Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Berusaha Tak Egois


__ADS_3

"Loh, Ma, kenapa ada Tante Sandra di sini?" tanya Nathan heran. Pasalnya, Sandra adalah adik sepupu sang mama yang berprofesi sebagai psikolog. Nama Sandra bisa dikatakan terkenal, karena beberapa kali mendapati pasien dari kalangan artis. Apalagi, nama keluarga mereka memang sudah terkenal sebelumnya.


"Eh, Nathan? Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Terakhir ketemu, pas ulang tahun kamu tahun lalu, kan?" Dokter Sandra dan Fifi yang tengah berbincang akhirnya menyadari kedatangan Nathan. Tadi keduanya terlalu asik mengobrol, sampai-sampai tak mendengar seruan salam dari Nathan.


Nathan mendekati Dokter Sandra, mencium tangan wanita itu dengan takzim. "Iya, Tante. Tante, sih, jadi orang sibuk banget," canda Nathan.


Sandra terkekeh pelan. "Ya gimana, tuntukan pekerjaan."


"Itu sebabnya Nathan mau jadi pengangguran aja, nanti," balas Nathan yang kemudian langsung meringis pelan karena mendapatkan geplakan gratis dari sang mama.


"Sembarangan kalau ngomong. Perusahaan Papa kalau bukan kamu yang nerusin, memangnya siapa lagi?" ujar Fifi dengan kesal. Sandra dan Nathan yang mendengar itu lantas tertawa bersama. Nathan itu memang sangat suka membuat mamanya kesal.


"Oh, ya, pertanyaan aku tadi belum dijawab, loh." Nathan langsung teringat ucapannya tadi.


"Ah, cuma mau jalan-jalan aja. Udah lama nggak ke sini, memangnya nggak boleh?"


Nathan menggeleng. "Bukan gitu, Tan. Cuma, tumben aja, gitu."


"Ya sudah, Mbak. Aku pulang dulu. Dua hari lagi aku ke sini, semoga pertemuan kedua ada perkembangan."

__ADS_1


Fifi menghela napas, kemudian mengangguk pelan. "Ya, semoga."


"Mbak bisa perlahan-lahan juga bantu dia. Dukungan orang-orang terdekat sangat penting untuk kemajuan kesehatannya." Seolah melupakan Nathan yang tadi sempat bertanya alasan kedatangan Sandra, dua wanita itu malah membahas masalah yang membuat Nathan jadi makin penasaran.


"Ya sudah, aku pergi dulu Mbak!"


"Ayo, aku antar ke depan."


Fifi dan Sandra sudah berjalan menuju teras rumah, meninggalkan Nathan yang menatap keduanya dengan lamat-lamat. Nathan menghembuskan napas pelan, kemudian memilih duduk di sofa yang ada di sana. Dia akan bertanya pada sang mama, karena Nathan tak ingin ada yang mereka rahasiakan darinya.


Selang lima menit kemudian, Fifi ikut duduk di Samling sang anak. Nathan menatap wajah mamanya yang terlibat mendung.


"hhffft!" Helaan napas terdengar dari Fifi. "Sukma. Dia butuh psikiater, untuk menghilangkan traumanya."


Nathan mengangguk pelan. "Separah apa?" tanya Nathan lagi.


Fifi menggeleng pelan. "Kata Tante kamu, depresinya itu lumayan parah. Kamu juga lihat sendiri, kan, bagaimana Sukma?"


"Terus?" Nathan semakin penasaran.

__ADS_1


"Dia butuh penanganan lebih. Hanya saja, Sukma jelas tak memungkinkan untuk di bawa ke Rumah Sakit Jiwa, karena itu bisa saja semakin mengguncang mentalnya. Di sini, dia masih ada Mama, Papa, sama kamu juga untuk jadi pendukung dia sembuh. Meskipun dia baru dekat ke Mama.


"Tadi saja, dia histeris setelah Tantemu mengajukan beberapa pertanyaan. Dia...sangat ketakutan. Mama benar-benar nggak tega, lihatnya. Entah dulu dia semenderita apa." Fifi menunduk, air mata wanita itu jatuh.


Nathan bingung harus merespon seperti apa. Dia jelas masih belum menerima kehadiran Sukma di keluarganya, apalagi dengan segala keanehan gadis itu. Tapi, menyuarakan pendapatnya untuk membawa Sukma kembali ke Panti Asuhan saja, pasti akan membuat mamanya semakin bersedih.


Yang Nathan bisa lakukan, hanyalah mendekati sang mama dan membawa wanita yang melahirkannya itu dalam pelukan. Mengelus bahu mamanya seolah menyalurkan kekuatan.


"Terus, sekarang dia di mana?" tanya Nathan pelan.


"Di kamar, udah tidur. Dia tadi bahkan sempat menyakiti dirinya dengan menj3dotk4n kepalanya sendiri ke dinding, untungnya langsung tenang pas Mama datang." Saat sesi konseling tadi, Fifi memang membiarkan Sandra dan Sukma di dalam kamar tersebut, berdua. Sandra hanya ingin memastikan terlebih dahulu bagaimana kondisi pasiennya. Karena melihat Sukma yang mengamuk seperti itu, sesi konselingnya dua hari lagi akan melibatkan Fifi. Sandra akan membiarkan Fifi menemani Sukma, karena hanya wanita itu yang bisa membuat Sukma kembali tenang.


Sebenarnya, berat hati Nathan membiarkan mamanya kerepotan dengan orang lain. Tapi mau bagaimana lagi? Fifi dan Hisyam sudah sangat menyayangi anak itu. Mengeluarkan protesan hanya akan semakin membuat orang tuanya sedih.


"Kamu nggak apa-apa, kalau misalnya Mama jadi sering ngurusin Sukma? Dia butuh dukungan dari Mama sama Papa. Dan, Mama berharap kamu juga mau mendukung kesembuhannya." Fifi mendongak, menatap anaknya yang bahkan lebih tinggi darinya dan Hisyam. Fifi sengaja bertanya seperti itu, karena dia takut jika Nathan akan merasa mereka mengabaikan dirinya karena masalah Sukma.


Nathan diam sejenak, kemudian berusaha mengukir senyum di bibirnya. Jujur, dia jelas keberatan. Sangat, malah. Tapi, kalau dia mengatakan hal itu, rasanya terlalu egois. Mamanya pasti akan kepikiran. Nathan tidak tega melihat kesedihan Fifi.


"Hmm. Asal Mama masih tetap sayang sama Nathan aja," ujarnya dengan sedikit candaan. Berharap dengan kalimat itu, Fifi akan merasa lega.

__ADS_1


"Makasih, Nathan. Kamu memang anak yang baik. Dan sekarang, kamu juga udah jadi kakak yang baik. Anak Mama ternyata udah dewasa sekarang."


__ADS_2