Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Penangkapan


__ADS_3

Hans Arganta menatap bergantian tiga anggota keluarganya yang tengah duduk menyantap sarapan. Dewi dan Ayas--puteri sulungnya tengah bercanda. Sementara Apin si bungsu, malah lebih fokus ke makannya dengan raut datar.


Hans sama sekali tak tahu, entah sejak kapan anak bungsunya itu bertingkah seolah membencinya. Tak ada candaan yang ia lemparkan padanya seperti saat kecil dulu. Tatapan tajam dan raut wajah datar selalu Apin perlihatkan padanya, dan karena itu Hans juga mulai keras pada Apin. Hubungan mereka seolah musuh.


Kini, hidupnya merasa terancam. Siska menghilang beberapa hari lalu, dan menyusul Seno. Keponakannya itu tidak pulang ke rumah sudah dua hari. Bertanya pada adiknya pun, Hans tak mendapatkan jawaban. Mereka tak tahu Seno ke mana. Dan kebiasaan pria itu memang jarang pulang ke rumah, jadi bagi mereka itu hal biasa.


Hans merasa selama ini gerak-geriknya selalu ada yang mengawasi. Sebenarnya, siapa yang sedang menggali kasus gadis itu? Hans benar-benar penasaran. Dan apa hubungannya dengan gadis kecil yang telah ia singkirkan itu?


Hans sebenarnya tak sebodoh itu untuk percaya kalau orang yang dulu bertanya tentang Sukma adalah utusan dinas sosial. Itu sebabnya dia menjawab dengan kasar dan terkesan mengusir. Namun, ia berusaha mencari tahu siapa di baliknya. Sayang, dia sampai sekarang dia tak menemukan.


"Pa? Kok nasinya nggak dimakan?" Dewi yang menyadari Hans sedang melamun, menegur pria tersebut.


"Eh, I-iya, Ma!" Hans kemudian memaksakan diri untuk makan. Sejujurnya, akhir-akhir ini pria itu tak nafsu makan disebabkan oleh banyak masalah. Mulai dari ada yang mengungkit Sukma, bukti rekaman yang hilang, Siska dan Seno kini ikut menghilang. Dia harus semakin hati-hati, kalau tidak ingin membusuk di penjara.

__ADS_1


Selesai sarapan, Hans berpamitan untuk ke sekolah. "Apin kenapa nggak bareng sama Papa aja? Ban motornya kempes, kan?" Dewi bersuara. Sebisa mungkin, dirinya berkali-kali melakukan usaha untuk memperbaiki hubungan antara ayah dan anak itu.


"Apin bawa mobil."


"Tapi katanya Ayas tadi mau bawa mobil Apij ke kampus. Iya, kan, Ayas?"


Ayas yang namanya disebut menatap sang Ibu sambung dengan bingung. Dewi kemudian memberi kode, hingga Ayas perlahan mengangguk. "Iya. Pinjam dulu. Mobil aku lagi mogok!"


Apin yang paham kalau itu hanya akal-akalan oleh sang mama, menghembuskan napas kasar. Dia kemudian merogoh ponselnya yang ada di saku celana. Menyalakan layarnya, dan berpura-pura ada telepon masuk. "Apin berangkat sama teman. Dia udah di depan. Assalaamu'alaikum." Terburu-buru, Apin meninggalkan meja makan.


Hans menggeleng pelan. "Mas juga nggak paham, sayang! Mungkin karena Apin laki-laki, jadi dia sedikit keras kepala dan nggak mau memperlihatkan sisi manjanya ke kita. Lagipula, dia sudah besar, kan?"


Dewi memilih menganggukkan kepala meski di dalam hati masih merasa janggal.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas berangkat juga kalau gitu."


***


Hans yang baru saja memasukkan mobilnya ke lahan parkir, terheran melihat di depan sekolah sangat ramai.


Jantungnya berdentum keras. Menggelengkan kepala sejenak, Hans berusaha menghalau pemikiran buruk yang terlintas di kepalanya.


Hans menenangkan diri terlebih dahulu sebelum turun. Mengatur mimik wajahnya agar terlihat biasa saja seolah tak tahu apa-apa. Dalam hati ia berdoa, semoga ini hanya tentang Seno dan Siska yang tiba-tiba menghilang. Tidak ada sangkut-pautnya dengan dia.


Namun, harapan Hans langsung pupus. Baru saja pintu mobilnya terbuka, dua orang polisi langsung berjalan mendekatinya.


"Saudara Hans Arganta, anda ditangkap atas kasus dugaan sebagai sumber dari kasus penganiayaan Saudari Dewi Sukma Ningrum dua tahun lalu, dugaan pemalsuan data, dan juga kasus pengancaman terhadap anak di bawah umur. Ini surat perintah penangkapan anda! Untuk lebih jelasnya, jika ada pembelaan, silahkan jelaskan di Kantor Polisi." Polisi tersebut memperlihatkan surat perintah penangkapan. Hans seketika memucat. Apa yang ia takuti, ternyata benar-benar terjadi.

__ADS_1


Karena syok, Hans terlihat pasrah digiring oleh kedua polisi tersebut. Malu jelas ia rasakan, apalagi seluruh murid menyaksikan penangkapan tersebut. Bisik-bisik penasaran mulai terdengar, mengiringi langkah Hans menuju mobil polisi.


Sementara Apin yang baru saja memasuki gerbang sekolah, langsung terdiam menyaksikan sang ayah yang digiring oleh dua polisi di sisi kiri dan kanan. Remaja itu menghembuskan napas kasar, kemudian berbalik pergi dari sana. Dia memilih tak masuk sekolah, sebab pasti akan banyak kalimat yang akan ia dengar perihal penangkapan sang ayah. Meski mereka tak tahu kalau dialah anak Kepala Sekolah, Apin tetap tak akan sanggup mendengarnya. Sekalipun dia ikut terlibat akan masalah yang menimpa ayahnya, Apin tetap merasa iba. Namun, ia melakukan semua ini juga demi sang ayah. Daripada ayahnya terus-terusan berbuat jahat pada orang yang tidak bersalah. kesalahan ayahnya bahkan bisa dibilang sangat fatal. Sebab dari satu masalah, kini sudah bercabang banyak. Apin yakin, ayahnya pasti akan mendapatkan hukuman berat dari orang yang melindungi Sukma itu.


__ADS_2