Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Papa Suka


__ADS_3

tok


tok


"Tuan Presdir, maaf ada-"


"Sabastian.. saya mau penjelasan kamu" teriak seorang lelaki paruh baya penuh amarah. Lelaki yang seumuran dengan Sabastian langsung masuk memotong laporan sang sekertaris kala dia memaksa bertemu namun belum dipersilahkan karena masih ada para pemagang yang tengah mendapat arahan dari sang pemimpin.


"Baskoro, apa yang kamu lakukan?" tanya Sabastian yang terkejut dengan kedatangan relasi bisnisnya yang mana adalah mantan calon besannya.


"Saya yang harusnya bertanya, apa yang kamu lakukan pada putriku?" hardik Baskoro dengan sorot mata nyalang, membuat para pemagang mengerutkan kening, tak terkecuali Shelly.


"Apa presdir ini menghamili anak orang" pikir sebagian dari mereka.


Sabastian tahu arti tatapan itu. Tatapan salah paham.


"Kalian, tunggu saya di ruang meeting" Sabastian membubarkan para pemagang agar tak mendengar percakapan yang telah membuat mereka salah paham.


Merekapun membubarkan diri dan masuk ke ruang meeting. Ruangan yang sedari awal sudah Sabastian siapkan untuk mengumpulkan para pemagang demi mengetahui tentang calon menantu yang di agungkan sang istri.


"Masalah putrimu, saya minta maaf. Semua atas pertimbangan istriku" lanjut Sabastian setelah semua keluar.


"Kalian ini, seenaknya mempermainkan kami. Apa yang harus kami katakan pada kolega kami? Saya tidak mau tahu, perjodohan ini harus diteruskan. Saya tidak mau putri saya dikatai dicampakkan. Apa yang kurang dari putriku?" Baskoro berkata dengan menggebu.


"Tapi saat kami meminta putrimu, kami tidak tahu jika putraku sudah punya kekasih dan dia memang berniat mengenalkannya kepada kami. Salahkan kami yang terlalu tergesa meminta putrimu tanpa konfirmasi dulu dengan putra kami" timpal Sabastian dengan tenang.


"Saya tidak perduli. Pokoknya putramu harus jadi menikahi putriku. Andai kamu tahu kalau Cindy putriku menangis sedari malam. Dia bahkan melewatkan kelas kecantikannya. Hidupnya seolah hancur. Bayangkan jika itu terjadi pada putramu" ucap sendu Baskoro kala membayangkan penampilan sang putri yang tak biasa.


"Lalu apa kamu mau jika pernikahan ini membuat putrimu lebih menderita karena putraku mencintai gadis lain?" tukas Sabastian.


"Aku sangat mengenal putraku. Dan dia tak akan melirik wanita selain minatnya" lanjut Sabastian.


"Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Lagi pula, jika sudah menikah bukankah sudah kewajiban suami menafkahi lahir dan bathin istrinya?" tukas Baskoro yang tak mau dibantah.


"Bagaimana jika putraku memilih menceraikannya karena tak mau menyentuhnya dan putrimu menjadi seorang janda diusia muda? Sudahlah, Bas. Tidak baik memaksakan kehendak. Menikahkan mereka atau tidak, tetap putrimu yang dirugikan" bujuk Sabastian.


"Saya tidak mau tahu. Jika putri saya tidak bisa menikahinya, maka putramu juga tidak boleh menikah dengan siapapun" geram Baskoro.

__ADS_1


Saat Shelly dan para pemagang keluar dari ruangan Presdir, dia tak menutup rapat pintunya dan sengaja duduk di kursi tunggu samping ruangan Presdir.


"Kamu, apa yang kamu lakukan disana? ayo tunggu di ruang meeting" titah Beben pada Shelly.


"Ya elah, bang. Yang mau ngasih arahannya juga masih didalem. Saya tunggu disini aja. Di dalem pengap, bisa mati keabisan oksigen saya. Abang mau tanggung jawab?" timpal Shelly cuek sembari meraih majalah bisnis yang tergeletak di meja sang asisten.


"Minjem yak" tambah Shelly membuat Beben gelagapan dan berkeringat. Dia lantas mengambil seribu langkah menjauh dari wilayah itu. Tak ada gurat ketakutan atau rasa malu dari Shelly karena menginjak wilayah orang lain.


Shelly tersentak lalu tersenyum miring kala membuka majalah bisnis itu.


"ceka ceka cekaaa... isinya beginian ternyata" celetuk Shelly kala melihat gambar tak senonoh yang menampilkan bagian bagian yang mirip dengan anggota tubuhnya yang disukai sang suami.


"Saya tidak mau tahu. Jika putri saya tidak bisa menikahinya, maka putramu juga tidak boleh menikah dengan siapapun" terdengar lagi teriakan Baskoro yang membuat Shelly jengah.


"Enak aja milik gue mo di eksploitasi. Mesti dikasih peringatan ni bandot tua" geram Shelly bergumam yang lantas bangkit dan mengetuk pintu.


tok


tok


Perselisihan itu terinterupsi oleh ketukan pintu.


"Maaf, tuan. Kami harus menunggu berapa lama? ada meeting yang harus kami hadiri" ucap Shelly seolah mewakili pemagang lain.


Sabastian cukup salut dengan keberanian Shelly. Ekspresi dinginnya cukup membuat Baskoro gelagapan yang seketika menurunkan mata nyalangnya pada Sabastian.


"Ah iya, maaf. Baiklah, kalian boleh bubar. Nanti saya kabari melalui asisten saya" jawab Sabastian ramah.


"Baik, tuan" Shelly menunduk lalu kembali mengangkat kepala seraya menatap tajam sekilas pada Baskoro. Tak ada maksud lain sebenarnya. Hanya ingin menilai karakternya saja.


Salahkan sang momy yang mewariskan sifat mengerikan nan mencekam pada tatapan mata yang mampu melelehkan seorang Sean Michael yang terkenal dingin pada lawan jenis.


"Si.. siapa gadis itu?" tanya Baskoro yang tergagap karena pengaruh tatapan Shelly.


"Dia pemagang" jawab singkat Sabastian yang memperhatikan sikap relasinya ini menjadi seolah ciut nyalinya.


"Lihat bagaimana ciutnya nyalimu, Bas. Sedari tadi saya mengeluarkan aura tegas tak membuatmu gentar. Gadis itu.. hanya dengan tatapan matanya mampu membungkam mulutmu. Hmm.. saya harus memilikinya untuk Sean" gumam Sabastian dalam hati.

__ADS_1


"Saya ingatkan sekali lagi. Jika putramu tak menikahi putriku, maka tak ada wanita yang boleh menikahi putramu" ancamnya dengan suara rendah.


Baskoro lantas pergi dengan amarah yang tertahan.


Sabastian hanya menggelengkan kepala.


Baskoro mengarah pada parkiran di basement. Tak menyadari jika seseorang diam diam mengikutinya.


tring


tring


Dering ponsel berbunyi saat dia hendak masuk ke mobil.


"Cindy?" gumamnya kala melihat nama kontak pemanggil.


"Halo sayang.." sapa nya langsung setelah menggeser tombol hijau.


"Sayang.. suaramu gak jelas.. tunggu, papi pindah lokasi dulu" ucap Baskoro yang langsung menutup kembali pintu mobilnya, lalu mencari lokasi yang bisa menangkap sinyal dengan baik.


"Tuhan baik bangeet sama gue" gumam Shelly yang lantas berjalan jongkok kearah belakang mobil Baskoro.


Dia melakukan sesuatu dibelakang sana setelah memastikan letak cctv agar kelak tak terlihat pergerakannya.


"Ini cuma peringatan aja, pak Bandot. Don't mess with me (jangan macam macam denganku)" monolog Shelly yang segera menjauh sambil tetap membungkukan tubuhnya.


"Iya sayang, kamu tenang aja. Papi sudah kasih peringatan sama Sabastian. Cuma kamu yang bisa menikah dengannya. Kamu yang tenang ya. Serahin semua sama papi" bujuk Baskoro pada putri semata wayangnya.


Di ruangan Sabastian


"Ah.. mama" seru Sabastian kala mengingat sang istri. Dia lantas mengutak atik ponselnya.


"Mah.. apa ini gadis yang mama maksud?" caption yang Sabastian ketikkan dibawah foto yang dia ambil dengan melingkari gambar Shelly.


"Ih, papa kepo. Iya, itu dia. Calon mantu mama. Keren kan?" jawab mama yang belum othor tentukan namanya.


"Papah suka, mah" jawab singkat Sabastian yang seketika membuat ponsel Sabastian berdering.

__ADS_1


Mampus kau Tian, salah ngomong sih.


Rutuk Sabastian dalam hati.


__ADS_2