
Axel menggendong Shelly hingga lobby depan ruangan keamanan berada. Dan Tiara masih setia membuntuti mereka.
"Oiya, tadi pagi nenek bilang kangen jalan jalan sama si Albert. Bawa jalan jalan napa, jan hanimun mulu" tukas Axel yang menurunkan Shelly dari punggungnya.
"Iya, ntar gue bawa jalan jalan. Lagian besok jadwal kontrol nenek. Sekalian aja nganterin kontrol" jawab Shelly dan diangguki Axel yang kemudian pamit dengan melambaikan tangan setelah dicium paksa oleh Shelly di pipinya.
Bukan tanpa sebab Shelly melakukan itu. Mata jelalatan janda lapar sedari tadi melirik kearah adik super tampannya itu. Mana Shelly rela membiarkan sang adik terjerat para jendong lapar yang pasti mainannya langsung ngeranjang.
"Albert? kayak pernah denger nama itu. Ah iya, besok juga jadwal mami kontrol. Kenapa belum nelfon ya? biasanya sehari sebelumnya udah ribut minta anter" monolog Tiara.
tok
tok
"Masuk" titah seseorang yang berada didalam ruang keamanan setelah Shelly mengetuk.
Shelly pun masuk, namun belum sepenuhnya dia memasuki ruangan, suara bariton seorang pria paruh baya mengejutkannya.
"Nih dia pelakunya, lihat kuku dan matanya" tuding Baskoro saat Shelly baru saja menginjakkan kaki masuk ke ruangan itu.
Shelly mengerutkan dahi. Lantas melihat kuku tangannya.
"Lihat, kukunya di cat hitam. Sama kan dengan rekaman?" lanjut Baskoro.
"Apaan si bapak main tuduh segala. Emang yang lain kukunya gak ada yang di cat item?" cebik Shelly menunjuk beberapa pemagang lain dengan dagunya yang mana kuku mereka juga di cat hitam sama sepertinya.
Baskoro gelagapan. Sedangkan Shelly dan Sabastian tersenyum miring.
"Mata.. ha.. mata tajam itu.. lihat.." lanjut Baskoro mengalihkan perhatian para penghuni ruang karyawan itu.
Namun seketika nyalinya kembali menciut kala Shelly memelototkan mata sambil bertanya dengan nada rendah.
"Ada apa dengan mata saya?" (omegat othor jadi inget scene sinetron dengan dialog 'tatap mata oojaaan😵👁️👁️)
Baskoro tak melanjutkan kalimatnya kala Shelly melakukan hal itu. Dijamin gak bisa tidur malem ini.
"Apa tuan menuduh saya yang berada dalam rekaman itu?" lanjut Shelly seraya perlahan maju selangkah demi selangkah dengan tatapan mengunci nan tajam.
__ADS_1
Para pemagang tampak tersiksa dan kesulitan menahan tawanya. Ingin rasanya mereka segera keluar ruangan untuk melepaskan tawa mereka.
"Eng.. enggak.. k kata siapa? ng.. k kamu b boleh p pergi.." ucap gagap Baskoro yang sudah terpojok karena terus melangkah mundur.
"Dari tadi kek.. ganggu orang pacaran aja" gertak Shelly sembari menampar lengan atas Baskoro yang seketika terperanjat karena terkejut disebabkan suara Shelly yang tiba tiba memekik.
"Bubar.. bubarr.." giring Shelly pada para pemagang yang seketika melesat keluar dan langsung memuntahkan tawa mereka bersamaan.
Jangan tanya Sabastian yang juga ikut tertawa sambil menggelengkan kepala karena tingkah calon menantunya.
Sedangkan Baskoro, dia tengah berkeringat hebat dengan tatapan kosong. Tak percaya dengan apa yang dialaminya baru saja.
Intimidasi yang dia lakukan pada gadis itu berbalik padanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia bahkan tak sadar tengah jadi bahan tertawaan sang mantan calon besan beserta para pemagang.
"Shelly.. dasar gila lo.. pemilik perusahaan gajah lo tepuk kek nyamuk hahahaha... ucap salah seorang pemagang pria yang menahan tawa sedari tadi dan kini langsung melesat kearah toilet karena tak kuasa menahan tawa hingga hampir mengompol.
"Lagian, sembarangan amat nuduh nuduh gue tanpa nyali" ucap enteng Shelly yang lantas melangkah kembali ke ruangannya.
"Berarti itu beneran elo?" tanya pemagang lain masih dengan tawanya.
Shelly hanya mengedikkan bahu dari kejauhan. Dengan santainya melenggang kearah lift.
"Pah.. mama kepengen banget punya mantu kek Shelly. Pepet yuk pah" pinta Tiara menghiba. Dia merasa terhibur kala memperhatikan tingkah Shelly. Tiara seperti anak kecil yang mendapati sebuah mainan baru yang menarik minatnya.
"Iya iya. Mamah tenang aja, nanti papah pepet terus"
plakk
Jawaban Sabastian sukses membuatnya mendapat tamparan di lengannya.
Tiara yang penasaran dengan tempat tinggal Shelly pun memutuskan untuk menunggu jam pulang kantor di ruangan Sabastian.
Waktu berjalan terasa lambat. Tiara tak sabar untuk segera mengetahui tempat tinggal Shelly agar suatu saat dia bisa memberinya kejutan.
"Loh pah, itu kan mobil.. mobil mami bukan sih? plat nomernya juga.." tanya Tiara sembari menunjuk pada mobil yang baru keluar dari basement dan dikendarai Shelly.
"Tapi suara knalpotnya.. nggak mami banget. Apa iya dijual? Tapi.. masa mahasiswi bisa beli mobil antik?" Sabastian menanggapi.
__ADS_1
Tak jauh dari gerbang perkantoran, mobil yang Shelly kendarai berhenti di sebuah cafe.
"Loh pah.. itu kan.."
"Ngapain Sean nongkrong disitu?" gumam Sababstian melanjutkan tebakan Tiara.
"Kayaknya dia emang janjian deh, pah. Mereka nyembunyiin hubungan mereka" Tiara menganalisa.
"Tapi masuk akal juga sih ma. Sean kayaknya gak mau ada kesan masukin orang ke perusahaan, mungkin takut pegawai bersikap munafik. Mama bayangin aja sama dia yang tiba tiba masuk ke perusahaan tanpa bilang ke papah, terus pura pura gak kenal gitu sama papah, mungkin kasus Shelly juga gitu mah" tambah Sabastian memastikan dugaannya.
"Iya, ya. Tapi baguslah kalo gitu. Mereka jadi bisa kerja secara profesional, bener ga? ya ampun anak mamah udah dewasa, udah bisa bikin enak anak gadis" celetuk Tiara.
"Mama ini gimana sih. Masa anaknya berbuat zina didukung sih? kita ikut nanggung dosa nya loh" ujar Sabastian mengingatkan.
"Papah kalo lagi bijak gitu suka pengen ngelonin deh" goda Tiara.
Selang beberapa waktu, mereka mengenali jalur mobil itu mengarah.
"Pah, apa Sean mau bawa Shelly ke tempat mami?" tanya Tiara terheran.
"Gawat mah, kalo mami dikenalin cewek modelan Shelly" ungkap Sabastian yang mengetahui persyaratan yang diberikan sang ibunda mengenai calon pasangan keluarga besar mereka.
"Cepetan pah, hadang mereka. Aduuuh.. jangan sampe Shelly diapa apain sama mami.. mamah gak rela, pah" gusar Tiara yang tak bisa membayangkan bagaimana Rosie akan menghina dan mengusir Shelly pergi karena tak sederajat dengan mereka.
Sabastian setuju dengan pendapat sang istri. Dia lantas sedikit mempercepat laju mobilnya.
Terlambat..
Shelly tengah berlari keluar dari rumah dengan Rosie yang mengejar dengan tergopoh melempar apapun yang ia bisa raih kearah Shelly sembari mengacungkan tongkat saktinya.
"Gawat pah.. bakalan ada gonjang ganjing.." seru Tiara panik.
"Mi.. mamii.. stop mi.. jangan emosi, tenang dulu ya mi.." seru Tiara yang langsung melompat kala mobil baru saja berhenti tanpa menghiraukan panggilan suaminya karena panik melihat Shelly yang tengah dilempari segala sesuatu oleh sang ibu mertua yang ia anggap kejam.
"Lepaskan.. sini kamu bocah kurang ajar, otak kamu perlu nenek cuci, ngasih beginian sama orang tua, minta digetok tujuh turunan kamu ya" semprot Rosie yang dibalas gelakan tawa Shelly yang sedikit menjauh sembari memeletkan lidah.
"Ayo nek, olah raga jangan diem aja, nanti malem juga olah raga biar semangat hahaha..." kelakar Shelly terbahak membuat kening kedua orang tua Sean mengerutkan dahi.
__ADS_1
Tiara yang tengah memegang Rosie melihat pada apa yang tengah Rosie genggam dan berhasil membuatnya mengangakan mulut.
Sebuah gaun keramat tembus pandang berwarna merah menyala.