
Shelly keluar gedung perkantoran tempatnya magang dengan mood yang sangat buruk.
Pasalnya dia maupun Sean tak punya solusi lain selain menyetujui usulan Sabastian.
"Okay, *****. Let's see how tough you are (baiklah ******. Kita lihat setangguh apa kamu)" monolog Shelly menyeringai.
Shelly dan Sean masih merahasiakan status mereka di kantor demi profesionalitas, jadi mereka datang dan pergi dengan mobil masing masing.
Shelly datang lebih dulu. Tampak mobil unik milik Rosie sang nenek mertua sudah terparkir apik di tempatnya.
Shelly memutuskan masuk melalui halaman belakang mansion yang mana langsung menuju kolam renang yang cukup luas dan cantik.
Shelly melihat pergerakan dibalik kaca besar yang memisahkan ruang keluarga dengan halaman belakang.
Cindy tampak menunjuk nunjuk kearah atas seorang asisten rumah tangga yang tengah melompat lompat dengan lap kanebo di tangannya yang terulur keatas.
"Bukannya tukang bersihin kaca dateng seminggu sekali ya buat bersiin? Kaca tinggi segitu mana ada yang nyampe?" gumamnya kesal dan lantas melangkahkan kaki mendekat kearah mereka untuk menyelamatkan pegawai yang tengah ditindas itu.
"Ngapain kamu, Ela?" tanya Shelly pada sang art.
__ADS_1
"Eh, nyonya muda sudah pulang. Ini saya.." jawaban Ela dipotong Cindy.
"Siapa yang suruh berenti?" ketus Cindi tampak tak menghiraukan kedatangan Shelly.
"A ah.. i iya.. non-" ucapan gugup Ela kembali dipotong, kali ini oleh Shelly.
"Kamu tahu siapa ****** ini?" tanya Shelly menunjuk kearah Cindy dengan dagunya.
Cindy mengangakan mulutnya tak percaya dengan ucapan sarkas Shelly.
"Di dia.. c calon nyo nyonya muda.. " jawabnya gugup.
"Lalu saya?" lanjut Shelly.
"Jadi siapa yang punya kuasa disini?" imbuh Shelly melipat kedua tangannya di dada.
"Nyonya muda" jawab cepat Ela.
"Dan siapa yang menyuruhmu patuh pada wanita tak tahu malu ini?" Shelly terus menekankan jika Cindy bukanlah seseorang yang perlu dipatuhi perintahnya.
__ADS_1
Ela menunduk dalam, tak berani menjawab karena tatapan intimidasi yang Cindy layangkan padanya.
"Jadi apa yang membuatmu takut padanya. Dia bukan siapa siapa di rumah ini" raung Shelly menggelegar di mansion yang megah hingga seluruh asisten yang berada di seluruh penjuru mansion mendengarnya.
Mereka berlari kecil dan mengintip di balik tembok, menyaksikan bagaimana nyonya muda mereka yang dikenal jahil dan selengean menghardik wanita yang mengerjai mereka satu per satu sedari pagi.
"Sialan kamu. Berani beraninya-" Cindy meluapkan amarahnya karena terus direndahkan Shelly dihadapan art. Dia melayangkan sebelah tangannya namun berhasil Shelly tangkap.
grepp
"Elo yang berani masuk kandang singa, jadi elo harus siap dicabik cabik" desis Shelly menarik tangan Cindy sehingga tubuhnya turut tertarik mendekat dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Tak lupa cengkraman tangannya ia eratkan hingga kukunya hampir menembus kulit mulus Cindy.
Cindy mengaduh, lalu Shelly melepaskan cengkramannya.
"Sana, kamu boleh istirahat" titah Shelly mengedikkan kepala pada Ela yang langsung mengangguk kemudian segera melesat kearah belakang karena keringat sudah bercucuran merasakan ketegangan yang melingkupi area itu.
"Heh.. aku belum selesai denganmu" pekik Cindy berteriak pada Ela yang tengah berlari kecil.
"Urusanmu sekarang denganku" sergah Shelly yang kembali mencekal tangan Cindy karena dia hendak mengejar Ela.
__ADS_1
"Lepas.. Dasar wanita liar. Kamu pikir kamu pantas bersanding dengan keluarga terpandang ini?" sarkas Cindy membuat Shelly menaikan sebelah alisnya.
"Jadi maksudmu.. yang pantas bersanding dengan pewaris keluarga ini adalah wanita tak tahu malu sepertimu?" Shelly memindai tubuh Cindy dari atas hingga bawah sambil mengitarinya.