Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Bocah Aneh


__ADS_3

"Saya sudah mendapatkan laporan tentang Riana Kusuma, Pak!" Sapto mendatangi Hisyam yang tengah sibuk menanda tangani berkas di depannya.


Hisyam menghentikan aktivitasnya sejenak. "Oh ya? Silahkan duduk dulu, kita bahas ini!" Sapto mengangguk. Dia duduk berhadapan dengan Hisyam, dan menyerahkan map yang ia bawa. Hisyam mengambilnya, namun tak membuka. Dia ingin mendengarkan penjelasan langsung dari Sapto.


"Dia anak Pak Hendro Kusuma, dia salah satu klien Bapak juga. Bapak ingat?"


"Oh, Hendro Kusuma yang itu? Yang punya produk selimut itu?" tanya Hisyam. Sapto mengangguk. Hisyam memang memiliki beberapa hotel di beberapa kota wisata. Hendro Kusuma adalah seorang pengusaha di bidang produksi bantal dan selimut. Pria itu pernah menawarkan untuk menjalin kerja sama dengan Hisyam, dan diterima Hisyam dengan baik.


"Lalu, info lainnya?"


"Dia dikeluarkan dari sekolah, karena kasus n4rk0b4."


Hisyam terkejut mendengar ucapan Sapto. "Lalu?"


"Dia dipindahkan Ayahnya ke luar negeri." Hisyam mengangguk. Sudah ia duga. Tidak mungkin kan, Hendro membiarkan anaknya begitu saja.


"Hubungannya dengan Sukma, apa? Kamu tidak mendapati ada yang mencurigakan?" tanya Hisyam.

__ADS_1


"Saya mendapatkan informasi kalau dia di sekolah cuma memiliki satu teman. Dan ciri-ciri temannya itu cocok dengan Nona Sukma," ujar Sapto.


Hisyam menegang. Dia menggeleng pelan, berusaha mengusir pemikiran buruk yang hinggap di kepalanya.


"Nona muda pernah berteman dengan orang yang mengonsumsi barang ilegal itu. Mau tidak mau, Bapak harus menjalankan tes pada Nona muda. Siapa tahu saja, dia seperti itu karena pengaruh dari..."


"Stop! Saya yakin Sukma bukan seperti itu," potong Hisyam tegas.


"Tapi, Pak, waktu itu jelas Nona muda butuh ketenangan juga. Kita tidak bermaksud menuduh Nona muda. Tapi, teman bisa membawa pengaruh buruk, bukan? Dalam keadaan kacau dan tertekan, bukannya hal seperti itu bisa menenangkan?"


"Kita hanya harus memastikan, Pak! Saya juga yakin Nona tidak seperti itu. Tapi, bagaimana kalau dia diam-diam diberi obat terlarang itu oleh temannya sendiri? Apalagi info yang saya dapatkan, Nona Riana itu ternyata sering clubing. Dia akrab dengan kehidupan malam, padahal umurnya masih sangat muda. Entah bagaimana dia bisa lolos masuk ke tempat seperti itu."


Hisyam menghembuskan napas kasar. Benar. Sukma mungkin tidak seperti itu. Tapi, bisa saja dia diberi sama temannya tanpa ia tahu, bukan? Lalu, bagaimana ia bisa menjelaskan ini ke Nathan dan Fifi?


"Kamu yakin, semua itu info valid?" tanya Hisyam. Sapto mengangguk. ,"Iya. Ini info yang saya dapatkan dari keluarga Nona Riana langsung."


Hisyam mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu kamu bisa keluar." Sapto berdiri dan membungkuk sejenak ke arah Hisyam sebelum berpamitan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"N4rk0b4? Anakku nggak mungkin berteman dengan orang seperti itu. Tapi, bagaimana kalau memang benar? Sukma, ya Allah! Kenapa jalan untuk membuat kamu sembuh harus sesusah ini, Nak?" gumam Hisyam pelan.


______


Seorang pria menatap tajam pada seorang gadis yang berdiri di hadapannya. Tatapannya menusuk, sarat akan emosi yang ia tahan.


"Berhenti berulah, Ayas!" ujar pria itu.


Sementara gadis yang dipanggil Ayas itu hanya menatapnya datar. "Berulah gimana?" tanyanya menantang.


"Kuliah baik-baik, nggak usah nyusahin orang lain. Berhenti ke Klub malam dan parti-parti nggak jelas itu!"


Ayas berdecak. "Kamu cuma anak kecil, Apin. Jadi berhenti ngurusin Kakak kamu ini, karena aku lebih dewasa dari kamu. Tahu mana yang lebih baik untuk hidup aku."


Apin menghembuskan napas kasar. "Pergunain uang bokap dengan pendidikan, dan segera kejar target lulus. Mungkin saja, kehidupan mewah ini bisa berkahir dengan cepat." Apin berujar dan segera meninggalkan sang kakak yang melongo.


"Gila tuh, anak. Bokap aja nggak larang, malah dia yang larang-larang. Dasar bocah!"

__ADS_1


__ADS_2