
"Hai, Sukma. Kita ketemu lagi." Dokter Sandra baru saja datang ke kediaman Hisyam untuk mengunjungi Sukma tentu saja. Dia ingin melihat, apakah ada kemajuan dengan Sukma atau tidak. Sebenarnya, kasus seperti Sukma ini sedikit sulit, namun jika pasien mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungannya, terlebih pasien benar-benar ingin berjuang sembuh, kemungkinan sembuhnya cepat itu ada.
Sukma hanya merespon dengan anggukan pelan sebagai jawaban. Gadis itu masih setia menunduk di samping Fifi.
"Ayo, cantik! Coba, angkat kepalanya. Di sini hanya ada Mama sama Dokter, loh!" bujuk dokter Sandra.
Sukma mengangkat wajahnya perlahan, membuat dokter Sandra mengembangkan senyumannya. Ini yang dia maksud. Sukma punya tekad untuk sembuh di dalam dirinya, dan dokter Sandra berharap tekad itu akan semakin mempercepat penyembuhan mentalnya.
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya dokter Sandra. Sukma terlihat membuka mulutnya, namun mengatupkannya kembali. Mata gadis itu kemudian melihat ke arah Fifi, memberi kode untuk menjawab pertanyaan dokter Sandra.
"Dua kali konseling sama kamu, Sukma sedikit ada kemajuan. Tidurnya juga sudah normal, nggak seperti sebelumnya yang terkadang terbangun di tengah malam. Emm, perlahan juga dia sudah mau ngangkat wajah saat dengan kami."
Mendengar penjelasan Fifi, dokter Sandra kembali tersenyum. "Bagus, ya, cantik! Kamu sudah banyak kemajuan, loh. Tante yakin, nggak lama kamu bakal sembuh."
Dokter Sandra kemudian beralih menatap Fifi. "Obatnya diminum?"
"Iya," jawab Fifi. Sandra menghela napas lega, Sukma tidak melakukan penolakan pada obat yang diberikan. Sandra hanya berharap, kalau Sukma akan segera sembuh.
"Oke, kalau begitu, kita ke kamar kamu, ya. Ada beberapa pertanyaan yang akan Tante tanyakan ke kamu."
Tiga orang tersebut kemudian melangkah menaiki anak tangga, menuju kamar Sukma.
__ADS_1
"Sukma waktu kecil suka apa?" tanya dokter Sandra.
Sukma yang tengah duduk bersandar di atas ranjang terlihat menatap dokter Sandra polos.
"Emm, makanan kesukaan Sukma apa?" Dokter Sandra merubah pertanyaannya.
"Ku...e b...buatan A...ay...ah." Terbata. Gadis itu menjawab dengan terbata, seolah ia kesulitan berbicara. Padahal untuk bernyanyi bersama Fifi, lancar-lancar saja.
"Wah, Tante juga suka loh, dulu makan kue buatan Ayah Tante. Rasanya enak, ya."
Sukma mengangguk pelan sebagai jawaban. Wajahnya masih polos tak menampilkan raut apapun di sana.
"Terus apalagi yang Sukma suka?"
"Di...dia baik. Ay...ah tam...pan. Rajin be..bekerja." Dokter Sandra tersenyum lagi. "Wah, pasti Ayah kamu Ayah tertampan di dunia."
"Di...dia tampan Ka...kayak Ab...bang."
Dokter Sandra dan Fifi terkejut. Abang? Abang siapa yang dimaksud Sukma?
"Abang? Sukma punya Abang, Nak?" tanya Fifi penasaran. Wanita yang berdiri di sisi Sukma.itu mengelus rambut sang anak angkat dengan sayang.
__ADS_1
Sukma mengangguk. "Abangnya di mana?" tanya dokter Sandra.
"Seko...lah?" Sukma terlihat menjawab dengan ragu.
"Sekolah di mana?" tanya dokter Sandra lagi. Apa jangan-jangan gadis ini benar-benar memiliki saudara?
"Sekolah di...Seko...AAARRGGGHHHH!"
"JANGAN!"
"AKU NGGAK MAU SEKOLAH! MEREKA JAHAT!"
"TOLONG!!"
Sukma tiba-tiba berteriak histeris. Entah kejadian apa yang terlintas di otak gadis itu hingga membuatnya tiba-tiba hilang kendali.
Fifi langsung memeluk Sukma. Berusaha menyadarkan gadis itu. "Sayang, hei, dengar. Di sini, hanya ada Mama. Sukma, sadar ya, sayang. Mama di sini. Kamu nggak akan ada yang nyakitin. Mama akan hukum mereka, oke?"
"M...mereka jahat. A..ku...mereka jahat!" Sukma mulai tenang, namun masih terus bergumam.
Fifi menatap ke arah dokter Sandra meminta pendapat.
__ADS_1
"Aku rasa, ada sesuatu yang pernah terjadi saat dia sekolah dulu." Dokter Sandra mendekat, mengelus bahu Sukma lembut. Rambut gadis itu terlihat berantakan karena ia menarik rambutnya sendiri tadi.
"Sukma tenang ya, sayang. Ayo, Sukma bobo dulu." Fifi membantu Sukma berbaring. Mengelus rambut gadis itu dengan pelan, hingga perlahan mata Sukma mulai tertutup.