Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
ADEK?


__ADS_3

"Tante, Sukma ke mana?" Daniel langsung bertanya pada Fifi yang tengah meletakkan minuman untuk mereka di atas meja.


"Oh, Sukma. Dia lagi di kamarnya. Kenapa emang?" tanya Fifi santai. Sementara Nathan di tempatnya sudah ingin menelan Daniel hidup-hidup.


"Ajakin ke sini aja, Tante. Biar bisa makin akrab sama kita-kita. Adik Nathan, kan, adik kita juga."


Neo langsung tertawa mendengar ucapan Daniel. "Jangan, Tante. Buaya satu ini pasti lagi mau nyari mangsa," ujarnya. Kemudian dia menatap Daniel, "Cukup gadis di luaran sana aja, Niel, yang jadi korban kamu. Adik teman, jangan!"


Daniel mendengus pelan. "Enak aja. Aku benaran pengen dekat sama dia. Kalau jadian, itu bonus. Apalagi dapat restu dari Tante Fifi."


Fifi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari sahabat anaknya itu.


"Maaf ya, Tante nyari mantu yang bisa ngaji. Bukan yang nanti nikahnya cuma bisa ngasih gaji. Dunia itu bagus, tapi akhirat lebih utama."


"Hahahahah! Rasain!" ejek Neo.


"Nat, kenapa diam aja?" tanya Fifi saat melihat anaknya hanya diam sembari menatap Daniel tajam.


"Hah? Eh, kenapa Ma?" Nathan terkejut saat namanya disebut. Dia kemudian menatap Fifi, dan memaksakan senyumannya.


"Kamu kenapa? Dari tadi diam aja sambil natal Daniel udah kaya mau nelan?"


Daniel dan Neo ikut menatap Nathan. Sejak kedatangan Fifi, mereka tak memperhatikan Nathan. Sedangkan Nathan yang ditatap ketiganya, malah salah tingkah. Pria itu mengelus belakang lehernya dan meringis pelan, "Nggak apa-apa, kok. Cuma lagi malas aja liat wajah Daniel," ujarnya berbohong.


"Lah, kenapa aku? Apa salahku coba?" tanya Daniel kebingungan. Neo malah sudah kembali terbahak. Kasihan Daniel, sekarang malah cosplay jadi mahluk yang dibenci Nathan.


"Mukamu nyebelin, sih, Niel," ujar Neo mendukung Nathan.

__ADS_1


"Aku...aku ke kamar bentar, Ma. Niel, Neo, tinggal bentar, ya." Nathan berdiri, berusaha menghilangkan salah tingkahnya. Kemudian melangkah dengan cepat dari sana menaiki anak tangga, diiringi oleh tatapan heran ketiga orang di sana.


"Nathan kenapa jadi aneh gitu?" tanya Fifi pada dua sahabat anaknya.


"Nggak tahu, Tante. Tapi, akhir-akhir ini dia memang aneh, sih." Neo menanggapi ucapan Fifi.


"Memang kenapa?" tanya Fifi kepo.


"Dia akhir-akhir ini jarang main sama kita. Di kampus gelisah, pas pulang kampus buru-buru banget. Diajak main, kan, biasanya dia mau. Ini selalu nolak. Kita berkunjung ke sini, pun, dia nggak izinin."


Fifi mengangguk pelan. "Iya. Akhir-akhir ini Nathan memang pulang telat waktu terus. Kalau nggak ada jadwal kuliah, cuma diam di rumah. Tapi dia lebih sering ngurung diri di kamar. Turunnya pas makan aja."


Neo dan Daniel saling tatap. "Apa jangan-jangan, Nathan lagi patah hati, ya?" tanya Neo ragu.


Daniel menggeleng. "Emang dia patah hati sama siapa? Si Laras, kan, akhir-akhir ini mulai dekatin dia. Masa didekatin gebetan setelah sekian lama malah patah hati?"


"Laras? Cewek yang Nathan suka yang sering kalian cerita itu? Yang suka mainin anak Tante itu, jadi dekatin dia?"


"Nathan yang malah jadi dingin ke Laras, Tan. Nathan keliatan banget nggak minatnya ke Laras. Dan kentara banget risihnya pas Laras dekatin dia."


"Bagus, deh, kalau gitu."


Sementara di sisi lain, Nathan yang tadinya lari ke kamar hanya karena salah tingkah, kini malah berdiri di depan kamar Sukma. Dia menatap gadis yang sedang asik membaca novel itu. Nathan tiba-tiba ingat saat di meja makan, Sukma mengatakan kalau dia tak pernah berbicara dengan gadis itu. Dan Sukma juga mengatakan kalau Nathan tak suka padanya. Memang benar, sih. Tapi itu dulu, di awal Sukma datang ke sini. Saat dia tidak tahu menahu alasan apa yang membuat Mama dan Papanya mengangkat Sukma sebagai anak. Tapi setelah mendengar cerita dari orang tuanya, Nathan mulai merasa iba. Tak ada lagi rasa cemburu saat orang tuanya memperhatikan Sukma. Nathan bahkan perlahan mulai khawatir pada gadis itu. Dan rasa yang ia rasakan akhir-akhir ini, membuat Nathan malah bingung, sebenarnya dia kenapa.


tok tok!


Nathan mengetuk pintu kamar Sukma pelan, membuat si gadis menoleh. Berkat bantuan dokter Sandra, Sukma sudah berani menatap mata lawan bicaranya. Meski itu hanya berlaku untuk orang tua Nathan dan dokter Sandra. Dan ini, pertama kalinya Nathan ingin mengajak Sukma berbicara.

__ADS_1


"A...Abang boleh masuk?" tanya Nathan tergagap. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ini, kenapa dia bisa di sini, sih? Kenapa dia malah masuk ke kamar Sukma?


Sukma terdiam cukup lama, sembari memandangi Nathan. Dia terkejut tentu saja. Bagaimana bisa, Abang yang dipikirnya membenci dirinya itu malah tiba-tiba datang dan minta izin masuk ke kamarnya?


"Bo...Leh, kok, Abang."


Sukma memperbaiki posisi duduknya. Yang tadinya bersandar di kepala ranjang, kini dia menegakkan tubuhnya.


Nathan kini yang malah terdiam. Kebingungan sendiri mau apa di kamar Sukma.


'Ayo, Nathan! Berpikir! Ayo, berpikir!'


'ah!'


"Abang cuma...emmm, mau nyari gunting kuku. Iya, gunting kuku. Kamu punya?"


Sukma yang polos pun hanya percaya saja. Dia mengangguk. "Sukma punya, kok. Di laci situ ada." Sukma menunjuk ke arah laci nakas.


Nathan tersenyum canggung. Masuk ke kamar Sukma dan membuka laci nakas. Benar, dia menemukan gunting kuku di sana. Sebenarnya Nathan melihat gunting kuku itu beberapa hari yang lalu, saat dia dimintai tolong oleh Fifi untuk mengambilkan obat Sukma. Saat itu mereka tengah berada di ruang keluarga setelah selesai makan, dan sudah waktunya Sukma meminum obat. Untung saja tadi dia ingat hak tersebut, sehingga bisa dia jadikan alasan untuk masuk ke kamar Sukma. Padahal nyatanya, Nathan berdiri, dan mengetuk pintu kamar Sukma itu seolah tak sadar. Nathan menggeleng pelan, otaknya sepertinya sudah geser. Kalau Daniel tahu, bisa-bisa Daniel malah akan menudingnya mesum.


Setelah mendapatkan gunting kuku yang ia jadikan alasan tersebut, Nathan melirik Sukma, dan ternyata gadis itu tengah melihatnya juga. Dia memaksakan senyumnya kembali. "A...bang keluar dulu, ya. Emmm, na...nanti Abang pulangin ke sini." Selesai berujar, Nathan dengan cepat berbalik dan keluar dari sana dengan langkah terburu.


"Ngapain di kamar, Nat? Kok lama?" tanya Daniel saat Nathan sampai di bawah. Untung saja mereka sudah selesai menggosipkan Nathan dan Laras tadi, jadi Nathan tak mendengar apa-apa.


"Hah? Ehmm, ngambil ini. Gunting kuku," jawab Nathan. Daniel dan Neo menatapnya aneh. "Kok warna pink?" tanya Neo yang akhirnya menarik perhatian Fifi yang tengah bermain ponsel--berbalas pesan dengan sang suami yang katanya hari ini pulang telat karena ada meeting. Ekspresi Fifi tak kalah aneh dengan Neo dan Daniel saat mendapati gunting kuku yang berada di tangan Nathan.


"Loh, itu, kan, punya Sukma?!"

__ADS_1


Daniel dan Neo semakin menatap Nathan, seolah meminta penjelasan. "A...anu. Gunting kuku punyaku udah tumpul. Iya, udah tumpul. Jadi pinjam punya Adek dulu."


"ADEK?" Neo dan Daniel memekik bersamaan mendengar panggilan Nathan untuk Sukma. Sementara Nathan semakin meringis. Adek? Sejak kapan dia memanggil Sukma dengan sebutan itu?


__ADS_2