Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Terjebak


__ADS_3

Paramedis berlarian dan masuk ke kamar Shelly.


Sean yang tengah duduk di kursi tunggu terkesiap lalu bangkit.


"Apa.. apa yang terjadi.." bertanya dengan bingung.


Terry membawa Mario yang menangis histeris karena dipaksa keluar agar tak menghalangi paramedis melakukan tindakan.


Saat Terry membuka pintu, selain tangis histeris Mario, lengkingan suara mesin terdengar.


"Tidak... kamu gak boleh pergi, sayang.. Kamu gak boleh pergii... kamu belum memukulku.... jangan hukum aku dengan kepergianmu... banguuun..." raung Sean hendak merangsek masuk namun ditahan Terry dan Axel yang juga tergugu.


"Shellyyyyy....." Sean terus meronta sembari meneriakan namanya.


Rosie didorong oleh salah satu asisten diatas kursi rodanya dengan kecepatan yang cukup memacu adrenalin. Karena sang asisten dituntut untuk berlari.


"Minggir.. minggiir kalian semuaa.. air panas lewaaat..." pekik Rosie disepanjang lorong.


Begitu berita Shelly sudah sadarkan diri, Rosie langsung meminta para asistennya untuk bersiap dan membawanya pada cucu menantu kesayangannya.


Anehnya, didepan ruang rawat Shelly, semua orang menunggu di luar ruangan. Saling menunduk.


"Apa.. apa yang terjadi?" tanya Rosie terbata. Apa Shelly kembali drop? pikir Rosie yang bergetar tangannya.


Rosie kesal karena tak ada yang menyahut satupun.


"Ditanya tuh jawaab.." geram Rosie dengan lantang.


Membuat semua yang menunggui Shelly berjenggit terkejut.

__ADS_1


"Ya ampun, nenek. Ketularan Shelly main gebrak aja" ucap Axel mengelus dadanya.


"Abis orang tua nanya tuh dijawab. Heran deh sama kalian. Badan aja segede gaban, suaranya gak bisa ngalahin nenek" gerutu Rosie yang lantas mengintip dibalik jendela.


"Mereka siapa?" tanya Rosie menunjuk kedua orang yang tengah bercengkerama bersama Shelly di dalam ruangan.


Seperti sebuah keluarga kecil.


Seorang ayah, seorang ibu, juga seorang anak.


Ditambah ekspresi sang anak yang terlihat ceria dan selalu memeluk sang ibu setelah berceloteh.


Rosie menolehkan kepala pada cucunya yang tengah menunduk, dengan kepala disangga kedua tangannya.


Bahunya bergetar, menandakan dia tengah menangis.


Dia masuk dengan langkah tertatih.


"Shelly.. kamu sudah sadar nak.. syukurlah.." ucap syukur Rosie dengan suara serak diiringi lelehan air mata haru dan langkah yang tertatih.


Shelly menoleh ke asal suara.


"Apa beliau ibumu, mas?" tanya Shelly pada Terry dengan suara yang masih lemah.


degg


Langkah Rosie terhenti.


"Bu.." jawaban ragu ragu Terry dipotong Rosie.

__ADS_1


"Tentu saja. Kamu adalah menantu kesayanganku. Kamu membuatku takut, nak" ucap Rosie menahan sesak didada. Kasihan Sean. Rosie membatin.


"Apa ibu sehat? maaf kalo saya membuat ibu khawatir" tukas Shelly dengan bahasa yang sopan.


Rosie sedikit aneh dengan sikap Shelly yang sopan.


Kepentok terlalu kenceng nih anak. Batin Rosie.


"Tentu saja sehat. Berkat kamu, nak" jawab Rosie.


"Kenapa saya, bu?" Shelly mengernyit.


"Kamu seperti ini gara gara menyelamatkan nenek.. eh.. ibu" jawab Rosie yang sempat diralat.


Rosie lantas memperhatikan bocah yang tengah pulas berbaring di ranjang memeluk lengan Shelly.


"Dia.. anakmu?" tanya Rosie menatap Mario.


Namun pertanyaan itu ditujukan pada Terry sebenarnya.


"Iya, bu. Dia cucu ibu. Namanya Mario. Apa kita lama berjauhan?" jelas Shelly yang diakhiri pertanyaan.


"Shelly.. saya keluar dulu sebentar ya" pamit Terry yang tak tega harus berbohong lebih jauh.


Terry segera keluar untuk mengambil nafas.


Rasanya menyesakkan didalam sana.


Dia memang menginginkan wanita itu. Tapi dengan cara yang benar. Meski ini bukanlah kesalahan dan kebohongannya, dia merasa bersalah, merasa terjebak.

__ADS_1


__ADS_2