
"Kamu punya kenangan di Cafe ini?" tanya Nathan pada Sukma.
Sukma mengangguk. "Aku dulu sering ke sini, setelah pulang sekolah. Ketemu sama teman, diam-diam."
"Diam-diam?" tanya Nathan memastikan. Sukma kembali mengangguk.
"Abang bawa kamu ke sini karena ada yang mau ketemu kamu. Dia yang selama ini bantu Papa sama Abang ungkap kasus kamu. Dia selalu menyembunyikan identitasnya, entah kenapa. Apa mungkin teman kamu itu, dia?"
Sukma terdiam sejenak. Kemudian tersenyum tipis. "Mungkin. Ternyata dia masih ngingat, aku, Bang. Aku senang!"
Nathan memperhatikan wajah Sukma yang terlihat bahagia. Apa Mr. Black memang orang penting di hidup Sukma selama ini?
"Kamu bis-" Baru saja akan menanyakan siapa Mr. Black pada Sukma langsung, ponsel Nathan malah berbunyi.
Mr. Black
Kalian di mana?
Saya sudah lama menunggu. Jangan mengingkari janji!
Nathan berdecak sebal. Menghembuskan napas kasar, lalu mengajak Sukma turun. "Kalau benar Mr. Black itu teman kamu, tolong bilang ke dia, nggak usah sok misterius."
Sukma hanya tertawa. Keduanya kemudian memasuki Cafe. Saat membuka pintu Cafe, Sukma menghentikan langkah tiba-tiba. Gadis itu menghembuskan napas pelan, lalu menarik bibirnya membentuk senyuman. Dia merasa Dejavu.
Seolah sudah sangat terbiasa, Sukma langsung berjalan ke arah kasir. Kasir tersebut menatapnya bingung, sebab tak mengenali Sukma yang tersenyum lebar di depannya.
"Mr. Black." Kasir itu memperhatikan Sukma dengan saksama. Sesaat kemudian, matanya membulat, tangannya reflek menutup mulutnya karena terpana.
"Kamu-"
"Gadis aneh," jawab Sukma santai. Senyuman masih tetap setia di bibir gadis itu. Sementara Nathan yang memperhatikan, langsung berpikir. Apa jangan-jangan Mr. Black itu kode untuk Sukma dan temannya saat bertemu?
Kasir cafe itu beranjak dari balik meja dan mendekati Sukma. Menatap gadis itu dari atas sampai bawah dengan wajah terpana. "Kamu kemana aja?"
"Aku nggak kemana-mana. Cuma lagi berusaha menyembuhkan diri."
Gadis penjaga kasir itu kemudian berbisik ke arah Sukma. "Kamu tau nggak, Mr. Black lagi sedih. Keluarganya tertimpa masalah."
"Tertimpa masalah?"
"Iya. Kamu harus hibur dia. Pokoknya, jangan biarin dia sedih. Kasihan, berondong ganteng sedih." Sukma tertawa mendengar ucapan kasir itu. Mereka memang sering bertegur sapa dulu, meski hanya seadanya.
"Ya sudah, kamu langsung ke atas aja." Kasir itu berujar mempersilahkan. Dia kemudian meringis saat tak sengaja menatap ke belakang Sukma.
__ADS_1
"Eh, maaf, Mas. Saya keasikan ngobrol. Mas mau pesan apa?"
Sukma yang melihat raut bersalah dari si kasir langsung menoleh pada Nathan. "Dia kakak aku."
"Hah? Buset! Kakak kamu ganteng banget!" puji si kasir spontan.
"Astaga! Jangan digodain, ya. Aku tinggal ke atas dulu."
Nathan bermaksud mengikuti langkah Sukma, namun Sukma langsung menggeleng. "Abang pesan aja. Aku janji, nggak bakal lama. Aku akan baik-baik aja, jadi Abang tenang."
Nathan menggeleng, tak setuju dengan perkataan Sukma. "Nggak boleh. Pokoknya, Abang harus ikut."
"Emangnya Mr. Black mau ketemu sama Abang? Bang, aku yakin, dia belum mau kalian ketahui identitasnya. Iya, kan?"
Nathan menghembuskan napas kasar. Dia sebenarnya tidak takut pria itu menyakiti Sukma. Karena kelihatannya mereka memang kenal dekat. Nathan hanya tidak mau Sukma berdua-duaan dengan pria lain di dalam ruangan yang jauh dari jangkauannya. Ini pertama kalinya Nathan melepas Sukma berduaan dengan lawan jenis. Rasanya Nathan sangat tidak ikhlas.
"Tapi nanti kamu berduaan sama dia."
Sukma menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Abang nggak percaya ke Sukma?"
Nathan menghela napas kasar melihat wajah Sukma yang terlihat memohon. Mau tak mau, pria itu akhirnya mengizinkan juga. Sementara si kasir yang melihat interaksi Nathan dan Sukma, malah kebingungan.
"Kamu benaran Abangnya si gadis aneh?" tanya gadis itu. Menatap Nathan lamat-lamat, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Heh, kamu, kan, yang waktu itu. Yang datang ke sini dua kali, nyari Mr. Black."
Nathan mendengus. Kasir itu ternyata sangat cerewet. Tanpa berlama-lama, Nathan menyebutkan pesanannya dan segera beranjak dari sana. Malas meladeni pertanyaan si kasir. Lagipula, moodnya lagi buruk. Dia gelisah, mengingat Sukma yang sedang bertemu teman lama.
Sukma mengetuk pintu berbahan kayu tersebut dengan pelan. Dia sedikit gugup. Ini pertemuan pertama mereka setelah dua tahun.
Pintu terbuka dari dalam. Dua orang yang saling berhadapan itu seketika membeku. Saling berpandangan, sementara mulut seolah terkunci. Menyelami mata masing-masing, mencari titik rindu yang tersembunyi di sana. Dan ya, mereka sama-sama menemukannya.
Tiga menit keduanya hanya saling menatap dalam diam. Degub jantung terdengar jelas, entah milik siapa di antara mereka.
Sampai denting ponsel Sukma menyadarkan keduanya. "Eh, maaf. A-ayo, masuk!" Pria itu terlihat gugup. Sukma pun sama. Senyuman yang tadi ia tampilkan saat pertama datang, malah sudah menghilang entah kemana.
"I-iya!" Sukma mengangguk pelan. Dia mengambil melihat ke arah ponsel yang ia genggam. menyalakan layar, melihat siapa yang mengiriminya pesan. Ternyata Nathan, yang memperingatkannya untuk menghubunginya jika ada sesuatu.
"Lama nggak ketemu, gadis aneh!" Pria itu berujar setelah lama keduanya kembali dilanda kesunyian. Kini, mereka duduk berhadapan di sofa yang ada di ruangan tersebut. Ada meja kecil di depan yang membatasi keduanya.
"Lama nggak bertemu, Mr. Black."
"Ah, rasanya aku nggak percaya, kalau di depan aku ini adalah kamu." Mr. Black menatap Sukma dengan tatapan tajam nan teduhnya.
"Kenapa? Pangling, ya?"
__ADS_1
Mr. Black mengangguk. "Lebih dari itu. Kamu akhirnya muncul setelah dua tahun nggak.da kabar. Rasanya aku ingin berteriak pada dunia, mengatakan kalau kamu akhirnya kembali."
Sukma tersenyum manis. "Tuhan maha baik. Aku mungkin sejak kecil tak beruntung menurut orang lain, begitupun bagi aku yang dulu. Tapi sekarang, aku baru sadar. Aku seberuntung itu. Tuhan selalu mengirimkan aku orang-orang baik. Tak pernah membiarkan aku sendirian. Meski butuh waktu yang lama, tidak apa. Buktinya, aku kini berada di sini, sekarang."
"Aku dengar, kamu membantu Papa sama Abangku, ya?"
Mr. Black mengangguk. "Tunggu! Tunggu! Aku baru sadar sesuatu. Kata Abang aku, Pak Hans akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di kantor polisi. Jangan bilang, kamu-" Sukma menutup mulutnya tak percaya.
Dapat Sukma lihat, pria itu mengangguk pelan. "Dia memang harus bertanggung jawab. Dia dalang dari semua yang terjadi ke kamu."
"Kamu sadar, kan, lagi ngorbanin keluarga kamu sendiri?"
Mr. Black mengangguk. "Aku tahu. Aku cuma berharap, setelah semuanya terbongkar, kamu nggak akan benci aku."
Sukma menggelengkan kepalanya tak percaya. Bagaimana bisa pria ini berbuat sejauh itu, hanya untuknya?
"Kenapa kamu lakuin ini? Itu pasti nyakitin keluarga kamu."
Mr. Black menggeleng. "Yang menyakiti itu, Papaku sendiri. Dia yang menghancurkan keluarga bahagia kami dengan kejahatannya."
"Tapi dia cuma ngancam aku buat nggak dekat-dekat sama kamu. Apa salahnya? Aku sadar, kalau dia memang nggak mau kamu dekat dengan gadis miskin kaya aku."
"Kamu salah. Kamu nggak percaya, aku tadi bilang, dia dalang semuanya?"
Sukma tentu saja langsung menggeleng. "Enggak mungkin. Masa cuma karena kita dekat-"
"Ya, karena itu. Dia nggak mau kita dekat. Dia nggak mau kamu ketahuan sama istrinya, kalau kamu selama ini berada di sini. Dia tidak mau kamu dibawa istrinya masuk ke keluarga kami."
Sukma menatap Mr. Black bingung. "Maksud kamu apa, Apin? Nggak ada hubungannya aku sama-tunggu! Kamu nyebut 'istrinya'? Itu berarti Mama kamu, kan?" Sukma mencerna kembali ucapan Apin tadi.
Apin mengangguk. "Iya. Mama sambung aku. Dia-Ibu kamu. Karena itu Papaku mau melenyapkan kamu."
Sukma menganga yak percaya. Gadis itu menggeleng keras, berusaha menyangkal semua perkataan Apin. "Apin, jangan bercanda!" peringat Sukma. Matanya mulai berembun. Tubuhnya gemetar.
"Aku nggak bercanda." Balas Apin dengan suara serak. Dia tahu, mungkin setelah ini Sukma akan menjauhinya.
"Nggak! Nggak mungkin!" Sukma berujar lirih. Air matanya mulai turun, gadis itu meremas rambutnya. "Nggak! Aku nggak percaya."
"Maaf."
"Nggak! Nggak mungkin! Bilang kalau ini nggak benar!" Pecah sudah tangis Sukma. Gadis itu meraung pilu. Tak percaya kenyataan yang memukul batinnya. Wanita itu, kenapa traumanya selalu karena wanita yang melahirkannya itu? Sukma sudah berusaha berdamai dengan apa yang dilakukan wanita itu di masa kecilnya. Tapi kenyataan malah mengungkap, traumanya dua tahun lalu, lagi-lagi gara-gara dia.
Apin yang melihat itu imut menangis. Dia mendekati Sukma yang kacau, lali memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Kamu pasti sakit. Aku tahu. Tapi ini kenyataannya. Maaf!" Apin membisikkan kata-kata tersebut di telinga Sukma. "Aku selalu ada untuk kamu. Aku selalu ada di pihak kamu. Melindungi kamu. Maaf, kalau selama ini yang menyakiti kamu adalah orang yang darahnya mengalir di tubuhku." Sukma menggeleng. Tidak, dia tidak benci Apin. Apin tak perlu minta maaf. Yang salah itu wanita itu.
"Aku mau pulang. Bawa aku pulang, Apin. Aku butuh waktu untuk sendiri." Sukma merasa tubuhnya begitu lemas. Kenyataan begitu menyakitkan, dan sulit diterima. Dia butuh sendiri.