
"Abang boleh masuk?" Nathan mengetuk pintu kamar Sukma yang sedikit terbuka. Sukma mendongak, dan memberi anggukan pelan pada Nathan yang masih setia berdiri di depan pintu.
"Abang punya hadiah untuk kamu," ujar pria itu. Sukma melirik tangan Nathan yang sebelahnya disembunyikan ke belakang.
Gadis cantik itu mengulas senyum geli. "Hadiah?"
Nathan mengangguk. "Kamu pasti senang, dan benda ini bisa mengisi waktu luang kamu selain novel itu." Sukma tertawa mendengar ucapan Nathan. Setiap Nathan masuk ke kamarnya, pasti dia sedang membaca novel. Mungkin Nathan sudah bosan melihatnya selalu sibuk dengan novel, sampai-sampai pria itu ingin memberikannya sesuatu yang baru.
"Aku pikir hadiah dari Abang novel juga."
Nathan menggeleng. "Bukan, dong! Ini beda, bisa juga kamu gunain membaca, dan belajar hal-hal lain di sini."
Sukma semakin penasaran. Dia mendekat ke arah Nathan yang sudah duduk di pinggir kasur. Ikut duduk di samping pria itu, dengan posisi wajah mereka yang saling berhadapan. Sesekali, Sukma melirik penasaran ke benda yang disembunyikan Nathan di belakangnya itu.
"Penasaran, ya?" goda Nathan.
Sukma mengangguk jujur, membuat Nathan tergelak. Kalau gadis lain, mungkin akan menggeleng sebab merasa gengsi. Atau marah ketika Nathan malah menggodanya. Tapi Sukma, gadis itu malah bersikap jujur dan polos, layaknya ketika anak kecil ditanya.
Tangan Nathan yang satunya langsung menepuk dengan lembut kepala adiknya itu. Ah, ternyata punya adik nggak seburuk dugaannya. Dia bisa punya hiburan di rumah ini.
__ADS_1
"Nih, hadiahnya!" Nathan memberikan benda di tangannya pada Sukma.
"Ini..."
"Ponsel. Abang tanya ke dokter Sandra apa kamu udah bisa gunain ponsel, dan katanya sudah boleh. Asal ponselnya dipakai buat hal-hal yang menghibur kamu. Di sini, kamu juga bisa dengarin musik."
Sukma mendongak, menatap terharu pada Nathan. "Ini benaran untuk aku?"
Nathan mengangguk. "Nih, di sini juga udah Abang isi nomor Mama, Papa, sama Abang."
Sukma mengangguk senang. Saking senangnya, dia kembali memeluk Nathan dengan erat. Nathan yang terkejut sontak terdiam, Sukma sangat suka memberikan pelukan mendadak seperti ini, dan berakhir membuat Nathan bagaikan patung. Nathan menghembuskan napasnya kasar, berusaha menguasai diri dan menenangkan jantungnya yang berdebar sangat kencang. Tangannya terangkat, membalas pelukan gadis itu, dan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Sukma melepas pelukannya, dan menatap Nathan dengan wajah bingung. "Nomor Bang Neo dan Bang Daniel nggak disimpan sini, Bang?"
"Loh, kenapa?" tanya Sukma bingung.
"Hanya nomor keluarga yang bisa disimpan di situ," ujar Nathan lagi. Wajahnya kini menjadi datar, dan sangat kentara tak suka saat Sukma bertanya akan dua temannya.
"Gitu, ya? Kalau Sukma mau hubungin Bang Daniel sama Bang Neo gimana?"
__ADS_1
Nathan melotot, "ngapain kamu hubungin mereka? Nggak boleh! Kalau ada perlu, nanti Abang aja yang hubungin mereka. Nggak boleh kamu."
Sukma mengangguk mengerti. "Oke, nanti kalau aku mau main sama Bang Neo dan Bang Daniel, aku bilangnya ke Abang, ya?"
Nathan mendengus. "Emang kamu suka, main sama dua orang aneh itu?"
Sukma mengangguk. "Mereka nggak aneh, kok. Malah Sukma, kan, yang aneh sebenarnya?"
Nathan terdiam. Merasa bersalah, karena mungkin pertanyaannya menyinggung gadis itu.
"Maaf, Abang nggak bermaksud. Kamu nggak aneh kok, orang kamu spesial kaya gini. Sespesial martabak."
"Bang!"
"Apa?" tanya Nathan.
"Jangan marah, ya? Sukma pengen sesuatu."
Nathan mengangguk. "Bilang aja. Kamu mau apa?"
__ADS_1
"Sukma tiba-tiba pengen martabak."
Nathan langsung tertawa. Akhir-akhir ini, nafsu makan Sukma juga meningkat. Fifi, Hisyam dan Nathan pun senang akan hal itu. Mereka tak menyangka, kesembuhan Sukma begitu cepat. Obat yang dari dokter Sandra pun sudah jarang dikonsumsi. Hanya saja, Sukma masih sulit membuka mulut untuk masalah yang membuatnya sering histeris waktu itu. Kata dokter Sandra tak apa, suatu saat Sukma pasti akan bercerita. Asal gadis itu baik-baik saja.