Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Oh, Tuhan!


__ADS_3

"Kak, tamunya udah pergi?" tanya Sukma. Gadis itu berniat mengantarkan minuman yang ia buatkan untuk teman sang abang.


"Iya. Udah pulang. Dia nggak lama. cuma mau minjam tugas aja, tadi."


Sukma menautkan alisnya. "Bukannya kalian beda jurusan? Kenapa minjam tugas di Abang?"


Nathan terdiam. Ternyata dia salah memberi alasan. "Ah, iya. Maksud Abang itu, buku referensi untuk tugasnya dia. Abang kemarin minjam buku di perpus kebetulan dia juga butuh buku itu. Makanya dia minjam di sini."


Sukma mengangguk mengerti. "Bang Daniel sama Bang Neo nggak ke sini, ya? Sukma kangen sama mereka."


Nathan memegang bahu Sukma, dan membawa menghadap dirinya. "Kangen?" tanya pria itu dengan ekspresi tak suka yang sangat kentara.


"Iya. Aku kangen main sama mereka. Kalau ada mereka, rumah jadi rame."


Nathan mendengus. "Nggak cukup ada Abang aja?"


Sukma yang menyadari kalau sang abang mungkin sedang cemburu langsung tertawa kecil. "Jangan cemburu. Abang tetap Abang nomor satu di hati Sukma, kok."


Nathan mendengus pelan. Abang, ya? tapi memang benar begitu, kan?


"Terus minumannya ini gimana?" Sukma melirik tangannya yang membawa nampan.


"Kita minum berdua aja. Ayo!" Nathan mengajak Sukma duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Tangannya mengambil remote tv dan mencari-cari Chanel yang menarik perhatiannya.


"Ih, Abang ngapain mutar FTV?" Sukma tertawa saat Nathan berhenti di Chanel yang sering memutar FTV cinta-cintaan.


"Nonton aja. Biar nanti pas kamu dewasa, kamu bisa praktekin jurus meraih cinta ala FTV ke cowok yang kamu suka," ujar Nathan menggoda.


"Tapi Apin pasti nggak mau kalau aku gombal-gombal kaya cewek itu ke pacarnya." Sukma menunjuk ke arah TV. Adegan di sana menampilkan si wanita tengah melancarkan gombalan pada pria yang sudah lama dikejarnya.


Nathan seketika melotot. Buru-buru pria itu mengganti Chanel ke yang lain.


"Kok malah diganti?" tanya Sukma. Gadis itu menoleh pada sang Abang dengan ekspresi polos.

__ADS_1


Nathan mendengus pelan. "Belum boleh mikir cinta-cintaan," jawab pria itu dengan asal.


"Apaan? Abang sendiri tadi yang duluan bilang, kan?"


"Abang cuma bercanda. Lagian, Apin itu saudara kamu, kan?"


Nathan seketika menyesal mengeluarkan ucapan itu saat melihat wajah Sukma yang berubah murung. Padahal niatnya bukan seperti itu.


"Iya, ya. Apin sama kaya Abang. Saudara Sukma juga."


Sekarang Nathan malah tambah menyesal karena Sukma malah mengatakan kalimat itu.


"Abang mau ke atas dulu. Perut Abang tiba-tiba sakit." Nathan berpamitan pada Sukma. Sukma menatap bingung pada Nathan yang sudah menaiki anak tangga. "Hah? Abang kok jadi kaya orang aneh, ya?"


***


Di kamarnya, Nathan mengusap rambutnya kasar. Pria itu menepuk-nepuk pipinya pelan. "Benar yang dikatakan Sukma, Nathan. Kamu itu saudaranya. Terus, apa yang kamu harapkan?"


"Aku sudah lama naksir Laras, dan secepat itu aku lupain dia. Pasti aku juga bisa melupakan perasaanku ke Sukma. Dan itu, harus aku lakukan. Sukma itu adikku, dan nggak boleh nak..."


"Nggak boleh, apa?" Suara Fifi membuat Nathan seketika bangun. Mata pria itu melotot saat melihat sang mama yang entah sejak kapan berada di kamarnya.


"Mama!" gumamnya pelan.


"Nggak boleh apa?" tanya Fifi lagi.


Nathan langsung gugup. Nathan yakin seratus persen kalau mamanya tadi sudah mendengar ucapannya itu.


Fifi menutup pintu kamar Nathan. "Bang, kamu suka Sukma?" Fifi melemparkan pertanyaan yang membuat Nathan semakin gugup.


"Iyalah aku suka Sukma, Ma. Kalau enggak, mana mungkin aku berubah baik ke dia, kan? Sukma, kan, adik aku."


Fifi menggeleng. Masih menatap Nathan dengan pandangan menilai. "Kamu bohong. Bukan suka seperti itu yang Mama maksud, dan kamu pasti paham ucapan Mama."

__ADS_1


Nathan menghela napas kasar. "Ma...lupain aja yang Mama dengar tadi, ya!" pinta Nathan.


"Nak! Sukma itu adik kamu. Perasaan kamu itu, bisa merusak persaudaraan kalian. Mama bukannya mau ngatur perasaan kamu. Tapi Mama nggak ngizinin, kalau kamu menyukai Sukma lebih dari saudara."


Nathan tertunduk mendengar ucapan mamanya. "Aku tahu, Ma. Karena itu, Nathan mau berusaha ngilangin perasaan ini. Nathan yakin, ini mungkin cuma perasaan sementara, kok."


Fifi menghela napas berat. "Ada banyak gadis di luaran sana. Jadi, please, Nak, jangan Sukma. Oke? Mama cuma takut, kalau perasaan kamu bisa merubah persaudaraan kalian.


"Bagi Mama, meskipun hanya anak angkat, Sukma itu sudah Mama sayangi layaknya anak sendiri. Sama porsinya dengan kasih sayang Mama ke kamu. Jadi, kalau suatu hubungan kalian renggang, Mama harus bagaimana? Itu hal yang paling Mama takutkan."


Nathan mengangguk lesu. Benar yang dikatakan Mamanya. "Aku akan berusaha untuk mengatasi perasaan ini, Ma." Nathan berjanji.


"Mama sejak awal memang sudah curiga. Tingkah kamu ke Sukma, bukan layaknya tingkah Kakak ke adiknya. Kamu sering cemburu nggak jelas. Terlalu posesif, dan uring-uringan karena dia. Mama berusaha untuk berpikiran positif. Tapi ternyata, pikiran Mama terpatahkan. Kamu benaran naksir dengan Sukma."


"Maafin Nathan, Ma. Kalau perasaan Nathan membuat Mama kecewa."


Fifi hanya mengelus kepala sang anak dengan lembut. Wanita itu memberikan senyumannya. "Jangan sampai Sukma tahu, ya. Takutnya, dia malah menjauhi kamu. Mama nggak mau hubungan kalian rusak." Nathan mengangguk patuh. "Iya, Ma," ujar pria itu.


***


Sepeninggal Fifi, Nathan menghela napas berat. Dia harus mencari solusi, agar perasaan ini bisa hilang.


"Apa aku tinggal di apartemen aja, ya, nanti? Kalau aku jauh dari Sukma, perasaan ini akan perlahan menghilang juga, kan?"


Kebetulan Nathan juga sebentar lagi akan memasuki semester akhir. Semester tujuh nanti, dia pasti akan lebih sibuk. Itu bisa dia gunakan sebagai alasan untuk tinggal di apartemennya yang dekat kampus.


"Oh ya, aku juga pasti bakal magang, kan? Ah, aku pasti bisa menyibukkan diri nanti. Biar nggak selalu kepikiran Sukma. Mudah-mudahan, dengan begini aku bisa melupakan perasaan ini dengan cepat. Ayo, Nathan! Kamu pasti bisa!" Nathan memberi semangat ke dirinya sendiri.


"Daniel juga punya banyak kenalan cewek. Minta dia ngenalin ke salah satunya, nggak apa-apa kali, ya?" Sesaat kemudian, Nathan menggeleng. "Ah, kenalannya Daniel kan nggak ada yang benar. Sudahlah, Nathan. Paling benar itu fokus kerja aja. Mikirin perasaan nanti aja. Yang jelas, hubungan baik sama Sukma nggak boleh terganggu hanya karena perasaan nggak jelas ini!"


Pikiran Nathan menerawang. Membayangkan jika dia menghabiskan banyak waktunya di luar rumah. Tinggal di apartemen, mengurus skripsi sedikit demi sedikit, magang di kantor papanya, ngejar waktu wisuda. Lalu, bagaimana dengan Sukma nanti? Bukankah gadis itu akan mulai masuk ke universitas juga?


Nathan menggeleng. Lagi-lagi pikirannya malah belok ke Sukma. Oh Tuhan, kenapa juga dia harus jatuh cinta pada adik angkatnya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2