Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Foto


__ADS_3

Mata Dewi berbinar senang, saat melihat seorang gadis keluar dari balik pagar tinggi kediaman Hisyam. Setelah sekian lama, akhirnya penantiannya untuk melihat anak gadisnya kini terwujud.


Dewi tadi menghubungi Fifi. Mengatakan pada wanita itu, kalau dia tengah berada di sekitar rumahnya. Saat pertemuan waktu itu, kedua orang tersebut memang sempat saling bertukar nomor ponsel. Agar mereka bisa dengan mudah saling menghubungi.


Fifi kemudian meminta tolong pada Sukma untuk membuang sampai di bak sampah yang di luar pagar rumah. Tanpa curiga, Sukma menurut.


Tanpa terasa, air mata Dewi mengalir melewati kedua belah pipinya. Anak gadisnya, kini telah tumbuh dewasa. Terkadang, Dewi ingin memutar waktu, agar dirinya bisa melihat tumbuh kembang sang anak. Namun, semua jelas suatu kemustahilan. Meratap pun tak ada gunanya. belasan tahu telah terlewati, dan Sukma menjalani kegelapan dunia sendirian. Sementara dia, malah merawat anak orang lain penuh kasih sayang. Menikmati kebahagiaan yang ditawarkan oleh sang suami baru. Hidup bergelimangan harta dan makanan enak tiap harinya, sementara Sukma hidup di rumah sederhana dengan makanan seadanya. Bahkan, biaya sekolah pun, anak itu hanya mengandalkan pemerintah.


Dewi tidak pernah menyalahkan suami pertamanya. Karena memang, suaminya adalah orang yang bertanggung jawab. Hanya saja, dulu dia terlalu kaget setelah lama menikmati hidup bersama orang tuanya yang kaya raya, malah dihadapkan pada hidup yang serba pas-pasan. Tekanan demi tekanan berdatangan di usianya yang masih belia, membuat Dewi akhirnya nyaris hilang kewarasan. Dia hampir menghabisi nyawa anaknya.


Mata Dewi mengikuti pergerakan gadis itu. Bahkan, sampai tubuh tersebut kembali masuk ke balik pagar yang menjulang tinggi. Dewi mengetikkan pesan pada Fifi, mengucapkan terima kasih. Setidaknya, rasa rindunya sedikit terobati.


Dewi menjalankan mobilnya pergi dari sana. kembali ke rumah dengan wajah yang terlihat bahagia. Sampai di teras rumah, ponselnya berdering. Pesan dari Fifi masuk, sebagai balasan pesan yang dia kirimkan tadi.


Mata Dewi kembali berbinar senang, mendapati pesan tersebut berisi sebuah foto. Foto seorang gadis bergaun pink dengan aksen bunga kecil berwarna putih. Gadis itu tertawa lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan juga rapi. Wajah itu terlihat sangat manis, terlebih dengan adanya lesung pipi di kedua belah pipinya.


"Mama dari mana?" Suara Laras mengagetkan Dewi. Wanita itu nyaris menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Dia menoleh pada Laras yang baru saja datang. Dewi meringis, asik memandangi foto Sukma, dia tidak mendengar suara mobil Laras yang memasuki halaman rumah.


"Habis dari luar tadi. Suntuk di rumah," jawab Dewi, mengucapkan kebohongan untuk kesekian kalinya.


Laras memilih menganggukkan kepala. Dia yakin seratus persen, Dewi baru saja mengunjungi kediaman orang tua Nathan.


"Kamu udah makan?" tanya Dewi, mengalihkan pembicaraan. Dewi memperhatikan Laras. Anak itu terlihat makin kurus saja.


"Udah tadi, di kampus."


Dewi mengangguk. Kedua perempuan itu kemudian memasuki rumah.


"Ayas ke atas dulu, ya, Ma. Mau mandi." Laras berpamitan menuju kamarnya. sementara Dewi, memilih duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Wanita itu kembali memandang ponselnya dengan senyum mengembang. jarinya bergerak, menyetel wallpaper ponselnya menggunakan foto Sukma yang dikirimkan Fifi tadi.


***

__ADS_1


"Kenapa pindah, Nat?" Daniel bertanya pada Nathan. Tiga orang itu kini berada di apartemen Nathan. Membantu Nathan untuk bersih-bersih, karena sudah lumayan lama apartemen itu tak ia singgahi.


"Biar makin dekat sama kalian," jawab Nathan asal.


Daniel melemparkan bantal sofa yang ada di dekatnya dan tepat mengenai wajah Nathan. Pria itu terbatuk, karena debu yang menempel di benda persegi tersebut.


"Apaan, sih, Niel!" Nathan menatap Daniel kesal.


"Siapa suruh ditanya serius malah jawabnya ngasal," balas Daniel takmau kalah.


"Ngasal gimana? Ckk!" decak Nathan sebal.


"Mana ada pindah karena mau dekat sama kita. Nggak usah ngaco!" bantah Daniel.


"Iya, Nat. Jawabanmu keliatan bohongnya." Neo menambahkan. Pria yang tengah membersihkan debu di atas TV tersebut ikut menatap Nathan dengan wajah seriusnya.


Nathan mendengus pelan. "Capek bolak-balik rumah."


"Enggak," jawab Neo dengan wajah datar.


"Aku benaran malas bolak-balik rumah. Jauh. Lagian, bentar lagi, kan, kita bakal sibuk. Mau skripsian, magang juga. Kalau di rumah, ngerjain pekerjaan sampai tengah malam, yang ada nyokap bakal protes. Kalau di sini, kan, bebas." Nathan berujar sembari melap meja kaca. Dia berharap, alasannya bisa diterima oleh kedua sahabatnya.


"Benar juga, sih. Tante Fifi, kan, protective orangnya." Daniel akhirnya mulai percaya.


"Terus, gimana sama Sukma?" Pertanyaan Neo membuat Daniel menjentikkan jarinya.


"Benar, Nat. Dede Sukma gimana?"


Nathan terlihat salah tingkah. Namun, pria itu berusaha mengontrol perubahan wajahnya. "Kan, ada Mama."


"Dia pasti bakal kesepian," ujar Nathan berpendapat.

__ADS_1


"Sukma juga udah harus mulai sibuk belajar untuk ujian sekolah sama ujian masuk universitas juga. Jadi, dia nggak bakal ngerasain banget kesepiannya," jelas Nathan.


"Oh, iya, ya. Bentar lagi bakal ujian. Berarti, dia ngikut ujian Paket C, ya?" tanya Neo.


"Iya."


***


Sukma duduk gelisah di teras rumah. Abangnya pulang lebih lambat dari biasanya. Sebentar lagi waktu magrib, namun Nathan belum menampakkan hidungnya juga.


"Abang belum pindah, kan? Dia aja tadi belum pamitan." Sukma berkali-kali menghela napas berat.


Gadis itu langsung berdiri dari kursi, saat melihat mobil Nathan memasuki halaman. Dia berlari mendekat, menyambut Nathan yang turun dari mobilnya.


"Dek? Kenapa? Kok di sini?" Nathan bertanya bingung.


Sukma menggeleng pelan. "Nungguin Abang, tadi. Aku pikir, Abang udah nggak balik ke rumah hari ini."


Nathan tertawa mendengarnya. "Abang masih balik. Kan, kamu lihat sendiri tadi, Abang nggak bawa baju pas pergi." Nathan mengelus kepala Sukma dengan lembut. Tingkah polos gadis inilah yang membuat Nathan jatuh dalam pesonanya. Sukma itu layaknya anak kecil. Wajahnya lembut, polos, dan terpancar ketulusan dari binar matanya.


"Ayo ke dalam! Sebentar lagi mau magrib. Nggak baik anak kecil di luar rumah!" canda Nathan.


Sukma mendengus. "Aku bukan anak kecil, ih! Aku, kan, bentar lagi mau kuliah kaya Abang!"


Nathan kembali mengurai tawa. "Iya, deh, iya! Adik Abang udah dewasa sekarang!"


Keduanya kemudian melangkah bersama memasuki rumah. Fifi yang berada di ruang tengah, melihat pemandangan tersebut. Wanita itu hanya mampu menghela napas. Dia tahu, perasaan tidak ada seorang pun yang bisa mengontrolnya. Namun, banyak ketakutan yang muncul di kepalanya jika nanti Nathan mengungkapkan perasaannya pada Sukma. Bagaimana jika Sukma menjauh? Kalau pun Sukma memiliki rasa yang sama, bagaimana jika terjadi masalah di antara mereka? Fifi pasti akan kebingungan, harus berada di pihak siapa. Karena mereka adalah anaknya.


"Ma!" Hisyam yang melihat Fifi melamun sembari memperhatikan Nathan dan Sukma yang menaiki anak tangga, akhirnya menegur istrinya itu.


"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Nathan itu sudah dewasa. Papa yakin, dia tahu harus bagaimana. Kasihan, kalau Mama melarang perasaannya," nasehat Hisyam. Fifi mengangguk pelan. "Iya, Pa. Mama paham."

__ADS_1


__ADS_2