
brakk
Pintu ruangan Sabastian dibuka paksa oleh Baskoro yang berpenampilan acak acakan. Jangan lupa dengan beberapa memar di wajah dan mata sebelah kirinya, juga sedikit luka pada pelipis.
Tiara menahan tawanya karena telah melihat kronologi melalui rekaman CCTV.
"Tian.. aku mau tanggung jawabmu. Lihat apa yang kudapat dari tingkat keamanan perusahaanmu yang rendah" pekiknya dengan lantang.
"Kamu berani membentak suamiku?" Tiara yang maju membela sang suami, tak kalah lantangnya. Bak singa betina yang melindungi anak, dia rela mempertaruhkan nyawanya.
Baskoro gelagapan. Tak mungkin juga dia berhadapan dengan wanita. Bisa buruk citranya dimata dunia.
"Sayang, sudahlah. Ini masalah papa" Sabastian menenangkan Tiara.
"Tapi gak gitu juga caranya, pah. Apa dia tidak tahu tata krama? Perilaku seperti ini mana pantas disebut seorang konglomerat. Pantasnya seperti orang orang di pasar" pekik Tiara masih menampilkan emosinya.
"Untung kita gak jadi besanan. Gak nyangka buku yang bagus isinya kutu busuk semua" sarkas Tiara mengeluarkan uneg uneg nya
"Sshhh... udah.. mending mama nyari Shelly gih" bujuk Sabastian membuat Tiara seketika merubah ekspresinya.
"Oh iya. Papa benar. Mumpung mama ada disini. Mama pergi dulu pah. cup" Tiara mengecup kilat bibir Sabastian lalu melangkah pergi sambil mengibaskan rambut tak panjangnya pada Baskoro.
"Jadi.. kenapa saya yang harus tanggung jawab?" lanjut Sabastian setelah memastikan sang istri keluar dari ruangan.
"Saya diserang tiba tiba oleh seorang wanita di basement. Lihat, apa yang dia lakukan" tunjuk Baskoro pada wajah dan setelan mahal yang tampak koyak di beberapa bagian.
"Seorang wanita yang melakukannya? seharusnya kamu bertanya pada dirimu sendiri. Apa kamu telah menyinggungnya, atau telah melecehkannya?" timpal Sabastian.
"Kurang ajar. Bisa bisanya kamu menuduhku seperti itu"sanggah Baskoro.
"Lalu apa hubungannya denganku jika perilaku bejatmu sendiri yang membuatmu seperti ini" cebik Sabastian.
"Sudah kubilang aku tak melakukan apapun padanya. Sudahlah, aku minta rekaman cctv. Biar keamanan bisa melihat siapa yang memulai" pungkas Baskoro yang tak mau panjang lebar berseteru dengan mantan calon besannya ini.
Sabastian lantas mengcopy file rekaman kedalam sebuah flash disk, lalu membawanya turut serta ke ruang keamanan agar dia juga bisa mendengar langsung penjelasan Baskoro disesuaikan dengan rekaman.
__ADS_1
"Lihat? coba kamu mundurkan sedikit" titah Baskoro pada sekuriti yang mengoperasikan komputer untuk memperjelas tampilan gambar.
Kondisi basement yang cukup gelap di siang hari tak bisa menampilkan sosok seseorang berpakaian hitam yang bergerak dibelakang mobil Baskoro dari arah belakang cctv.
Sosok itu lebih terlihat seperti kelebatan bayangan hitam.
"Stop" titah Baskoro.
"Zoom in" lanjutnya.
"Lihat, kuku jari jarinya berkutek hitam, lalu... mata itu.. aku mengenali mata tajam itu" cerocos Baskoro tampak meyakinkan dengan mendeskripsikan tampilan yang kurang jelas sebenarnya.
Memang Sabastian akui jika sekelebat bayangan dengan mata tajam itu mirip dengan seseorang yang baru dia dan istrinya bicarakan.
"Pemagang itu. Aku minta kamu mengumpulkan para pemagang. Aku bisa memastikan jika bisa melihatnya langsung" tegasnya antusias sambil menutup sebelah matanya dengan pengompres.
Sabastian menghela nafas. Untuk sekarang, terpaksa dia ikuti kemauan mantan calon besannya. Sambil melihat bagaimana cara Shelly melepaskan diri dari jeratan licik playboy tua ini.
"Permisi.. ada yang namanya Shelly gak?" tanya Tiara saat masuk ke ruangan tempat divisi operasional berada.
"Shelly kalau gak salah lagi ke bawah dulu, nyonya. Katanya ada tamu" jawab salah satu staff yang cukup dekat dengan Shelly dengan ramah.
"Ah, biar saya kebawah saja sekalian pulang" tukas Tiara yang langsung melangkah kembali kearah lift. Semoga Shelly masih dilantai bawah, harapnya.
"Itu.. bukannya istri presdir ya?" celetuk staff lain yang cukup mengenali wajah sang nyonya presdir.
"Eh iya bener. Pantesan perasaan kek yang gak asing wajahnya. Tapi ada apa ya, nyonya presdir nyariin Shelly?" tukas staff yang tadi menghadapi Tiara.
"Halah.. palingan juga mau ngelabrak. Cewek badung kek gitu pasti banyak bikin masalah" sarkas Meli Setiawati Yang Tidak Setia dari bilik nya.
Semua kembali ke kubikelnya. Tak ada yang mau meladeninya.
Meli Setiawati Yang Tidak Setia merasa bosan karena tak ada lawan sepadan dengannya.
"Hhh... kalian emang gak seru" lanjutnya menggerutu.
__ADS_1
Meli Setiawati Yang Tidak Setia lantas memutuskan untuk turun kebawah, mencari lawan sepadan yang dia rindukan. Meski sudah mendapat surat peringatan dari HRD, tetap dia seolah tak bisa hidup tanpa mencari gara gara dengan si gadis badung.
Di lantai bawah, semua yang mengenal Shelly tengah berlomba menempelkan tangannya di kaca besar ruang lobby yang mengarah ke luar.
Pasalnya gadis yang mewarnai hari hari di kantor itu tengah bercengkerama dengan seorang lelaki blasteran nan tampan seusianya.
"Axel.. Axel.. Axel.. aaaa... you're here, I miss you sou much, muah muah muah..." pekik Shelly yang menghambur memeluk Axel lantas menciumi wajahnya seperti biasa.
"Shelly.. jijik tau.. haha.. dasar bau.." Axel terkikik dengan tingkah kembaran beda rahim yang sangat dia rindukan. Padahal setiap sore mereka selalu bertemu di mansion Rosie. Namun seperti biasa, Shelly selalu menghabiskan banyak waktunya bersama Sean. Dimana? Kalian pikirlah sendili😗
"Enak aja ngatain gue bau" sanggah Shelly sambil menggasak rambut Axel dengan sebelah lengan memiting lehernya.
Aktifitas intim kedua saudara itu tak luput dari tatapan para pengintip dibalik jendela termasuk Tiara yang merasa tak suka jika Shelly sedekat itu dengan laki laki lain.
"Dasar sundal. Lihat siapa sundal teriak sundal disini" gumam Meli Setiawati Yang Tidak Setia disebelah Tiara.
Tiara hanya meliriknya sekilas. Tentu saja dia tahu siapa wanita dengan mulut pedas disampingnya ini.
Tiara tak mau terpancing lebih dulu. Dia bisa menanyakannya langsung pada gadis itu.
Shelly tampak menggiring Axel ke kantin dengan melompat ke punggungnya dan memaksa Axel melangkah menuju arah yang ditunjuknya.
"Pak Kimung udah makan belom?" teriaknya pada sekuriti yang juga tengah memperhatikan interaksi pemagang favoritnya.
"Ah nanti saja neng" jawab Kimung menampakkan senyum kaku.
Di kantin, Shelly memesan menu favorit mereka, hanya 1 porsi berdua juga jus yang hanya ia pesan 1 gelas berdua.
Shelly asik menggoda Axel sambil mencubiti pipi Axel dengan gemas.
Axel hanya tertawa dan meringis dengan tingkah Shelly. Sudah lama mereka tak menghabiskan waktu berdua seperti ini.
Sebelah tangan Shelly tak lepas merangkul leher Axel, membuat para penghuni kafetaria saling berbisik.
"Well well.. enak bener pemagang sekarang bisa bebas seenaknya makan makan sama pacar di jam kerja. Gak modal amat ngajak makan di kantin" sarkas Meli Setiawati Yang Tidak Setia tiba tiba berdiri didepan kedua saudara itu sambil bersidekap.
__ADS_1
Shelly meliriknya sekilas lalu mengacuhkannya dan melanjutkan menyuap makanan itu lalu menyuapi Axel yang tengah bermain mobile game.
"Kalo gak pengen dapet SP 2 minggir lo, gak usah nyari gara gara deh" ucap tenang Shelly tanpa melihat padanya.