Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Protes


__ADS_3

"Nyonya, sebaiknya anda sering membawanya jalan jalan agar semua komponennya tidak berkarat" saran sang montir langganan Rosie yang sudah bekerja padanya selama 15 tahun.


"Aku sudah terlalu tua untuk-" ucapan Rosie terpotong karena disela Shelly.


"Ayo kita coba, nek. Jangan sampe peninggalan bersejarah kakek mubazir tak bermanfaat" ajak Shelly sembari mendorong tubuh ringkih itu masuk kedalamnya.


"Shelly, makan siangnya gimana?" teriak Axel yang tadinya hendak memanggil kedua wanita berbeda gender itu untuk makan karena hidangan sudah siap.


"Bentar aja, cuma muter muter sini kok" balas Shelly berteriak.


"Here we go, granny. Fasten your seat belt please" (ayo nenek, pasang sabuk pengamanmu) ucap Shelly berpesan pada Rosie kala Shelly duduk di kursi kemudi.


Namun pesan yang disampaikan Shelly membuat bulu kuduk Rosie merinding. Mengingat kecelakaan beruntun yang disebabkan gadis disebelahnya ini.


bremm


breeeeemmmm


Shelly membleyer beberapa kali mobil otewe klasik itu hanya untuk mendengarkan suara merdu yang dihasilkan mesin yang sudah tidak ori tersebut.


Shelly menancapkan gas perlahan, dia tahu bagaimana membawa orang tua dalam mobil. Apalagi saat melihat keringat bermunculan di pelipis wanita tua itu.


Shelly tertawa sambil membawa mobil itu berputar mengelilingi mansion Rosie.


"Apa Shelly boleh memakainya untuk kuliah nek?" pintanya pada Rosie yang tengah mencengkeram erat sabuk pengaman yang melilit tubuh ringkihnya.


"Pakailah selama kamu tidak menyebabkan kecelakaan lagi" Rosie memberi izin.


"Yess.. bolehkah Shelly memodifikasinya, nek?" pintanya lagi.


"Selama kamu tidak merubah tampilan fisiknya, lakukan saja. Jangan sampai pulang pulang membawa kaleng kerupuk" jawab Rosie lagi sambil mengetatkan pegangannya. Pasalnya Shelly sedikit menambah kecepatan laju mobilnya.


"Shellyyy...." teriak Rosie kala Shelly membuat mobil itu benar benar berputar ditempat. Asap mengepul dari ban yang bergesekan dengan tanah disertai decitan ban dan tawa nyaring si bangor Shelly menjahili nenek mertuanya.

__ADS_1


"hah hah hah... dasar anak nakal. Kamu ingin membuat jantung nenek berhenti mendadak" gerutu Rosie saat keluar dari mobil dan berjalan menjauh dengan lutut bergetar.


Terdengar kikikan dari mulut Shelly. Dia memang terkenal jahil dikalangan teman temannya juga di keluarganya. Namun itulah yang membuat orang orang yang mengenalnya selalu merindukan kejahilan seorang Shelly.


Sean melihat tingkah wanita yang sudah resmi menjadi istrinya, meski bersifat kontrak tak ia pungkiri jika dia mulai tertarik mengenal lebih jauh tentang wanita itu.


Tawa yang ia tahan kala melihat sang nenek berjalan kearah rumah dengan tergopoh gopoh disertai gerutuan yang tak berhenti dari mulutnya. Namun tawanya seketika menghilang dikarenakan aksi sang istri yang tiba tiba melepas jaket jeansnya kala pintu mobil ia buka.


Sejak kapan dia memakai pakaian seminim itu. Tanya Sean dalam hati dengan wajah memerah juga jantung berdegup kencang.



Namun tak ada gestur menggoda darinya, seperti sudah biasa wanita itu bersikap cuek dan berekspresi garang.


"Sialan. Babang montir jadi salting kan?" gerutu Sean langsung melesat kearah sang istri yang berhasil membuatnya keder dengan tingkah absurdnya. Lihat saja si montir yang usianya sudah berkepala 4 itu terlihat berkali kali menelan saliva.


"Kamu jangan obral bodi sembarangan bisa gak sih. Ngundang kejahatan tau gak" ketus Sean yang kembali memakaikan jaket jeans ke tubuh Shelly.


"Apaan sih. Panas tau. Mana AC nya gak jalan lagi" keluh Shelly namun menurut memakai kembali jaket jeans yang sobek di beberapa bagian.


Shelly tersenyum miring kala mendapati sang suami tengah gugup dalam mengancingkan jaketnya. Dia sendiripun merasakan sentuhan yang tak sengaja Sean lakukan, namun seolah kembali tak sengaja padahal sebaliknya, Sean kembali melakukannya.


Shelly sendiri bukannya tidak tahu mengenai hak dan kewajiban suami dan istri, namun dia ingin menguji suami kontraknya karena mereka sudah membuat kesepakatan, apakah suaminya ini menepati janji atau hanya dimulut semata.


Sean lalu menggandeng tangan Shelly dan menuntunnya masuk kedalam rumah membuat kening Shelly bertaut.


"Ngapain pake pegangan segala" Shelly mencoba melepaskan tautan tangannya. Namun Sean lebih mengeratkan pegangannya.


"Udaah jan protes mulu. Nanti kamu nyasar lagi" tukas Sean beralasan agar dia bisa lebih lama dan sering melakukan kontak fisik dengan Shelly.


Bukannya ingin terburu buru, hanya saja tingkah wanita ini membuatnya ingin lebih menunjukan kepemilikan pada lelaki disekitar wanita ini.


Itu karena si babang montir kedapatan beberapa kali mencuri pandang pada istri kontraknya.

__ADS_1


Sean sendiri tak tahu dari mana jiwa possesifnya datang. Karena selama ini dia tak pernah berpacaran bahkan tak mau dekat dengan yang namanya perempuan. Dan sudah pasti Shelly merupakan wanita pertama yang bisa dekat dengannya.


"Nenek, apa nenek baik baik saja?" tanya Shelly saat sudah duduk di kursi dengan berbagai hidangan tertata indah diatas meja makan yang cukup luas itu.


"Menurutmu?" jawab Rosie dengan ketus. Dia masih ingat saat Shelly mengacak ngacak jantungnya tadi.


Shelly terkikik dengan delikan mata Rosie. Dia senang menjahili nenek mertuanya. Itu tanda kalau dia mulai menyayanginya.


"Ya ampun, nek. Jangan marah marah gitu. Nanti umurnya pendek loh. Kan nenek belum dapet cicit dari om Sean" goda Shelly membuat Sean tersedak air minumnya.


uhuk


uhuk


Bahkan sedikit air menyembur dari mulutnya.


"Sialan ni cewek. Minta di gas nanti malem" gerutunya dalam hati.


"Om, katamu?" heran Rosie dengan panggilan Shelly untuk suaminya yang mana adalah cucunya.


Shelly mengangguk cepat sembari mengunyah selada.


"Kalian sudah menikah, seharusnya kamu panggil suamimu dengan sebutan yang lebih mesra.


Mas, abang, sayang, ay.. lah ini kok 'om' emang kamu lebih seneng sama om om?" tukas Rosie.


"Lah emang udah om om kan?" jawab polos Shelly membuat Sean mengetatkan rahangnya dengan kesal.


"Kamu itu kalo dibilangin, kok ngeyel sih. Kalo manggil om, nanti dikira kamu masih single, parahnya kamu dikira jadi sugar sugar-an om om" gerutu Rosie.


Sungguh baru kali ini dia berdebat panjang lebar dengan seseorang. Terlebih yang usianya jauh dibawahnya.


Rosie jadi berfikir bagaimana sikapnya dikeluarganya sendiri.

__ADS_1


Anehnya, berdebat dengan gadis ini menambah ramai suasana hatinya meski yang dia tampakkan adalah kekesalan.


Terbukti Sean sang cucu hanya bisa diam tak ikut berkomentar. Karena cucu semata wayangnya memang dididik untuk tak membantah orang tua. Meski terlihat wajah yang menyimpan rasa kesal dan ingin ikut mengajukan protes.


__ADS_2