
POV Author
Dalam hidup ini, tidak ada yang berjalan sesuai rencana maupun keinginan. Karena hanya Allah yang Maha Merencanakan dan Maha Menghendaki.
......................
"Shelly.. sumpah.. demi Tuhan aku gak berniat.. aku pikir dia.." Sean menyangkal dengan panik dan terbata.
Shelly menatap matanya nyalang, denga lelehan air mata, dan rahang mengetat.
"Berapa lama kalian berbuat bejat seperti ini" nada suara Shelly rendah, namun terasa dingin dan mencekam.
Kedua tangannya mengepal, menahan emosi yang bisa membunuh kedua orang tak tahu malu ini.
"Apa yang kamu maksud.. aku.. kita.. please, sayang percaya padaku, aku gak pernah hianatin kamu" Sean memohon sembari menitikan air mata. Dia tak mau kehilangan istrinya karena kesalah pahaman. Iya kah? Dia sendiri bingung karena yang ia pikir tengah meluapkan rasa rindunya pada sang istri.
Siapa tahu wujud itu berubah menjadi orang lain.
"Lalu apa yang kalian lakukan tadi bukan pengkhianatan, begitu?" Shelly meraung. Air matanya membanjiri wajah blasterannya.
"Sayang.. please dengerin dulu.. tadi.." ucapan permohonan Sean terpotong.
"Berapa kali kalian melakukannya?" tanya Shelly kembali menurunkan nada suaranya. Menahan sesak di tenggorokan.
"Tidak, sayang.. bagaimana mungkin aku melakukannya dengan orang lain. Aku hanya melakukannya denganmu" sanggah Sean.
"Dan kapan terakhir kita melakukannya?" Shelly kembali bertanya, karena melihat gelagat Evi yang tengah menyembunyikan wajahnya dibalik bantal menyisakan matanya.
__ADS_1
Namun mata yang menyipit itu meyakinkan Shelly jika wanita itu tengah tertawa.
"Apa kamu lupa kalau terakhir kita melakukannya seminggu yang lalu? Ayolah sayang.. aku minta maaf, mungkin aku terpengaruh alkohol saat meeting tadi, tapi sumpah, sayang. Aku pikir itu kamu" cerocos Sean meyakinkan Shelly yang tertegun menatapnya.
Sean perlahan mendekat, berharap kemarahan Shelly mereda dan memaafkan kekhilafannya yang belum terlanjur jauh karena pengaruh minuman haram itu.
"Minggu lalu?" tanya Shelly yang kini bibirnya bergetar.
Sean mengangguk cepat dan meraih pipi basah Shelly.
"Tapi bukankah sebulan ini aku tak bisa datang?" lanjut Shelly dengan datar.
Sean terhenyak. Matanya menatap mata basah dan merah istrinya.
Tak ada kebohongan.
"Apa maksudnya ini?" Sean bertanya datar dengan suara lirih.
Shelly meraih ponsel Sean yang tak dikunci, tergeletak diatas meja. Mencari nama kontaknya yang ternyata...
Dihapus di beberapa balasan.
Yaitu saat dia menyatakan tidak bisa datang karena mengejar tugas akhir yang ingin segera ia selesaikan.
Shelly berjalan dengan cepat kearah kamar sedangkan Sean tengah mematung.
Shelly kembali membawa ponselnya lalu melempar kearahnya.
__ADS_1
Sean menangkap ponsel Shelly lalu membandingkan dengan histori chat yang ada pada ponselnya.
Tangannya bergetar. Bagaimana mungkin ini terjadi pada pernikahannya?
Air mata berjatuhan tak tertahankan.
"Sayang.. kumohon.. jangan tinggalkan aku... " pinta Sean terisak.
"We're over" ucap Shelly dingin, lantas masuk kembali ke kamar dan membanting pintu sekencangnya.
Terdengar teriakan dan raungan pilu dari dalam sana.
Shelly meraih apapun untuk ia jadikan pelampiasan. Meluapkan amarah dan kekecewaannya.
Kecewa karena sang suami lengah dengan status teman lama yang pada kenyataannya membunuhnya perlahan.
Sean jatuh berlutut di depan pintu sembari tergugu.
"Sayang.. aku mohon.. jangan tinggalkan aku.. maafkan aku.."
Sean tergugu kala mengingat kalimat terakhir yang Shelly ucapkan padanya.
"We're over" ( kita sudah berakhir ).
Kata kata yang sangat Sean takuti.
"Kita gak boleh berakhir disini, sayang" isaknya.
__ADS_1