
"Dek, lihat! Ke bawah, yuk!" Nathan yang baru saja membuka pintu kamar Sukma dari luar, langsung mengajak gadis itu untuk turun ke bawah.
Sukma yang tadinya sedang melamun, sedikit terperanjat, kaget akan kedatangan sang Abang.
Nathan berjalan mendekat, kemudian duduk di atas kasur, lebih tepatnya di samping Sukma. Nathan melihat ada sebuah novel di tangan Sukma, namun Nathan tahu, sejak tadi gadis itu tidak sedang membaca. Sukma hanya asik melamun saja.
"Mikirin apa, sih?" tanya Nathan dengan nada lembut.
Sukma terdengar menghembuskan napas berat, sebelum menjawab pertanyaan abangnya itu.
"Aku nggak mikirin apa-apa, kok."
Nathan menggeleng. Jari telunjuknya menusuk-nusuk pipi gadis itu dengan lembut. "Jangan bohong, ah. Ini keliatan banget, mukanya habis melamun."
Sukma kembali menghembuskan napas berat. "Nggak apa-apa, Abang!" Gadis itu menatap Nathan, dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya, memberikan senyuman agar Nathan bisa percaya kalau dia baik-baik saja.
"Baiklah, kalau kamu nggak kenapa-napa, kita sekarang turun. Di bawah, ada Bang Daniel sama Bang Neo."
Sukma mengangguk pelan. "Mereka ke sini, memangnya?"
Nathan mengangguk. "Iya. Tadi ada perlu sama Abang, tapi sekalian Abang tahan mereka dulu buat main."
"Mama sama Papa, mana?" tanya Sukma sembari turun dari atas ranjang. Nathan dengan sigap memegang pundak gadis itu saat Sukma hampir terjatuh.
"Mama sama Papa lagi pergi. Ada urusan bisnis gitu lah." Nathan menjawab dengan kebohongan. Usaha untuk mencari tahu latar belakang trauma Sukma yang membuat gadis itu sering syok ketika mendengar kata sekolah, memang sengaja tak mereka beritahu pada Sukma. Karena jika diberi tahu, Sukma jelas pasti akan melarang mereka.
Nathan mengambilkan sendal rumahan milik Sukma yang terletak di dekat pintu kamar, dan menaruhnya di bawah kami Sukma. "Pakai sendalnya." Nathan menatap kaki itu, ckk! bahkan kakinya saja terlihat sangat rapuh di mata Nathan. Nathan berjanji, dia tidak akan pernah berbuat hal yang bisa membuat sang adik angkat semakin terluka. Hidup dan tubuh itu begitu rapuh, layaknya sebuah kaca yang retak, dan sebentar lagi akan tercerai berai jika salah mendapatkan sentuhan.
"Hai, adik manis! Gimana kabarnya?" Daniel langsung menyambut saat melihat Sukma dan Nathan yang berjalan beriringan mendekat ke arah mereka.
Sukma tersenyum tipis. "Sukma baik. Abang gimana?"
__ADS_1
"Abang Alhamdulillah, sehat wal afiat."
Neo dan Nathan mendengus, mendengus ucapan si manusia yang tak memiliki agama itu.
"Bentar lagi dia log in, kayanya, Nat," ujar Neo.
Daniel mendengar ucapan Neo malah tertawa. "Demi Dedek Manis, apa sih yang enggak. Nyawa aja berani kupertaruhkan."
Nathan mengambil banyak sofa, dan menimpukkannya ke wajah Daniel. "Nggak usah besar mulut, Niel! Dasar buaya!"
Daniel kembali tertawa. "Buaya salah satu mahluk paling setia, loh, Nat. Kasian si buaya difitnah mulu sama manusia."
"Mana ada fitnah? Itu emang benar," bela Neo.
"Eh, gini ya. Buaya itu saat musim kawin, hanya mau mengawini betina yang sama dengan tahun sebelumnya dan sebelumnya. Baru tahu, kan?" ujar Daniel dengan bangga. "Si buaya yang setia gitu, nggak patut disamain sama spesies sejenis Bapak aku!" ujarnya lagi--menambahkan.
"Emang lebih patut kamu sih, Niel, yang disamain sama bapakmu. Suka gonta-ganti cewek!"
Nathan dan Neo tertawa mendengar keluhan Daniel tersebut. "Salah Niel, yang ngalir kamu itu playboynya dia, kamu mah nggak ada tampan-tampannya sama sekali," ujar Neo.
Sukma tersenyum melihat tiga orang tersebut yang tengah bercanda. Hatinya sedikit terhibur sebab keramaian yang diciptakan oleh mereka. Nathan yang memang sejak tadi selalu mencuri pandang ke arah Sukma untuk melihat reaksi gadis itu, menghembuskan napas lega saat melihat senyum tulus terukir di bibirnya. Bukan lagi senyum kepura-puraan untuk menyembunyikan kesedihan seperti sebelumnya. Nathan mungkin akan berterima kasih pada dua sahabatnya itu, tapi nanti. Kalau diucapkan sekarang, bisa-bisa mereka besar kepala dan malah meminta direstui dengan Sukma.
Sukma tersentak saat merasakan tangannya digenggam. Ia menatap Nathan yang juga sedang menatapnya sembari tersenyum. "Kamu senang, mereka Abang ajak ke sini?" tanya Nathan.
Sukma mengangguk. "Iya," ujarnya pendek.
Nathan mengelus rambut Sukma dengan penuh kelembutan. "Kalau gitu Abang akan sering ngajak mereka ke sini." Ya, Nathan rela sering mengajak dua manusia itu ke sini demi Sukma. Sekalipun dia sering emosi pada keduanya yang sering nggak tahu diri. Apalagi si Daniel yang suka menebar kalimat manis dari mulut busuknya.
"Abang Daniel sama Abang Neo memangnya ke sini tadi ada keperluan apa?" tanya Sukma.
Daniel dan Neo yang tadi sedang adu mulut langsung fokus ke gadis itu. "Mau nyusulin Abang kamu, tuh! Dia nggak masuk kelas, tadi. Kita pikir, dianya sakit," jawab Neo.
__ADS_1
Sukma mengangguk mengerti. "Enak ya, punya teman." Meski diucapkan dengan senyuman, namun kalimat gadis itu langsung membuat ketiga orang yang ada di sana terdiam.
"Nggak enak kok. Apalagi kalau teman nggak tahu diri kaya mereka. Abang tersiksa malah!" ujar Nathan bercanda.
Sukma tertawa. Dia tahu Abangnya itu hanya bercanda. Lagipula, dia melihat kalau Nathan menyayangi dua sahabatnya itu. Hanya saja, seperti kata sang mama, kalau Nathan itu manusia penuh gengsi.
"Enak aja, Nat! Daripada situ sering nggak tahu terima kasih!" balas Daniel.
"Mana gengsian, lagi!" Neo menambahkan.
Sukma kembali dibuat tertawa oleh mereka. "Eh, Bang, aku punya ponsel baru, loh!" Sukma tiba-tiba menyeletuk yang membuat Nathan melotot.
Neo dan Daniel yang mendengar hal itu langsung antusias. "Oh, ya? Terus di mana?"
Sukma meringis, "iya. Dibeliin sama Bang Nathan, tapi aku lupa di kamar."
"Kalau gitu minta nomor kamu, ya. Biar kita bisa teleponan, video call juga."
Nathan kembali mengambil bantal sofa dan menimpukkannya ke kepala Daniel. "Nggak usah modus!"
"Abang, kasihan!" Nathan langsung melotot saat Sukma merengut ke arahnya.
Sementara Daniel yang mendengar itu langsung berekspresi seperti orang kesakitan. "Iya, aduh! Lihatin dong, Dek, siapa tahu kepala Abang luka."
Nathan akan kembali menimpuk kepala Daniel dengan bantal, namun batal karena tangannya ada yang menggenggam. "Nggak boleh sering mukul Abang, meskipun bercanda. Itu kata Ayah Sukma dulu," ujar gadis itu dengan lembut.
Nathan langsung meringis. "Maaf. Untung kamu ingatin! Adik Abang ini emang anak baik." puji Nathan.
"Karena Sukma anak baik, mending jodohin sama aku aja, Nat! Biar aku ikutan jadi anak baik!" Daniel kembali berujar hal yang membuat Nathan emosi. Namun, elusan menenangkan di tangannya membuat Nathan batal menelan Daniel.
Sementara Neo malah menggeleng pelan. "Ketika anak tunggal, mendapatkan boneka cantik! Nggak mau berbagi!" Kemudian ia tertawa sendiri. Detik selanjutnya, dia malah terdiam melihat interaksi Nathan dengan Sukma. "**1*! Aku menyadarinya, dasar bodoh!" ia tertawa sendiri. Fokus Nathan dan Daniel hanya ada pada Sukma, jadi tak ada yang memperhatikan Neo.
__ADS_1