
Leon kini tengah duduk sendirian di Cafe depan sekolah. Menikmati sepotong cake dan segelas avocado juice, sembari memikirkan keruwetan kasus yang tengah ia tangani ini.
Siska sudah pulang sejak tadi, namun Leon malas beranjak dari sana. Sampai lonceng pintu cafe terbuka, dia melihat seorang pria memakai Hoodie hitam memasuki Cafe, wajah pria itu tak kentara sebab tertutup.oleh masker. Leon tiba-tiba teringat Mr. Black yang dikatakan Nathan. Sebisa mungkin, Leon berusaha santai meski sesekali mengawasi pergerakan pria berhoodie itu.
Si pria berhoodie hitam berjalan menuju kasir. Berbicara dengan si kasir dengan kepala yang saling berdekatan, seolah mereka tak ingin ada yang mengetahui hal apa yang mereka bicarakan. Leon jadi semakin curiga. Sesaat setelah itu, si pria berhoodie hitam tadi menaiki anak tangga. Leon tetap duduk diam di sana, mengawasi apakah si pria itu akan segera kembali atau tidak. Namun, setengah jam dia berada di sana, pria itu tak juga kunjung menuruni anak tangga kembali.
"Mr. Black? Hmm, menarik!" gumam Leon.
Setelah merasa Mr. Black tak akan turun dari sana, Leon akhirnya memilih pulang saja. Dia tak menyangka, misinya akan selama ini. Terlalu banyak teka-teki pada kasus Sukma, dan melibatkan banyak nama. Leon harus pintar memilih, jangan sampai dia salah memahami siapa yang benar dan siapa yang bersalah di sini. Bukan hanya insting yang bekerja, namun logika juga harus menghubungkannya dengan kebenaran.
____________
Di sisi lain, Nathan tengah memperhatikan tab di tangannya. Memutar rekaman CCTV hari ini, melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan di ruangan guru. Semua berkat Leon, memang benar kata Neo, kalau Leon memang anak yang cerdik meskipun menyebalkan. Leon bisa memasang camera tersembunyi di ruangan guru, juga alat penyadap suara di sana.
__ADS_1
Nathan berdecak pelan, karena tak menemukan kejanggalan di sana. Dari obrolan pun sama, yang Nathan dengar hanyalah obrolan biasa. Nathan jadi teringat ruangan kepala sekolah. Tunggu, sepertinya Leon harus memasang CCTV juga di sana.
Nathan mengeluarkan ponselnya, menghubungi nomor Leon namun tak mendapati jawaban dari anak itu. "Ah, ini anak ke mana sih? Pake nggak angkat segala!"
"Kak?!" Nathan terkejut, buru-buru dia mematikan tabnya dan berbalik menatap Sukma.
"Eh, kenapa? Kok ke sini?" tanya Nathan. Dia mendekat ke arah Sukma, dan menepuk kepala gadis itu dengan lembut.
"Oh, ya udah kalau gitu. Ayo!" Nathan meletakkan ponsel dan tabnya di atas kasur, dan langsung menggandeng tangan Sukma agar segera keluar dari kamarnya. Sukma menatap Nathan yang berjalan di sampingnya dengan curiga. "Kakak habis ngapain? Kok kaya tegang gitu mukanya?"
Nathan menghentikan langkah. Tak menyangka Sukma sepeka itu akan ekspresinya.
"Ng..nggak ada apa-apa. Mana ada muka Kakak tegang." Nathan kembali menarik tangan Sukma untuk berjalan.
__ADS_1
"Kakak nggak habis nonton aneh-aneh, kan?"
Nathan kembali menghentikan langkah dan menatap Sukma dengan wajah tak habis pikirnya. "Astaga! Nonton aneh-aneh apaan? Kakak bukan orang yang kaya gitu, ya?!" sangkal Nathan.
"Nggak tau juga aneh-aneh yang kaya gimana. Kenapa wajah Kakak kaya gitu?" balas Sukma.
Nathan jadi curiga, Sukma ini tak mengerti apa yang dia ucapkan sendiri. "Tunggu, kamu nanya kakak nonton aneh-aneh memangnya tahu dari mana?"
"Kak Daniel. Katanya kakak itu kalau sendirian suka nonton yang aneh-aneh. Makanya aku tadi nanya. Memangnya, hal aneh kaya gimana yang kakak nonton?"
Nathan mengepalkan tangannya kesal. Daniel, dia sudah meracuni otak polos Sukma. Namun, Nathan juga malah jadi kasihan pada Sukma. Karena jarangnya bergaul atau lebih tepatnya tak pernah bergaul dengan orang lain, Sukma malah tak mengerti maksud kata itu.
"Udah, Daniel itu memang suka jahil. Nggak usah kamu dengarin lagi kalau dia ngomong."
__ADS_1