Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Terpesona


__ADS_3

"AAAAAAA!!"


"SAKIT!"


"BERHENTI!"


Langkah Nathan terhenti saat mendengar suara teriakan yang berasal dari lantai dua rumahnya tersebut. Dia baru saja selesai nongkrong dengan Neo dan Daniel. Dia awalnya heran saat memasuki rumah, karena rumahnya terasa sepi padahal mobil sang papa sudah terparkir di halaman rumahnya. Bahkan ketika ia mengucap salam pun, tak ada jawaban.


Ah, Nathan baru ingat kalau dua hari yang lalu Asisten Rumah Tangganya diliburkan. Hanya tinggal Mbok Sumi--ART senior di sana, dan Pak Iku yang tidak libur. Alasan orang tuanya melakukan hal tersebut adalah agar Sukma nyaman di rumah ini. Semakin sedikit orang, semakin bagus untuk pemulihan Sukma yang memang akan dilakukan di rumah. Selain itu, Fifi dan Hisyam juga tidak mau ART-nya tahu bagaimana kondisi Sukma, karena gadis itu berkemungkinan akan kehilangan kendali saat menjalani proses penyembuhan. Yang dihindari adalah mereka menggosipi Sukma diam-diam. Jadi, dengan salib dikasih liburan ke kampung dan sejumlah uang, mereka dengan senang menyambut usulan sang majikan.


Nathan lantas segera menaiki anak tangga. Pria itu yakin pasti kedua orang tuanya ada di kamar Sukma.

__ADS_1


Sampai di depan kamar Sukma, langkah Nathan terhenti saat melihat gadis itu tengah berbaring di atas ranjang. Di Samling ranjang, ada orang tuanya dan juga dokter Sandra.


Nathan mendekat, matanya masih menatap ke arah ranjang. Saat sudah berada di dekat tempat Sukma terbaring itu, Nathan seketika membeku.


Ini pertama kalinya dia melihat wajah Sukma. Gadis itu, ternyata sangat cantik. Hidungnya bulat kecil dan tidak terlalu mancung, Nathan malah teringat hidung boneka ketika melihatnya. Bibirnya sedikit tebal, dan berwarna pink pucat. Wajah itu juga sangat mulus, namun terlihat pucat. Bulu matanya lentik, alisnya seperti terukir, berwarna kecokelatan dan sangat rapi. Hanya saja, mata gadis itu kini tertutup. Keringat terlihat membanjiri wajahnya, dan helaan nafasnya terdengar seperti terputus-putus.


"Nathan. Kamu baru pulang, sayang?"


"Udah dari tadi?" Fifi malah salah paham akan gelengan itu. Dia kira, Nathan tadi menjawab pertanyaannya.


"Eh, baru kok Ma," ralat Nathan sedikit salah tingkah.

__ADS_1


Fifi mengangguk mengerti. "Dia kenapa, Ma?" tanya Nathan penasaran.


"Tadi sempat hilang kendali saat dokter Sandra mengajaknya bicara. Berteriak histeris dan ketakutan, dan berakhir pingsan."


"Terus, itu...anu! Napasnya itu, kaya putus-putus gitu," ujar Nathan ragu. Dia tidak mau mamanya berpikir kalau dia mulai perhatian pada Sukma.


"Oh, itu. Kata Tantemu karena dia syok tadi. Tuh, udah mulai normal pernapasannya," Fifi mengedikkan dagunya ke arah Sukma.


"Y...ya udah, Nathan ke kamar dulu. Mau ganti baju." Nathan segera berpamitan dari sana. Sepanjang jalan menuju kamar, dia merutuki dirinya sendiri, yang tiba-tiba malah menyuarakan pertanyaan seperti tadi pada mamanya, seolah dia bersikap sangat perhatian pada Sukma.


Nathan tiba-tiba teringat wajah Sukma tadi. Pria itu kembali menggeleng pelan, mengusir pikirannya yang mulai tidak karuan. Sepertinya dia butuh mandi, mungkin saja kuman yang berasal dari debu bukan cuma menempel di tubuhnya, tapi di otaknya juga, hingga mempengaruhi pikirannya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2