
Waktu berlalu dan berat mereka jalani karena harus berjauhan.
Hampir setiap jam mereka menghubungi melalui sambungan video call. Tak pernah merasa bosan sedikitpun. Malah perasaan mereka semakin dalam.
Sudah 6 bulan lamanya Sean menetap di kota yang berjarak 4 jam perjalanan jika ditempuh mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Namun berbeda jika Shelly yang mengendarai kala dirinya merasa sudah tak bisa menahan rasa rindunya pada sang suami.
Pun dengan Sean yang langsung memintanya pulang ke apartemen kala si botak tak kuasa memendam rindu akan belaian sang pawang.
"Pak Terry.. tunggu.." sergah Shelly yang lagi lagi menahan pintu mobil saat hendak ditutup.
"Kenapa lagi?" tanya Terry menatap malas pada Shelly. Namun dalam hati dia senang karena seorang Shelly yang cuek pada laki laki kini mengejarnya meski karena nilai.
"Kenapa nilai saya A?" lanjut Shelly terengah karena berlari mengejarnya dari lorong.
"What? kamu gak salah protes? Waktu itu saya kasih 'D' protes, jelas. Sekarang saya kasih 'A' kamu masih protes? mau dapet 'O'?" keluh Terry terheran.
__ADS_1
"Yee si bapak, dipikir golongan darah. Ya gak masuk akal aja lah pak, waktu itu saya ngerjain bener semua tapi malah dikasih 'D', lah sekarang saya ngerjain asal, bahkan saya yakin kalo kerjaan saya banyak yang salah, lah kenapa malah dikasih A?" cerocosnya menyampaikan pemikirannya yang ia rasa diluar logikanya.
"Kamu ingat waktu itu kamu ngerjain soal sendirian atau ngasih contekan ke temen?" tanya Terry. Shelly bingung.
"Ya sendiri lah, pak. Namanya juga ujian" jawabnya mantap sambil mengerutkan dahi.
"Emang yang kemaren bukan ujian?" lanjut Terry. Karena Shelly kedapatan membagikan contekan rumus pada teman teman sekelasnya.
Shelly terdiam.
"O iya, ya" benaknya.
"Harusnya kan malah lebih jelek ya pak?" lanjut Shelly masih tampak berpikir.
Terry terkekeh.
"Ya udah, kalo gitu saya ralat jadi E" imbuh Terry enteng, lalu ia menyalakan mobilnya.
__ADS_1
"Enak aja. Gak bisa gitu dong pak. Tinta sudah tergores, gak bisa diralat bahkan digubah. Pokoknya cup cak cuh nilai akhir saya mata kuliah ini 'A'" sergah Shelly yang lantas sedikit meludahi telapak tangannya dan menyodorkan padanya untuk bersalaman.
Terry mengernyit jijik menatap tangan yang terulur itu.
"Ya elah, si bapak. Ini salaman janji" Shelly meraih tangan Terry yang bertengger di kemudi dan menyatukan dengan telapak tangannya yang ber air liur itu. Terry kembali mengernyit dan berusaha melepaskan 5angannya dari tantan basah Shelly, namun tenaga Shelly tak main main. Dia bisa menahannya.
"Dah, ya. Dengan ini saya nyatakan bapak akan menepati janji untuk tidak merubah nilai saya. Dan jika bapak melanggar janji, saya sumpahin bapak ketemu jodohnya di sumur" cerocos Shelly dan melepaskan tangannya lalu berbalik pergi dengan riangnya.
"Sialan tuh cewek. Jorok amat" gerutu Terry sambil meringis menatap tangannya yang basah karena efek air mantra Shelly.
Namun kemudian dia tersenyum menatap tangan itu.
"Gak pa pa. Sekarang tangan, besok besok bibir, terus besoknya lagi.. " monolog Terry senyam senyum sendiri.
Benar tebakannya. Mendekati gadis seperti itu ya harus jaim. Gak perlu cape cape ngejar, malah dateng sendiri.
Terry kembali memutar kunci untuk menstarter mobil. Namun mobil itu enggan menyala.
__ADS_1
"Mai gat, mobil aja baper sama si dia. Masih kangen ya Cuy" gumam Terry pada mobilnya diakhiri kekehan menertawakan tingkahnya sendiri.
YOW NGE VOTE DULU SEBELOM OTHOR JUNGKIR BALIKIN HATI KLEAN😆