyian malam.


"Aaaaaaaaaaaaa...... "


Tanpa bisa Terry kuasai, setitik cairan lolos dimatanya. Dia memeluk Shelly erat. Memberikannya kekuatan. Turut merasakan kepedihan Shelly meski tak tahu permasalahan yang menimpanya.


Shelly memarkirkan motor itu di luar gerbang mansion. Menyuruh Terry untuk menunggunya.


Dia berniat mengambil beberapa barang dan dokumennya lalu meminjam sedikit uang pada Axel untuknya menyewa sebuah kontrakan.


Pergerakan Shelly yang diliputi amarah tak bisa dikatakan perlahan. Tentu saja semua orang yang sudah terlelap satu per satu keluar kamar untuk mencari tahu ada keributan apa.


Rosie yang berada di kamar bawah sangat senang dengan kepulangan Shelly.

__ADS_1


Tapi..


Apa yang dilihatnya tidak membuatnya senang.


Shelly tengah menggeret koper kecil yang isinya berhamburan karena dimasukan dengan tergesa.


Pun dengan suara isakan Shelly, membuat Rosie sangat khawatir.


Tanpa disadari, Rosie berhasil naik tangga hingga ke atas.


Sesuatu yang sebelumnya sangat ia hindari.


"Shelly.. sayang.. apa yang terjadi?" tanya Rosie dengan suara bergetar. Namun langkahnya belum membawanya kehadapan menantu kesayangannya.


"Paling juga diusir Sean karena udah punya yang baru" cebik Cindy yang merasa puas jika itu benar terjadi.


Cindy mengekor Rosie untuk melihat keadaan menyedihkan rivalnya.


Selesai memunguti barang yang berceceran dan memasukan kembali kedalam koper, menutupnya rapat dan memastikan benar benar tertutup, Shelly melangkah kembali tanpa memperdulikan Rosie yang tengah khawatir dan panik.


"Shelly.. tunggu nenek, sayang. Dengarkan nenek. Apa salah nenek sampai kamu meninggalkan nenek" cecar Rosie sambil berusaha menghadang Shelly.


Shelly menghindar dari menatap sang nenek yang sangat ia sayangi. Tapi itu bukanlah neneknya. Tapi seseorang yang mengingatkannya akan suaminya.


Suami yang tadinya ingin lepas dari cengraman buaya, namun masuk ke cengkraman burung hering. Membawanya pergi lalu mencabik cabiknya.


Shelly melewatinya dan bergegas menuruni tangga tanpa membuka mulutnya.


"Shelly.. tunggu nak.. jangan tinggalkan nenek, sayang" mohon Rosie terisak sambil tergopoh mengejarnya.

__ADS_1


"Dasar kampungan" desis Cindy yang lantas mendorong Rosie.


"Aaaaa...." pekikan Rosie membuat Shelly membalikan tubuhnya.


Tubuh ringkih Rosi melayang tepat kearahnya.


Shelly dengan sigap menangkap tubuh sang nenek lalu mendekap kepalanya erat di dada.


Kini tubuh mereka berdua melayang di udara dengan Shelly yang berada dibawah Rosie.


Melindungi sang nenek tercinta agar tak terluka.


Shelly pasrah.


Dia berbisik..


"Maafkan Shelly, nek. Shelly sayang nenek"


brugg


"Waaaaa....."


"SHELLYYYYYY..."


Pekik para art dan Axel bersamaan. Lalu merangsek menopang tubuh Shelly yang kini bersimbah darah.


Sang nenek pun tak sadarkan diri.


Terry yang tengah mengusap rahangnya karena bogeman Shelly, terperanjat mendengar teriakan dari arah dalam pun segera berlari masuk menyusul salah satu satpam yang juga berlari kearah rumah.

__ADS_1


"Shelly bangun.. Shellyyyy..." raung Axel mendekap tubuh lemah Shelly.


Terry yang baru tiba di pintu terkejut melihat pemandangan memilukan itu.


__ADS_2