Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Murid Baru


__ADS_3

Tepat pukul 6 lewat tiga puluh menit, seorang pria turun dari sebuah mobil dengan langkah santainya. Dia dengan percaya diri berjalan memasuki area sekolah, tanpa mempedulikan tatapan mata penuh keheranan yang ditujukan padanya. Bagaimana tidak, dia datang dengan hanya menggunakan kaos santai berwarna hitam dan celana berwarna abu-abu.


"Dia siapa?"


"Alumni sini, kali!"


"Ganteng banget, ya!"


"Issh, jalannya cool banget!"


Semua ucapan itu berhasil masuk di telinganya. Dengan tersenyum miring, ia melanjutkan langkah. Tujuannya saat ini adalah ruangan guru.


Di tengah koridor, dia mencegat salah satu murid dengan penampilan khas anak-anak kutu buku. Seragam yang dikenakan rapi, rambut klimis yang disisir belah tengah, dan tak lupa kacamata tebal yang membingkai kedua belah matanya.


"Heh, Bro! Bisa tunjukin ke saya ruangan guru di bagian mana?" Dia mengumbar senyum tipis yang bahkan terlihat seperti seringaian.


Melihat pria di depannya tak kunjung menjawab, pria itu menghembuskan napas kasar. Dia kemudian mencengkram pundak si pria culun dengan sedikit keras, namun wajahnya tetap ia buat sesantai mungkin.

__ADS_1


"I...iya, s...saya tunjukkan." Si pria culun itu terlihat tersadar saat pundaknya terasa sakit.


Pria itu tersenyum kecil dan melepas cengkraman tangannya. Kini tangannya berganti menggandeng pundak si pria culun. Dia dapat merasakan jika tubuh si pria culun itu sedikit gemetar.


"Ini, ruangannya!" Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan yang bertuliskan Ruang Guru di atasnya. Pria itu mengangguk, berbalik menatap si pria culun dan kembali melemparkan senyuman. Kali ini, senyuman itu terlihat wajar, bukan seringaian seperti tadi.


"Oke, terima kasih!" Setelahnya, dia mengetuk pelan pintu tersebut, dan masuk ke dalam setelah mendengar jawaban yang menyuruhnya masuk.


"Kamu murid baru itu?" Seorang wanita paruh baya bertanya pada si pria sembari meneliti penampilannya yang memang terkesan tak sopan itu. sementara guru-guru yang lain terlihat sibuk di meja masing-masing.


"Iya, Bu!" Pria itu memberikan cengiran lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


"Kamu kenapa ke sini nggak pakai seragam? Kamu ini masih baru, tapi sudah aneh-aneh saja."


Bukannya merasa bersalah, si murid baru itu hanya menanggapinya dengan tawa. "Ya maaf, Bu! Habisnya, saya belum punya seragam sini. Masa saya pakai seragam lama, kan aneh. Saya nggak mau jadi pusat perhatian," ujarnya beralasan. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja. Toh, tadi dengan penampilannya yang seperti ini malah jadi pusat perhatian juga.


Bu Santi menghela napas kasar. "Ya sudah, kamu ke koperasi sana. Tebus seragam baru di sana."

__ADS_1


Pria itu mengangguk. "Oh ya, kelas saya di mana, Bu?"


"Kelas XI IPA B, cari saja. Kalau kamu sudah selesai ganti seragam. Kebetulan saya wali kelas kamu." Pria itu mengangguk. Pantas saja hanya guru itu yang menanganinya, sementara yang lain cuek saja. Ternyata dia wali kelasnya.


"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu membungkukkan badannya sejenak, sebelum berbalik pergi.


"Itu murid baru, Bu?" Pertanyaan dari seorang guru membuat Bu Santi menoleh dan memberikan anggukan.


"Penampilannya kaya gitu, yakin deh, bakal nambah lagi murid bandel kita," ujar si guru.


Bu Santi menghembuskan napas kasar. "Semoga saja tidak. Kita tidak bisa berburuk sangka hanya dengan sekali lihat, Bu." Padahal dia tadi juga sempat berpikir begitu. Tapi, dia merasa hal seperti itu tak pantas disuarakan.


"Ah, Bu Santi selalu begitu. Selalu membela anak-anak nakal kaya mereka. Apa karena mereka anak orang kaya?" guru wanita itu menatap Bu Santi dengan pandangan yang terkesan mengejek.


"Siapapun mereka, mereka tetap murid saya. Seburuk apapun mereka, selagi saya bisa mempertahankan hak belajar mereka, akan saya lakukan. Baik kaya ataupun miskin, mereka punya hak yang sama." Bu Santi berujar dengan tegas.


"Sebaiknya, anak nakal seperti mereka dibiarkan saja Bu. Takutnya, malah seperti si Riana Kusuma itu, kan? Ibu malah dikecewakan sama anak itu karena ternyata dia mengonsumsi nark0b4?"

__ADS_1


Bu Santi mengepalkan tangannya mendengar ucapan rekan kerjanya itu. "Bu Wati seharusnya tidak menyinggung masalah itu. Dan sampai saat ini, saya yakin Riana bukanlah anak seperti itu. Dan saya akan buktikan, kalau Riana tidak pernah mengecewakan saya."


Guru yang dipanggil Bu Wati itu hanya mendengus kesal dengan wajah julidnya. "Terserah Ibu, sih. Buktinya tetap begitu, kan? Ibu dikasih tahu malah ngeyel."


__ADS_2