Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Kabur


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Sean segera mendaftarkan nama Shelly ke bagian administrasi spesialis kulit. Dia ingin kulit Shelly kembali mulus meski sehari hari berkutat dengan minyak rem dan oli.


Kebetulan bagian itu tidak terlalu banyak antrian, dan Shelly mendapat antrian nomor 5.


Sean setia mendampingi sang istri disebelahnya, berusaha mempertahankan syal yang melingkar hingga ke hidungnya.


Tak ada rasa risih dari Shelly karena dia membiarkan Sean melakukan hal itu.


Jangan tanya Axel kemana.


Jika bersama Rendi, sudah dipastikan dia akan menggoda salah satu pengantar pasien atau bahkan perawat, maka Axel akan sibuk mencari mesin penjual minuman atau camilan. Sedari kecil Axel memang menyukai vending machine bukan karena beragam isinya, tetapi karena mirip permainan dingdong yang tak pernah momy nya izinkan.


Pernah suatu waktu dia membawa berbagai minuman dan camilan hingga tangannya penuh dan akhirnya dia bagikan pada pasien yang tengah menunggu.


"Nona Shelly Andromeda" panggilan dari perawat mengatensi Sean.


"Kok nona sih?" gerutunya yang bisa didengar Shelly.


"Ya iyalah nona, orang belum digenti ka te pe nya juga" tukas Shelly yang bangkit dari duduk dan diikuti Sean sambil terus menampakkan wajah murungnya.


Entah kenapa dia tak suka jika orang orang tidak mengetahui status gadis otewe wanita disebelahnya ini.


"Udah gak usah manyun, tambah cakep nanti berabe" celetuk Shelly yang memperhatikan ekspresi Sean.


Sean mencebik yang dibalas kekehan.


"Selamat pagi, nona.." sapa dokter spesialis yang menggantung kala melihat Shelly saat membuka syal nya dibantu Sean.


"Pagi dok. Ini tadi malem kesiram air panas, bisa minta obat yang ampuh buat ngembaliin kulitnya ke semula?" Sean segera menjawab sapaan dokter tampan yang ia taksir berusia 30 an.


"Baiklah, biar saya lihat dulu seberapa parah" sang dokter menggeser kursi nya mendekat pada Shelly setelah memakai sarung tangan karetnya, lalu meminta Shelly untuk memiringkan kepala agar luka di lehernya lebih jelas terlihat.


Sean tak suka saat melihat sang dokter mendekatkan kepalanya pada leher sang istri. Seolah akan melahapnya.


Tangannya mengepal, menahan amarah yang tiba tiba menyelimuti hatinya.


"Aku aja belum nyobain ngendus tu leher, lah ini, modus meriksa malah nikmatin aroma yang belum aku nikmatin" gerutunya dalam hati.


"Jadi gimana, dok" Sean segera membuyarkan imajinasi sang dokter yang terlihat tertarik sejak awal Shelly masuk.

__ADS_1


"Ah.. ini hanya luka bakar ringan. Tampaknya pertolongan pertamanya tepat. Tinggal meneruskan saja karena tidak ada infeksi. Dan saya sarankan jangan dulu terkena air" sang dokter yang bernama Erlan di name tag nya menjelaskan.


"Lah, terus mandinya gimana kalo gak kena air?" celetuk Shelly mengomentari saran Erlan.


"Udah sih, di lap aja dulu. Paling juga beberapa hari doang. Belum masuk kuliah juga" tukas Sean yang kembali membungkus leher Shelly dengan telaten.


Erlan yang tengah menuliskan resep sesekali memperhatikan interaksi keduanya.


"Yee, gak enak dong om, kalo cuma di lap aja" sanggah Shelly cemberut.


"Ya sabar. Kan biar cepet sembuh" bujuk Sean lembut.


"Ini resepnya, om nya bisa ambil di apotek. Kalau sudah habis bisa kok beli di apotek 24 jam" Erlan memberikan secarik kertas dengan coretan yang hanya dimengerti apoteker.


"Saya bukan om nya" sanggah Sean yang tak suka dengan sangkaan Erlan.


"Oh.. lalu.." Erlan kebingungan.


"Saya suaminya. Belum sempet bikin kartu keluarga baru" jelas Sean memperjelas status mereka.


"Jadi kalian sudah menikah?" lanjut sang dokter bertanya yang bukan ranahnya bertanya perihal privasi pasien.


Dengan sopan Sean bangkit sambil berpamitan dengan menganggukkan kepala pada sang dokter karena Shelly sudah bangkit terlebih dahulu.


"Shelly Andromeda.. bukankah kamu kuliah di Universitas U?" seru Erlan tiba tiba saat Shelly hendak meraih handle pintu.


Shelly menoleh sambil mengernyitkan dahi.


"Sialan ni dokter. Mau nyari perkara keknya" gerutu Sean dalam hati.


"Dokter kenal saya?" tanya Shelly.


"Ah, berarti benar dugaan saya. Apa kamu lupa sama mobil Mazda CX-5?" tukas Erlan yang betah duduk sembari menautkan kesepuluh jarinya dan menatap Shelly intens.


Shelly seketika membulatkan mata dan mulutnya. Lantas bersembunyi dibalik tubuh Sean.


"Mampus gue" gumamnya yang Sean dengar sambil kebingungan.


"Hahaha.. kamu tenang aja, saya gak akan nuntut apa apa dari kamu. Asal kamu kasih saya nomor wasap" Erlan tertawa ringan sembari mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


Sean jengah dengan modus sang dokter yang tak beretika.


"Maaf, dok. Kalau ada masalah pribadi dengan istri saya, silahkan hubungi nomor saya. Permisi" tukas Sean seraya menyodorkan kartu nama nya.


Sean membuka pintu dan Shelly langsung melesat keluar tanpa menunggu pintu terbuka lebar.


"Hahahha... I'll find you, Shelly..." (aku akan menemukanmu, Shelly) tawa Erlan menggema di ruangannya yang terdengar hingga ke luar.


"Oh.. shitt.. kenapa harus ketemu cecunguk itu disini.." gumam Shelly panik sambil terus melangkah cepat menuju parkiran mobil.


Saking cepatnya, dia tak memperdulikan seruan Sean yang mengejarnya. Dia bahkan lupa akan keberadaan Axel yang selalu dicarinya.


"Om" seru Axel pada Sean yang berjalan setengah berlari.


"Sel... ngerampok dimana kamu?" tanya Sean terkejut karena Axel memeluk banyak camilan dan minuman yang hampir tak tertampung.


"Hehe.." Axel malah nyengenges menampakkan barisan gigi putihnya.


"Ayo pulang" sergah Sean yang tak mau kecolongan kehilangan jejak sang istri.


"ah.. eh.. iya.. dek.. nih bagiin ya sama yang lain" Axel memberikan semua hasil kesenangannya pada anak berumur 10 tahunan yang memakai pakaian lusuh dan terlihat selalu mondar mandir disekitar rumah sakit, tepatnya disekitar tempat sampah rumah sakit untuk mencari sumber penghidupan.


Pemberian Axel disambut haru dan bahagia si anak.


"M.. makasih, om. Semoga om dapet jodoh yang baik. Akhirnya aku bisa bawa jajanan buat kamu, dek" do'a si anak diakhiri gumaman yang mengandung bawang dan segera pergi membawa semua pemberian Axel diiringi senyum yang mengembang.


"Shelly.. huh.. kupikir kamu kabur kemana" ucap Sean merasa lega mendapati sang istri tengah duduk melorot di kursi nya di dalam mobil.


"Cepetan, om. Lelet amat sih" ketus Shelly yang masih dengan posisi yang sama.


Sean tersenyum lalu melajukan mobil sesuai keinginan sang istri.


"Kita mampir ke apotik dulu ya" ucap Sean mengkorfirmasi karena tadi tak sempat menebus obat di apotik rumah sakit karena kaburnya Shelly.


"Iiih... lama lah om, obat kemeren aja masih ada kan, gak usah pake antibodi segala lah" tukas Shelly yang terlihat ingin segera sampai di rumah.


"Antibiotik, sayaang.." Sean membetulkan perkataan Shelly yang salah.


"Adeudeudeuuuh... baru semalem tancap gas udah sayang sayangan aja" ejek Axel.

__ADS_1


__ADS_2