
Suara ketukan pintu membuat Fifi beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu membuka pintu, dan mengernyitkan dahi heran karena mendapati seorang pria yang tidak ia kenali berdiri di sana.
"Malam, Tante. Saya Leon."
Fifi mengangguk pelan, masih dengan raut herannya. Bahkan ketika pemuda itu mengambil tangannya untuk disalami, Fifi masih belum bersuara.
Leon yang selesai menyalami Fifi, tanpa sengaja melirik ke belakang wanita itu, dan mendapati Nathan yang berjalan mendekat dengan ekspresi ingin tahu. Pria itu tersenyum kecil, memiliki ide untuk menjahili Nathan.
"Saya pacarnya Sukma, Tante!" ujarnya sembari menahan tawa.
Fifi tersentak kaget, membulatkan matanya dan menatap Leon dari atas sampai bawah. "Kamu....benaran?" tanya Fifi ragu.
Nathan yang semakin dekat, menegur sang mama yang sedari tadi berdiam di depan pintu.
"Mama? Kenapa?"
Fifi berbalik, melangkah ke Samling, sehingga Nathan dapat melihat keberadaan Leon yang berdiri di hadapan sang mama tadi.
"Leon?!"
Fifi menatap Nathan, "kamu kenal pacarnya Sukma?" tanya wanita itu.
Nathan langsung membulatkan matanya, "pacar?"
"I...iya, dia ngaku gitu."
Sementara Leon, sudah tertawa di tempatnya karena melihat ekspresi Nathan.
"Dan Mama percaya? Astaga, Mama! Anak itu bukan pacarnya Sukma," ujar Nathan berapi-api.
Fifi langsung tersadar saat mendengar tawa Leon. "Kamu bohong?"
Leon meringis pelan, "enggak kok, Tante. Maksud saya itu, calon pacarnya Sukma."
Fifi geleng-geleng kepala karena tingkah bocah itu. Dia kemudian menatap Nathan, "dia siapa, Nat? Kok kamu kenal?"
__ADS_1
"Dia sepupunya Neo, Ma. Yang itu, loh. Papa pasti udah cerita ke Mama, kan?"
"Oh, yang sekolah di SMA nya Sukma dulu itu?"
Leon mengangguk. "Iya, Tante."
Fifi mengangguk pelan, kemudian tersenyum kecil ke arah Leon. "Ya udah, masuk aja kalau gitu. Kamu itu loh, ngagetin aja tadi. Tante pikir benaran, Sukma punya pacar."
Nathan mendengus pelan, "mana mau Sukma sama bocah tengil kaya dia, Ma!"
Leon tertawa mendengarnya. "Dia pasti bakal mau kalau udah kenal aku, Bang! Liat aja nanti!"
"Dan aku nggak akan biarin itu terjadi!" balas Nathan tak ingin kalah.
"Sudah-sudah! Kamu itu loh, Nat! Dia itu tamu kita. Lagian, nggak apa-apa dia jadi pacarnya Sukma. Anaknya ganteng gini," ujar Fifi terkesan membela Leon. Pria remaja itu merasa semakin besar kepala, dia menatap Nathan dengan pandangan mengejek. Seolah mengatakan, 'see, aku udah dapat lampu hijau'.
"Ganteng kalau kelakuan kaya dia gini, Nathan nggak sudi Ma!"
Fifi hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu duduk dulu, ya. Tante mau buat minum untuk kamu."
Fifi tertawa mendengarnya, sementara Nathan sudah emosi sendiri akibat perkataan bocah tengil itu.
Selepas kepergian Fifi, Nathan menatap Leon tajam. "Ngapain di sini?" tanya Nathan.
Leon terkekeh pelan. "Ya silaturrahmi aja, gitu. Sekalian mau kenal calon pacar."
Nathan mendekat ke arah pria yang kini sudah duduk di atas sofa itu, dan langsung mendorong kepalanya dengan kuat. "Calon pacar kepalamu!"
Leon hanya tertawa. "Apa salahnya sih? Tante aja udah ngizinin. Om Hisyam paling langsung setuju!"
Nathan mengepalkan tangannya. Kesal sendiri dengan ucapan Leon. "Aku serius, kamu kenapa datang ke sini? Kali ini jangan jawab main-main, Leon!" ancam Nathan.
Leon menyerah, Nathan ternyata mahluk sensitif. Tak bisa diajak bercanda. Tapi, Leon akan tetap melakukannya lain kali kok. Sekarang dia memang harus berbicara hal serius pada Nathan.
"Aku mau bicara ke Bang Nathan dan Om Hisyam. Tadi di sekolah, aku sempat dengar sesuatu, yang mungkin bisa kita jadikan petunjuk."
__ADS_1
Nathan mengangguk mengerti. "Kalau begitu, kita bicara di ruang kerja Papaku saja. Ayo!"
Leon menurut. Pria itu bangkit dari tempat duduknya, dan mengikuti langkah Nathan. Sampai di depan pintu, Nathan mengetuk pintu berwarna cokelat tua tersebut.
"Pa, ini Nathan. Ada Leon juga," ujar Nathan memberi tahu.
"Masuk aja!" Hisyam menyambut dari dalam.
"Hei, Leon. Kita baru ketemu lagi setelah sekian lama!" Hisyam menyambut hangat kedatangan Leon.
Leon tersenyum, kemudian menyalami tangan pria paruh baya tersebut. "Iya, Om."
"Duduk dulu kalau gitu."
Hisyam dan Leon terlibat pembicaraan basa-basi sejenak.
"Sebenarnya Om, ada sedikit yang ingin Leon sampaikan ke Om, makanya Leon datang ke sini."
Hisyam menegakkan duduknya. "Apa?"
"Leon tadi sempat mendengar pembicaraan wali kelas Leon tadi dengan temannya yang guru juga. Mereka sempat menyebut nama Riana Kusuma."
Memang, Leon masuk ke SMA XX hari ini. Dan saat dia diperintahkan untuk ke Koperasi sekolah, dia tidak langsung menuju ke sana. Dia berdiam diri sebentar di depan pintu, berusaha mencuri dengar percakapan guru di sana. Dan dia mendengarkan perbincangan Bu Santi dengan rekan kerjanya itu.
"Bu Santi, wali kelas Leon, dia tidak percaya kalau Riana mengonsumsi barang haram itu. Dia juga salah satu guru yang selalu memperjuangkan anak-anak nakal di sana, agar tidak dikeluarkan dari sekolah."
Hisyam mengangguk pelan. "Kalau begitu, kamu harus mencari tahu kenapa Bu Santi bisa tidak percaya kelakuan Riana. Pasti ada sesuatu yang diketahui guru itu. Dan bisa jadi, dia juga kenal Sukma."
"Iya. Leon datang ke sini hanya untuk memberi tahu, kalau salah satu petunjuk mulai nampak. Dan semoga saja yang selanjutnya akan dimudahkan setelah masalah pertama ini terpecahkan."
"Ya, ya, ya!" Hisyam mengangguk-anggukkan kepalanya. "Om percayakan semuanya ke kamu."
"Oh ya, Om. Masalah Mr. Black, apa Leon harus selidiki juga dia siapa?" tanya Leon.
Hisyam menggeleng pelan. "Mr. Black sepertinya bukan orang yang berbahaya. Kalau kamu menyelidiki dia dan ketahuan, bisa jadi dia akan ikut diam, dan kita akan kehilangan banyak petunjuk. Jadi, kamu fokus di kasus Riana dulu."
__ADS_1
Leon mengangguk mengerti. "Baik, Om. Leon akan kabari nanti hasilnya."