
"Shell.. aku kangen, sayang" ucap sendu Sean dengan suara parau.
"Sama. Lagian napa sih pada gak ada yang bisa ngadepin cewek itu. Heran deh. Katanya kalian dulu temenan waktu masih kecil" timpal Shelly merajuk.
"Siapa yang temenan? dari zaman kapan aku pernah kenal dia? inget mukanya aja enggak" sanggah Sean tegas.
"Sini doong.." imbuhnya merayu dengan suara parau.
Shelly mengernyit karena Sean tengah melakukan video call dengannya dalam posisi berbaring. Sesekali dia mendengarnya mendesah.
"Kakak lagi ngapain?" selidik Shelly curiga.
Sean lantas mengalihkan tampilan ke kamera belakang.
"Buset.. bengkak gitu.." pekik Shelly terkejut kala Sean memperlihatkan si botak yang sudah sangat membengkak karena seminggu tak dijamah.
"Makanya sini.. auh.. gak kuat ini.. tar nyasar.."
"Jan sompral kalo ngomong. Napa gak kakak aja yang kesini sih? dari sore gitu. Ini jam 9 kak. Aku ngebut juga nyampe sana jam 11an. Emang kakak tega istrinya nyupir keluar kota malem malem" omel Shelly yang bingung.
"Aku takut gak konsen di jalan Shell.. ahh.." jawab Sean yang memancing sesuatu dalam diri Shelly.
__ADS_1
"Mana besok mata kuliah orang itu lagi. Tar dapet nilai D lagi mampus" gumamnya dalam hati berperang dengan nafsu.
"Ah, titah suami kan harus diturutin. Gak boleh ngebangkang. Cabut ah" monolog Shelly membenarkan diri yang lantas turun kebawah dan mengetuk kamar Axel.
"Nyet, buruan ikut gue. Darurat" sergah Shelly yang langsung menarik tangan Axel mengajaknya ikut menemaninya selama perjalanan.
Axel kembali ke kamar untuk mengambil ponsel dan dompet. Lalu melesat menuju mobil tanpa banyak bertanya.
"Elo nanti nginep di hotel aja ya" titah Shelly sambil menatap lurus dan penuh konsentrasi kearah jalan karena saat ini dia tengah melajukan mobilnya diatas rata rata.
Tanpa menjawab Axel berpegangan pada handle yang berada diatas kepalanya.
Shelly benar benar melajukan mobil itu bak kesetanan. Ditambah wajah tegang nan paniknya.
"Apa kak Sean kecelakaan?" batin Axel menerka.
Shelly benar benar memangkas waktu tempuh menjadi 2 jam perjalanan dengan mobil unik sang nenek yang sudah dia modif untuk berpacu cepat.
Untung Rosie sudah tidur lelap, jadi dia tidak perlu melakukan drama sabun colek dahulu.
Shelly segera membuka seat belt dan turun dari mobil dengan tergesa.
__ADS_1
Pun dengan Axel yang mengikuti pergerakannya.
"Ngapain ikut?" tanya Shelly saat tersadar Axel membuntutinya di belakang.
Axel menghentikan langkahnya tiba tiba.
"Kak Sean lagi gawat darurat kan? perlu digotong kan?" timpal Sean mengernyitkan dahi.
Punya sodara kok tambah aneh aja. Pikirnya.
"Gawat darurat? siapa yang bilang?" sanggah Shelly ikut mengernyitkan dahi.
"Lah, elu tadi nyeret gue dari kamar bilang darurat. Ya udah ayok, gua bantuin sampe rumah sakit. Emang kak Sean sakit apa sih, kek nya gawat bener muka elo" ucap Sean yang lantas melanjutkan langkahnya menuju rumah minimalis yang ditinggali Sean seorang diri.
"Et et et et.. gak usah deh, gua rawat disini aja. Elu mending sekarang nyari hotel buat nginep, soalnya disini kamarnya cuman atu" Shelly menahan lengan Axel agar tak melanjutkan langkahnya.
"Gila lu, ya. Masa ngebiarin anak kecil nginep di hotel sendirian. Ntar digerebek tante girang bisa hamil kan" tolak Axel.
"Bisa tidur di ruang tamu aja kali, gue mah" imbuh Axel yang kembali melangkahkan kaki kearah rumah karena dia sudah ingin merebahkan diri.
"Trus.. elo mo nungguin gue ewokan sama kak Sean di ruang tamu gitu?"
__ADS_1