Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Lakban


__ADS_3

"Jadi.. kamu sembunyi di rumah laki laki ini?" monolog Erlan sambil memutar kartu nama Sean di tangan kanannya.


"Menarik" lanjutnya sambil tersenyum miring.


......................


"Shelly, ini air hangatmu" Sean menaruh baskom berisi air hangat diatas nakas.


"Beneran harus di lap?" Shelly yang sedang bingung dengan badannya yang lengket berjenggit kaget saat Sean tiba tiba masuk membawa air hangat dalam baskom.


"Kan kamu denger sendiri kata dokter gak boleh kena air dulu" Sean membujuk.


Sean menaruh waslap berwarna putih yang masih baru di bibir baskom beserta handuk.


"Emang di lap gak kena air, gitu? sama aja kan dicelupin ke air dulu" kilah Shelly yang masih tak setuju dengan saran Sean.


"Terus kamu maunya gimana?" Sean mencoba tetap bersikap lembut. Tak memaksakan pendapatnya.


"Aku maunya mandi. Tadi pagi juga kan gak pa pa aku mandi" tukas Shelly.


"Tapi jadi perih kan?" tebak Sean yang membuat Shelly bergeming tanda membenarkan tebakannya.


"Udah nurut aja sih, cuma beberapa hari ini. Kalo gak pede ya jangan keluar rumah dulu" Sean terus membujuk sembari memeras lap yang sudah ia celupkan kedalam air hangat dan siap untuk digunakan.


"Mau aku bantu?" tambahnya sambil mengerlingkan mata.


"Boleh" jawab enteng Shelly namun sukses membuat wajah Sean memerah lalu menyelipkan lap itu kedalam genggaman tangan Shelly.


Sean merasa malu.


Dia tak menyangka godaannya bakalan dibalik semudah itu oleh gadis bar bar didepannya ini.


"Eeh.. si om malah ngeloyor. Om.. aku mau mandi aja ah" Shelly kekeh menolak ide itu. Dia lantas melempar lap lembab itu kedalam baskom dengan kesal.


Sean tak jadi melangkah keluar kamar. Menghela nafas panjang lalu mencoba mencari solusi.


"Terus luka kamu gimana, mau ditutupin plastik trus di lakban, gitu?" Sean memberi saran nyeleneh. Heran dengan ke-keras kepala-an gadis ini.


"Nah, kalo itu Shelly setuju. Ada plastik wrap ga?" Shelly malah menyetujui ide gila dan asal asalan yang dilontarkan Sean.


Sean meraup wajahnya kasar. Tak habis pikir dengan kekonyolan gadis ini.


Tak mau berdebat, Sean pun memberikan apa yang istrinya minta.


"Heuh.. sabaaar sabar.. itung itung latihan layanin istri beneran. Kali aja dikasih bonus" gumam Sean saat mencari barang yang Shelly butuhkan.


Sean memberikan kedua benda itu ples gunting,


Shelly memandangi benda benda yang dia minta saat Sean akan meninggalkannya keluar. Tak mungkin juga kan dia memakaikan plastik itu menyusuri tubuh gadis itu.


Sean mengulum senyum seraya menggelengkan kepala kala membayangkannya.


"Om.." Shelly memanggil Sean tepat sebelum Sean menutup pintu kamar.

__ADS_1


Sean menghentikan pergerakannya.


"Apa lagi? mau aku bantu lakban in?" tanya Sean yang mulai jengah dengan permintaan absurd Shelly.


"Kalo bisa.." cicit Shelly sembari menunduk membuat Sean membola kan mata.


"Hah.. se..serius?" tanya gugup Sean setengah tak percaya.


"Menurut om?" cicit Shelly masih menunduk. Tak ada pilihan lain pikirnya. Toh mereka berteman sekarang.


Teman segala galanya.


Sean kembali masuk dan mengunci pintu dengan antusias.


"Alhamdulillah, ya Allah. Rejeki emang gak kemana" gumamnya dalam hati.


"Girang amat" cebik Shelly saat melihat wajah sumringah Sean yang mendekatinya.


Shelly duduk bersila di ranjang. Menggelung tinggi rambut panjangnya, lalu...


glek


Sean menelan saliva saat Shelly membuka t shirt indies nya dan menampilkan dua bongkahan yang menyembul dari tempatnya.


"Kedip om, nyebut, biar gak oleng" sindir Shelly.


Sean mengulum tawa girangnya.


Mulai dari pipi dekat rahang, Sean sedikit demi sedikit merekatkan lakban bening diantara kulit dan plastik. Turun ke leher, lalu tulang selangka..


glek


Entah berapa liter saliva yang ia telan selama menutup luka bakar itu karena seringkali matanya selalu jatuh pada belahan bukit idaman.


plak


Shelly pun berkali kali menyadarkannya dari imajinasi liar dengan menampar paha Sean.


"Maaf.. maaf.. iklan nya kebanyakan" tukas Sean beralasan kala lagi lagi kedapatan menatap bukit teletubies.


Keringat sebesar biji bijian bermunculan di pelipis. Shelly yang mengetahui kegugupan Sean karena menahan hasratnya menahan senyum.


Dengan iseng tangannya menyeka keringat itu sembari meniupnya.


"fuhh... aduuh.. ni keringet ampe banjir gini om. Panas yaa.."


"Sialan.. kamu ya anak kecil. Liat aja nanti aku bales" umpat Sean lirih membuat Shelly terkikik.


Shelly lantas membusungkan dada nya kala Sean akan membungkus bagian penting itu. Kenapa pula harus melewati gunungan.


Sean menghentikan gerakannya kala Shelly melakukan hal itu. Lantas menatap matanya.


"Apa? om mau?" tantang Shelly dengan gaya songongnya.

__ADS_1


"Apa harus dibungkus dengan pembungkusnya?" tanya Sean sok cool.


"m.. maksud.. om.." cicit Shelly yang sedikit mengerti maksud Sean.


Sean menunjuk sebelah gunungan milik Shelly dengan lirikan matanya.


"Kamu harus membukanya" tambah Sean sambil menyelipkan kedua tangan di ketiaknya untuk menyembunyikan tangan yang bergetar. Sudah bisa dipastikan dia harus menyentuhnya.


Antara girang dan gugup, tak tahu harus mana yang dia ekspresikan.


"T.. tapi.." kini Shelly yang panik. Sean lantas mengangkat kedua tangannya.


"Oke, fine. Do it your self" (baiklah, lakukan sendiri) ujarnya berpura pura menyerah lalu bangkit dari duduk bersila nya.


"Tung.. tunggu duluu.." Shelly menahan tangan Sean. Sungguh Shelly pun merasa gugup sedari tadi. Sentuhan sentuhan yang Sean lakukan untuk membantunya menutupi luka pun mengalirkan energi listrik dalam dirinya, menghidupkan syaraf syaraf sexualitasnya. Bohong jika Shelly mengatakan tidak ingin lebih merasakan sentuhan pasti yang sudah memancing gairah yang dulunya terlarang.


ctek


Shelly membuka kaitan bra di belakangnya, sambil sebelah tangan lain menahan kedua mangkuk yang menyangga miliknya selama ini.


"Lakukanlah" lirihnya sembari memalingkan wajah yang memerah.


Sean kembali menelan literan saliva yang tak bisa diajak kompromi.


Dia kembali memposisikan diri duduk bersila di hadapan Shelly yang tengah pasrah.


"Fuhh.. oke, here we go" (baiklah, kita mulai) Sean kembali melanjutkan kegiatannya menutupi bagian yang...


"Kenapa Tuhan baik sekali padaku" gumamnya dalam hati.


Sean berusaha tak terlalu menyentuh kulit Shelly yang kenyal.


"Maaf.." Sean meminta maaf karena harus membuka sebelah mangkuk itu yang menampilkan butiran anggur.


Ingin rasanya langsung melahapnya dengan rakus dan langsung menghabiskannya.


Tangannya bergetar, sesuatu dibawah sana sudah meronta ingin berkenalan dengan rumah nya.


Sean mulai menutup sebelah bongkahan milik Shelly yang ranum dan berisi. Ingin rasanya menangkupnya agar bisa mengukur seberapa besar dan seberapa padat benda indah ciptaan Tuhan itu.


Shelly meliriknya, syaraf refleknya mengidamkan sentuhan full dibagian itu, lalu berlanjut pada bagian lain. Dia mulai berfantasi liar kala Sean mengusap lakban yang menempel pada kulitnya.


grepp


Shelly menangkap tangan Sean.


Sean lantas meliriknya, apa yang salah, menurutnya, karena dia sudah sangat berusaha untuk tak menjerumuskan diri dalam jurang penyiksaan yang teramat membagongkan.


Shelly lantas menekan tangan besar Sean agar menangkup seluruh permukaan bukit miliknya.


Sean membola kan mata, tak percaya dengan apa yang dilakukan Shelly yang tengah memejamkan mata dan menikmati remasan tangannya.


NYUT NYUTAN GAK TUH🤭

__ADS_1


__ADS_2