
Plakkk
Shelly menampar wajah Cindy hingga mengaduh. Pegangannya pada alat itu melonggar dan langsung Shelly rebut.
"Lo kalo ngehayal bikin pilem yang bener napa. Semua orang tau ini kunci remot ntu mobil" tukas Shelly tersenyum miring lantas sebelah tangannya ia tepukkan pada sebelah pipi Cindy.
Shelly bangkit dan berjalan mendekati mobil.
Untunglah pihak kepolisian sudah datang bersama pihak keamanan acara yang mendapat laporan dari anggota kepolisian. Dan mereka segera diamankan. Tak perduli Cindy meronta dan berteriak, mereka menyeretnya setelah memborgolnya.
Sudah bisa dipastikan hukumannya akan bertambah berat karena kabur dari tahanan sekaligus melakukan kejahatan dengan menculik anak.
"Mamaaa...." pekik Mario yang langsung menghambur ke pelukan Shelly saat pintunya baru dibuka.
Dia tergugu di pelukan Shelly.
"Mama..huuu... mama.. janan tinggalin Lio ma..huu.. Lio nda mau ikut momy, ma.. Lio.. Lio mo ikut mama ajaa..huuuu"
"Sayang, kalo mama ninggalin Mario, mama gak akan nyusulin Mario kesini" bujuk Shelly menenangkan.
Mario mendongak sambil sesenggukan. Shelly mengusap mata dan pipinya yang basah.
__ADS_1
"Mama.. mama beldalah.. hik.. ini juga.. cakit nda mah.. momy napa jahat cama mama? momy bilang mama lebut Lio dali momy, jadi momy halus bikin mama dihukum.. hik.. Lio nda mau mama dihukum.. hik.. mama nda jahat.. momy yang jahat.. iya kan ma" celoteh bocah itu sambil sesenggukan.
Shelly tersenyum gemas dengan celotehan bocah itu. Entah mulai kapan dia sangat menyayangi bocah ini.
"Shelly... Shelly..." seru Sean panik kala Shelly tiba tiba tak sadarkan diri sambil memeluk Mario.
"Mamaaa... banun maaa.." pekik Mario ikut panik.
"Ya Tuhan..." Sean semakin panik kala hendak membopong tubuh lemah Shelly dan mendapati darah segar mengalir pada kakinya.
Sean segera memerintahkan Ujang untuk memacu mobilnya kearah rumah sakit terdekat. Sean bahkan meninggalkan Mario yang berusaha mengejarnya dengan kaki kecilnya.
Axel segera meraih dan menenangkan Mario dengan mengajaknya serta dalam mobilnya mengikuti mobil yang Sean tumpangi.
"Kumohon sayang, bertahanlah" gumam Sean sembari mengecupi wajah Shelly dengan berderaian air mata.
Sean terus menangis sepanjang jalan hingga lorong rumah sakit. Berlari mengiringi brankar sambil merapalkan doa agar sang istri dan buah cintanya selamat.
Sean bahkan memaksa agar ikut masuk ruang tindakan untuk terus membersamai cinta sejatinya.
"Biarkan aku masuk... biarkan aku menemani istriku... Shellyyyy...." raungnya kala pintu itu ditutup dan dikunci.
__ADS_1
Tubuh Sean ditahan Axel yang juga terpukul dengan kondisi saudaranya.
"Axel.. Axel.. bagaimana kondisi saudaramu?" tanya Chelsea terengah karena berlari dari parkiran disusul Brian, sang suami.
Axel memberi mereka kabar mengenai kondisi Shelly. Kebetulan Chelsea dan Brian baru kembali dari perjalanan bisnis di luar negri. Mereka bahkan belum sempat pulang ke rumah karena saat Axel memberi kabar, mereka baru meninggalkan bandara.
"Axel gak tau, mom. Semoga dia baik baik aja" jawab Axel yang langsung memeluk neneknya sambil menumpahkan tangis yang ia tahan sedari tadi.
Ternyata berpura pura kuat itu sangat melelahkan.
Sean tak hentinya menangis selama ber jam jam.
Dia tak mengerti kenapa Shelly belum selesai ditangani.
Tadi dokter bilang, Shelly mengalami abortus karena kelelahan, dan harus segera dikeluarkan.
Beruntung rahimnya tak rusak sehingga tak perlu diangkat. Hanya saja, untuk kembali mengandung, membutuhkan waktu yang lama hingga rahimnya kembali siap.
Sean tak masalah selama Shelly bisa selamat.
Dia tak bisa membayangkan harus hidup tanpa Shelly, cinta sejatinya.
__ADS_1