
Sean membawa Shelly masuk ke ruangannya.
Dia berjalan di depan melewati beberapa karyawan yang menunduk hormat padanya saat berpapasan.
Sean tampaknya orang yang dingin dan jutek karena tak tampak senyum pada mereka yang menyapanya dengan hormat.
Shelly mengangguk anggukan kepala karena salut dengan sikap profesional sang suami. Padahal ada yang terang terangan tersenyum manis saat menyapa dengan kancing kemeja dibuka lebih kebawah agar celah bukit nan montok itu terlihat siapapun yang menatapnya saat membungkuk.
Namun tak ada pergerakan sedikitpun dari mata sang suami untuk meliriknya.
Tentu saja karena dia sudah punya bukit sendiri untuk dijelajahi. Pikir Shelly sambil terkikik.
Sean menolehnya sekilas lalu kembali fokus pada jalannya di depan.
"Tolong tutup pintunya" titah Sean yang sudah berjalan hingga meja kerjanya sambil menata dokumen diatasnya.
"Baik, pak" jawab Shelly yang langsung berbalik dan menutup pintu.
Shelly berbalik namun dia langsung memekik karena terkejut akan serangan tiba tiba Sean yang entah bagaimana caranya dari meja ke pintu dengan cepatnya langsung menyergap Shelly.
Menjelajah mulutnya yang ia rindukan seminggu ini. Tak lupa anggota tubuh lain juga ikut menjelajah.
Shelly tak kuasa menolaknya karena diapun sama menginginkannya kala berdekatan terlebih hanya berdua dalam ruangan.
"Kak.. " sela Shelly dalam erangannya.
"Hn.." jawab singkat Sean yang tak mau membuang waktu sedetikpun untuk mencicipi apa yang bisa ia cicipi dari Shelly.
"Kita tiap hari juga dirumah bisa kan.. aahhh.." nego Shelly sambil menikmati setiap sentuhannya.
"Disini lebih menantang" jawab Sean yang menggila.
Shelly benar benar dibuat lemas tak berdaya.
tok
tok
Suara ketukan pintu membuat Sean mengutuk si pengetuk.
__ADS_1
Klek
"Maaf, pak Sean. Ada tamu, katanya ibu anda" lapor sekertaris Sean yang mengetuk dan langsung masuk.
Shelly tengah menyalin catatan rapat yang ditulis notulen rapat sedangkan Sean tengah mengetik sesuatu pada keyboard laptopnya.
"Baiklah, persilahkan masuk" titah Sean tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Sang sekertaris mengangguk dan tak mencurigai mereka yang memang terlihat wajar.
"Fuhh... dari mana kakak tau kalo ada yang bakalan dateng?" bisik Shelly kesal karena hampir saja kepergok berbuat mesum dengan sang manajer.
Sean hanya terkekeh. Tantangan adrenalin yang sangat membuatnya bersemangat.
"Sean anakku.. apa kabar kamu, nak. cup" sapa sang mama yang langsung mengecup pipi Sean.
Sean tersenyum dengan sang mama yang selalu memanjakannya.
"Baik, ma. Sean sehat kok. Mama gimana, migrain nya gak kambuh lagi kan?" balas Sean dengan sayang.
Shelly hanya bisa terdiam dan kaku.
"Pak, saya lanjutkan di meja saya saja" Shelly memilih melarikan diri dari situasi membagongkan itu. Dia belum siap diperkenalkan dan menyandang status menantu seseorang.
Berbeda dengan Rosie sang nenek mertua, Shelly bisa meraih hatinya dengan mudah.
Sean mengerti akan kegundahan sang istri. Dia juga ingat jika pernikahan mereka juga belum diketahui kedua orang tuanya.
"Boleh. Nanti kamu kembalikan setengah jam lagi karena saya juga perlu data itu" ucap Sean tegas seolah tak ada hubungan apapun diantara mereka.
"Baik, pak. Saya pamit. Mari nyonya" pamit Shelly dengan ramah. Tak tampak mimik menggoda darinya karena Shelly jagonya ekspresi jutek dan galak pada lawan jenis dan sopan pada yang lebih tua darinya.
"Cantik. Dia pemagang?" mama Sean mengomentari penampilan Shelly yang cantik dan mengenakan pakaian hitam dan putih khas pemagang.
"Iya, dia dari universitas U. Mama ada apa kesini tiba tiba?" tanya Sean mengalihkan perhatian sang mama yang tampak berfikir.
"Ah iya, mama sampe lupa. Abis gadis itu cantik banget, mama sampe terpesona. Kamu gak terpesona?" celetuk sang mama menggoda Sean.
"Hhh.. mamaa.. itu gak ngejawab pertanyaan Sean" jawab Sean seraya menghela nafas. Mamanya memang menyuruhnya untuk segera menikah mengingat umurnya yang hampir menginjak kepala 3.
__ADS_1
"Kamu itu kalo bahas masalah cewek pasti aja ngeles. Sebenernya kamu itu normal gak sih. Jangan jangan anak tunggal mama ini malah suka yang batangan" gerutu mama mengerucutkan bibirnya.
"Mamaa.. jangan sompral dong ngomongnya. Sean belum nemu aja yang baik dan cocok buat Sean. Bukan cuma cantik doang, maah.." Sean lantas meraih tangan mamanya dan mengecupnya sayang. Membuat sang mama tersenyum haru karena anak semata wayangnya ini tidak manja dan sombong. Dia juga sangat menyayangi kedua orang tuanya karena tak pernah membantah mereka sekesal apapun.
"Nanti juga Sean bakal nemuin mama sama papa buat Sean kenalin wanita yang pantas mendampingi Sean" lanjutnya.
"Gak perlu" jawab sang mama langsung memotong bujukan Sean.
"Karena mama sudah punya calon sendiri buat kamu. Dan mama yakin kamu juga pasti suka karena dia anak yang baik dan manis. Dan satu hal yang paling penting, dia berasal dari kalangan kita" ucap mama antusias.
Sean mengangakan mulutnya.
"Gawat. Gimana nasib teletubies ku?" gumam Sean panik dalam hati.
"Oh iya, kamu masih tinggal di apartemen kan? sore ini mama akan datang bawa dia. Gak usah nyiapin apa apa. Pokoknya kamu siap siap aja" tegas sang mama.
Sean membuka mulutnya untuk menjawab, namun ia katupkan lagi karena tak tahu harus memberi alasan apa.
"Baiklah, kalau begitu Sean mau punya istri 2. Yang satu pilihan mama, dan satu lagi pilihan Sean. Deal?" jawab Sean ngasal.
" Itu lebih bagus. Jadi lebih rame dirumah. Apalagi kalo mereka sampe berantem kan seru. Mama jadi gak perlu nonton sinetron" timpal mama lebih ngasal membuat Sean menjatuhkan kepalanya di meja.
Seandainya ada pintu menuju segala arah milik doremon, sudah pasti dia akan langsung masuk kedalamnya dan tak akan kembali.
"Jangan sore ini, pliis ma" pinta Sean memelas.
"Kenapa? mama udah ajak Cindy kesini. Dia lagi nunggu di cafe depan. Emang kamu mau kemana?" sergah mama.
"Sean harus ngasih pengertian sama pacar Sean dong. Gak lucu kan Sean pacaran sama siapa, tiba tiba nikah sama siapa. Pasti sakit hati kan?" kilah Sean membungkam sang mama.
"P..pacar? k.. kamu.. punya pacar?" tanyanya terbata.
"Udah lah maa.. masa anak mama yang ganteng ini gak laku di pasaran sih?" jawab Sean dengan mantap. Akhirnya dia memutuskan akan mengenalkan Shelly pada sang mama, namun sebagai pacar.
Pelan pelan saja dulu pikirnya, sembari seiring waktu mereka saling mengenal pribadi masing masing dan tumbuh rasa sayang antara mereka seperti Rosie sang nenek yang jatuh hati pada Shelly se jatuh jatuhnya.
"Cewek apa cowok?" mama bertanya menuntaskan rasa penasarannya membuat Sean menenggelamkan kepalanya di meja.
...ADA YANG PUNYA GODAM?...
__ADS_1
...⚒️🤯🔫...