
"Papa.. papa.. butu na abis.. beli lagi yok" seru Mario kala buku gambarnya yang lain sudah penuh dengan goresan artistik bergaya abstrak.
"Iya, abis ini kita ke toko buku ya" jawab Terry.
"Tama tante juda ya pa ya" pinta Mario yang seketika membuat Shelly dan Terry saling melirik.
Shelly mengangkat sebelah tangannya. "Kayaknyaa.. tante free hari ini. Ayok" timpal Shelly yang langsung berdiri.
"Serius?" tanya Terry tak menyangka akan semudah ini mengajaknya jalan meski ada Mario diantara mereka, tapi kapan lagi dia bisa menghabiskan banyak waktu dengannya. Secara selama ini dia mencari alasan agar Shelly protes. Tak lain adalah agar dia bisa berinteraksi dengan Shelly meski hanya sebentar. Namun kini, dia yakin akan menghabiskan waktu seharian dengan nya.
Harap Terry.
"He em" Shelly mengangguk cepat sambil membantu membereskan tas Mario lalu menggenggam tangan mungil itu berjalan.
Terry menahan senyum bahagianya lalu mengekor mereka dibelakang.
"Kita genti mobil dulu ya" ucap Terry yang meraih stang motor berwarna kuning kesayangannya.
Ducati Scrambler, yang dibanderol dengan harga kisaran 200-400 juta rupiah membuat Shelly menganga.
__ADS_1
"You own this ****? (kamu pemiliknya?)" ucapnya tak percaya.
"Language, please. (Tolong bahasanya)" peringat Terry karena ada anak kecil bersama mereka.
"Ups, sorry. Ayo naiiiik" antusias Shelly yang lantas merebut kunci motor dan duduk di depan lalu mengangkat Mario agar duduk diatas tanki.
"Kamu serius?" tanya Terry tak percaya jika dia harus dibonceng seorang wanita.
"He em. Naiklah" jawab Shelly sambil mengedikkan kepalanya agak Terry naik ke jok belakang.
Dengan santai Shelly mengendarai motor pujaannya.
Dia sempat merengek pada momy Chelsea agar membelikannya motor ini, namun sang momy sangat mengenal perangai Shelly yang suka memacu adrenalin, dan dengan tegas menolaknya.
Pun dengan Mario yang senang diajak berkeliling komplek dengan motor.
"Serius disini rumahnya?" tanya Shelly.
"Mobil siapa ini? Parkir kok sembarangan?" gumam Terry yang keberatan dengan keberadaan mobil jeep berwarna hitam yang menghalangi akses motornya masuk ke garasi.
"Ehe, maaf. Ini mobil saya pak. Peace" ucap Shelly menampilkan barisan gigi putihnya seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
__ADS_1
"Mobil kamu? emang kamu tinggal dimana?" tanya Terry sedikit terkejut namun banyak senangnya.
Shelly mengarahkan jempolnya kearah rumah sebelah.
"Kamu tinggal disebelah? serius?" Terry bertanya lagi.
"He em. Bapak mengenalnya?" Shelly balik bertanya.
"Tidak terlalu. Kamu ingat aktivitasku bukan di kota ini. Mereka pasangan yang cukup serasi menurutku. Apa kamu kerabat pak Sean?" pertanyaan Terry membuat Shelly menyurutkan senyumnya.
"Ah.. iya.. saya.. kerabatnya.." jawab Shelly menampilkan senyum dipaksakan.
"Papa ayo kita beyi butu.."rengek Mario membuyarkan lamunan Shelly.
"Ah iya. Kalau begitu tante mandi dulu ya. Bau. Nanti pake mobil tante aja. Mau?" ceria Shelly menyembunyikan banyak pertanyaan.
Namun Terry yang lebih dewasa darinya sedikitnya bisa membaca perubahan air mukanya. Dan dia simpan rasa penasarannya untuk menghargai privasi Shelly.
"Mauuuu.." pekik Mario girang lantas berlari menuju rumah. Sedangkan Terry mendorong masuk motornya ke garasi saat Shelly sudah memindahkan mobilnya sedikit maju.
Dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Terry terus memperhatikannya.
"Apa aku salah bicara? atau.." Terry terhenyak dengan dugaan pemikirannya.