
Sampai di Pantai, keempat orang tersebut turun dari mobil. Mereka menyewa salah satu pondok di sana--yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tempat duduk untuk orang yang datang. Fifi tadi menghubungi, mengatakan kalau ban mobil mereka bocor. Jadi masih perlu waktu untuk mengganti ban, yang artinya mereka akan datang sedikit terlambat.
Daniel dan Neo mengeluarkan semua keperluan piknik mereka dari bagasi mobil, sementara Nathan tengah berdiri di samping Sukma, memperhatikan gelagat gadis itu. Nathan dapat lihat, Sukma berulang kali menghembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi. Nathan tahu, kalau Sukma sedang berusaha mengendalikan diri.
"Butuh bantuan?" tanya Nathan. Sukma menoleh padanya dan menggeleng pelan. "Aku berusaha sendiri dulu. Kalau aku udah nggak bisa ngendaliin, Abang bisa bantuin aku."
Neo dan Daniel berjalan mendekat, sembari menenteng tikar dan rantang di tangan. Sukma mengambil tikar di tangan Daniel, dan membentangkannya di lantai pondok kecil tersebut.
Nathan pergi ke mobil, ada sesuatu yang harus ia ambil di sana, kemudian balik selang lima menit kemudian.
"Dari mana, Nat?" tanya Daniel. Kini mereka tengah duduk di pondok kayu tersebut sembari memperhatikan orang yang lalu-lalang dan bermain air.
"Ngambil ini." Nathan menunjukkan topi pantai yang ada di tangannya. Topi itu milik Sukma, namun gadis itu melupakannya di dalam mobil. Bahkan mungkin sampai sekarang ia tak ingat.
"Tante Fifi sama Om Hisyam belum hubungin kamu lagi?" tanya Neo. Nathan menggeleng. "Mungkin udah menuju ke sini."
"Mau main air? Atau kamu mau mandi di pantai?" tawar Nathan pada Sukma. Dia mendekati gadis itu, dan memasangkan topi yang di tangannya ke kepala Sukma.
Sukma menggeleng pelan. "Nanti aja," jawab gadis itu.
Ponsel Nathan berdering, ternyata Fifi yang menghubungi. Nathan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Ma?"
"Mama sama Papa nggak jadi nyusul kalian," ujar Fifi.
"Kok gitu?" tanya Nathan bingung.
__ADS_1
"Iya. Ini mobil Papa kamu masa mogok, Nat! Issh, nyebelin banget! Banyak duit doang, nyervis mobil malas. Ini jadinya mogok kan!"
"Ini Papa baru kali ini lupa, loh, Ma!" Suara Hisyam terdengar menyahuti sang istri.
Nathan terkekeh pelan, membayangkan ekspresi sang Mama yang benar-benar kesal di seberang sana.
"Iya, Ma. Ya udah, nggak apa-apa. Kalian balik ke rumah aja kalau gitu."
"Iya. Kamu jagain adik kamu, ya!"
"Iya, Mama."
"Ya udah, bye! Oh ya, hati-hati. Jangan lupa jagain adik kamu."
"Kenapa, Nat?" tanya Neo.
"Mama sama Papa nggak jadi nyusul. Mobil bokap tiba-tiba mogok!" jawab Nathan sembari tertawa.
"Nah, makanya tadi dia ngomel-ngomel ke bokap."
Nathan kemudian beralih menatap Sukma. "Kamu nggak apa-apa, kan, sama Abang aja? Mama sama Papa nggak jadi ke sini."
Sukma mengangguk. "Iya."
"Ya udah. Kalau gitu, kita atur makanya dulu, ayo!" ajak Nathan. Keempat orang tersebut kemudian mulai membuka rantang makanan dan mengaturnya sedemikian rupa.di atas tikar. Tak lupa segala macam makanan ringan dan minuman yang mereka bawa juga disajikan di sana.
"Sukma, kamu bisa masak, nggak?" tanya Daniel.
__ADS_1
Sukma mengangguk pelan. "Iya. Dulu Sukma suka bantuin Ayah masak."
"Oh ya? Berarti masakan kamu enak, dong?" Neo ikut menimpali. Sementara Nathan malah memperhatikan Sukma yang tengah berbicara. Dia baru tahu kalau gadis itu ternyata bisa memasak juga.
Sukma tertawa kecil, "enggak tahu juga. Lagian, Sukma udah lama nggak masak."
"Eh, gimana kalau Minggu depannya lagi, kita masak-masak aja di rumah," usul Daniel tiba-tiba mendapatkan ide.
"Iya, Nat. Masing-masing dari kita kan bisa masak dikit-dikit. Kayanya kalau masak bersama tuh bakalan asik, deh!" ujar Neo setuju dengan usulan Daniel.
"Kamu gimana, Dek?" Nathan malah meminta pendapat Sukma.
"Boleh," jawab gadis itu dan disambut sorakan gembira Daniel dan Neo.
"Ya udah kalau gitu. Fix ya, Minggu depan kita masak-masak di rumah aja. Oh ya, kita makan dulu yuk! Perut aku udah lapar," putus Nathan.
Sukma mengambil empat piring, dan mengisinya masing-masing dengan bekal yang mereka bawa. Ketiga cowok tersebut malah terdiam, karena Sukma mengambilkan mereka makanan.
"Padahal kita bisa sendiri, loh!" ujar Daniel.
"Nggak apa-apa, kok. Ini sebagai tanda terima kasih Sukma, karena kalian mau bantu Sukma."
Nathan mendengus pelan, dan menepuk puncak kepala gadis itu. "Jangan sering-sering ya, kaya gitu ke mereka. Soalnya mereka itu kalau dinaikin kadang nggak tahu diri."
Neo dan Daniel berdecak kesal. Padahal dianya sendiri yang nggak tahu diri. Untung ada Sukma yang mewakili.
"Ayo, makan!" ajak Sukma.
__ADS_1
"Terima kasih!" ujar Neo dan Daniel bersamaan saat Sukma memberikan dua piring berisi makanan ke mereka. Nathan mendengus kesal, apalagi melihat tatapan Daniel yang seolah mengejeknya.
"Abang mau makan sepiring sama kamu aja." Daniel dan Neo sontak menatap Nathan terkejut saat mendengar ucapan pria itu. Ini...Nathan cemburu hanya gara-gara Sukma yang menyiapkan mereka makanan? Benar-benar Abang yang posesif!