
Dengan tangan bergetar karena ragu, Laras mengetuk pintu berwarna cokelat tua tersebut. Gadis itu mengucapkan salam beberapa kali, dan menghembuskan napas kasar saat mendengar seseorang menjawab salamnya dari dalam.
"Nyari siapa ya, Mbak?" Fifi menatap bingung gadis di depannya.
"Ehm, anu Tante. Saya...saya temannya Nathan. Kemarin, saya nggak sengaja liat mobilnya belok ke sini. Ini rumahnya, ya?" Sebenarnya, Laras hanya ingin mencari tahu tentang Sukma saja. Dia yakin, rumah ini adalah rumah Sukma. Nathan ke sini kemarin hanya karena ada keperluan saja. Dengan alasan seperti ini, dia berharap bisa menemukan Sukma di sini. Ternyata yang membuka pintu malah wanita paruh baya ini. Tapi, tunggu. Laras seperti mengenali wanita ini.
"Tante ini kan..."
"Kamu kenal sama saya?" tanya Fifi bingung.
"Jadi, ini benar rumah Sukma?" batin Laras.
"Eh, enggak. Tante mirip tentangga saya, jadi mukanya kaya nggak asing gitu." Laras berujar gugup.
"Iya. Ini benar rumahnya Nathan. Kamu temannya, ya?" Fifi menautkan alis. Teman-teman Nathan tidak ada yang tahu alamat mereka kecuali Neo dan Daniel.
Laras semakin terkejut. "Nathan serumah sama Sukma?"
"Oh, gitu. Nathannya ada nggak, Tan? Saya mau minjam buku, soalnya." Laras menemukan alasan yang tepat.
"Ada kok, di dalam. Aduh, maaf ya, malah ngajak kamu ngobrol di depan pintu gini. Ayo, masuk!" Fifi mempersilahkan Laras memasuki rumahnya dengan ramah. Laras menyimpulkan, wanita itu tidak mengenalinya sebagai anak dari Hans Arganta. Mungkin saat persidangan, wanita paruh baya ini tidak memperhatikan mereka.
"Tunggu sini, ya. Nathan mungkin lagi di kamarnya. Kalau enggak, di kamar adiknya." Fifi mempersilahkan Laras untuk duduk dan menunggu sebentar di ruang tamu. Wanita itu masuk lebih dalam, untuk memanggil Nathan.
"Nathan bukannya anak tunggal, ya? Kok kata Mamanya dia punya adik? Apa jangan-jangan, Sukma itu adiknya?" Laras menutup mulutnya terkejut. Tubuhnya terasa lemas seketika, mengetahui fakta tersebut. Selama ini, Nathan menutupi siapa dirinya. Tidak ada yang tahu jika Nathan adalah anak dari seorang pengusaha terkenal. Fakta tentang Nathan sejak kemarin selalu membuat Laras syok. Apalagi pria itu memiliki hubungan dengan Sukma, gadis yang membuat papanya mendekam di dalam penjara.
Tidak berapa lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Laras berdehem pelan, dan berusaha menormalkan ekspresinya.
__ADS_1
"Hai!" Suara yang begitu lembut dan terdengar ceria menyapa telinga Laras. Gadis itu menoleh, dan mendapati Sukma yang menatapnya dengan senyuman manis di bibir.
"Ah, ini Mbak yang kemarin di resto, kan?" Sukma mendekat, kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Laras.
Laras mengangguk, mengulas senyum tipis. Andai gadis di depannya ini tahu siapa dia sebenarnya. Laras yakin, senyum itu akan menghilang dan mungkin dia akan mengusirnya dari sini.
"Bang Nathan lagi mandi. Jadi, aku diminta Mama untuk nemanin Mbak di sini."
Laras memperhatikan wajah Sukma. Dia benar-benar mirip dengan Dewi.
"Mbak?" Sukma menegur Laras yang melamun. Laras terkejut, dan meringis pelan. "Maaf. Saya nggak fokus. Kamu bilang apa, tadi?"
Sukma tersenyum maklum. "Bang Nathan masih mandi. Jadi mama minta aku nemanin Mbak di sini."
"Oh, i--iya."
Laras menggeleng. "Kami seangkatan. Tapi beda jurusan," jelas Laras dan disambut anggukan mengerti dari Sukma.
"Gitu. Aku juga tahun ini mau daftar di kampus tempat Abang aku kuliah. Berarti, nanti kita bakal sering ketemu."
Laras mengulas senyum tipis. "Semoga kamu masih mau ketemu sama aku."
Sukma menatap Laras bingung. "Kok gitu? Ya aku maulah. Aku itu nggak punya teman, sebenarnya. Belajar aja di rumah. Eh, ada deh temanku. Bang Neo, Bang Daniel, sama Leon juga. Teman cewek nggak ada. Jadi aku bakal senang kalau Mbak mau jadi temanku."
Laras kembali memperhatikan wajah Sukma.gadis ini, kenapa terlihat seperti kesepian? Apa karena dia tidak memiliki teman seperti ucapannya? Ah, Laras lupa. Sukma dulu sering dibully.
"Dek! Kamu ngobrol sama siapa?" Nathan berjalan dengan langkah cepat ke arah dua gadis yang tengah berbincang itu. Dia langsung menatap tajam ke arah Laras saat sampai di sana.
__ADS_1
Nathan tadi sedang di kamar mandi saat mamanya mengatakan kalau ada tamu yang mencarinya. Nathan berpikir itu mungkin Neo atau Daniel. Jadi dia membiarkan mamanya meminta Sukma untuk menemani mereka berbicara. Nathan bahkan mandi dengan sangat cepat. Dia tidak ikhlas meninggalkan Sukma berbicara lama-lama dengan dua buaya itu tanpa ada pengawasan. Ternyata, yang datang malah lebih parah dari mereka.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Nathan dingin. Laras tahu, respon Nathan akan seperti ini padanya.
"Dek, masuk ke dalam, sana!" Nathan berusaha menormalkan cara berbicaranya pada Sukma agar gadis itu tidak curiga.
"Iya." Sukma menurut. Dia berpamitan pada Laras. Sukma sadar, mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan Nathan dengan temannya itu.
Sepeninggal Sukma, Nathan kembali melemparkan pertanyaan pada Laras. "Kamu ngapain di sini?"
Laras mengembuskan napas kasar. "Aku cuma penasaran sama Sukma. ternyata benar, dia tinggal di sini. Jadi, dia adik angkat kamu?"
Nathan mendengus pelan. "Bukan urusan kamu."
Laras mengangkat alisnya sebelah, menantang Nathan. "Urusanku juga. Sukma juga saudara aku, kalau kamu lupa."
Nathan tertawa mendengar ucapan Laras. "Jangan lupa juga, Papa kamu yang membuat Sukma mengalami hal berat di hidupnya."
Mendengar ucapan Nathan, Laras jadi tersinggung. "Dia sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya. Lalu, kenapa kamu ngungkit masalah itu lagi?"
"Aku cuma nggak mau, kamu merasa begitu berhak pada hidup Sukma. Hormati keputusan dia. Dia yang tidak mau ketemu sama Mama kamu ataupun orang yang memiliki sangkut paut dengan orang yang menyakitinya. Jadi, berhenti mencari tahu tentang dia lagi."
"Bilang aja kalau kamu takut kehilangan Sukma. Kamu takut, Sukma memilih kembali hidup dengan Ibu Kandungnya. Kalau kaya gitu, apa bedanya kamu sama Papa aku?"
Nathan mengontrol emosinya agar tidak kelepasan. kalau dia membentak Laras, Sukma bisa mendengarnya. "Papamu egois. Aku bilang, aku akan menghormati keputusan Sukma. Dia sendiri yang nggak mau bertemu Ibu kandungnya atau orang yang ada hubungan dengan Ibu kandungnya. Jadi, jangan samakan aku sama Papa kamu, yang rela nyakitin orang hanya karena ketakutan yang tidak berdasar."
Nathan mengembuskan napas kasar. "Sukma punya trauma berat sebelum ini, dan sekarang dalam tahap penyembuhan. Kalau kalian maksa dia, bisa saja traumanya akan kembali atau bahkan makin parah. Jadi, stop egois. Bilang juga ke Mamamu itu, berusaha mengerti posisi anaknya. Jangan memaksa, karena itu bisa semakin membuat Sukma kesakitan!"
__ADS_1
Laras terdiam, tak bisa lagi membantah ucapan Nathan. Gadis manis yang tadi menyambutnya dan duduk bersamanya di sini, pernah memiliki trauma. Tapi, salahkah Laras jika dia tetap ingin berada dekat dengan Sukma? Gadis itu, seolah begitu menarik perhatiannya.