
Sepulang dari Pantai, Sukma langsung menuju kamarnya. Bahkan, gadis itu tidak menyapa Fifi dan Hisyam yang sedang menonton TV di ruang keluarga. Entah karena tak berniat menyapa, atau gadis itu memang tak melihatnya karena terlalu fokus pada pikirannya sendiri. Nathan yang menyusul di belakangnya hanya mampu mengembuskan napas berat. Kesedihan Sukma begitu dalam, dan Nathan memahami itu.
Nathan mendudukkan diri di sofa bersama kedua orang tuanya. "Adik kamu kenapa?" tanya Fifi.
Nathan tadinya meminta izin pada kedua orang tuanya untuk membawa Sukma keluar, tanpa mengatakan tujuannya bertemu siapa. Nathan tahu kekhawatiran Fifi akan menghalanginya untuk mempertemukan Sukma dengan Mr. Black. Nathan tidak ingin dikatakan ingkar janji oleh pria yang sudah membantu mereka itu.
"Nathan?" Fifi memanggil nama anaknya itu, karena Nathan hanya diam sembari menundukkan kepalanya. Nathan bingung akan mengatakan apa pada mereka.
"Nathan? Kamu marahin adik kamu?" Hisyam kini mengangkat suara, saat melihat Nathan seperti berat menjawab pertanyaan mereka.
Nathan mengangkat kepala, menatap pada Fifi dan Hisyam. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. "Nathan nggak mungkin melakukan kebodohan lagi, Pa!" jawab Nathan tegas.
"Lalu?"
Nathan mengembuskan napas kasar sekali lagi. Mau tidak mau, dia harus menjelaskan pada orang tuanya. "Nathan bawa Sukma ketemu sama Mr. Black," ujar Nathan pelan.
"Nathan! Apa yang kamu lakukan, Nak? Terus gimana? Orang itu nyakitin Sukma?" Fifi menatap Nathan kesal.
"Ma, bukan begitu. Dia nggak ada niat nyakitin Sukma. Mereka ternyata sudah lama saling mengenal."
"Lalu? Apa yang membuat Sukma murung?" tanya Hisyam. Dia mengelus bahu sang istri menenangkan.
"Mr. Black jujur tentang semua yang terjadi pada Sukma. Termasuk tentang Ibunya. Sukma marah dan sulit menerima, lagi-lagi hidupnya hancur karena sang Ibu. Traumanya bertambah, karena orang yang sama."
Fifi merasa lemas. Terlalu khawatir akan anaknya itu. "Sukma pasti benar-benar kecewa," gumam Fifi.
__ADS_1
Nathan mengangguk. "Sepertinya, Sukma juga punya hubungan spesial dengan anak Pak Hans. Dari pengakuan Sukma kalau...dia mencintai anak pria itu. Yang berarti, saudara tirinya."
Fifi dan Hisyam sontak menatap Nathan. Memperhatikan pria itu yang tak bisa menyembunyikan wajah masamnya.
"Nathan, kamu..." Fifi tidak melanjutkan ucapannya saat Hisyam langsung menggenggam tangannya. Fifi menoleh, dan melihat Hisyam menggelengkan kepala sebagai kode agar tidak melanjutkan ucapan.
"Nathan ke atas dulu, Ma. Oh ya, Mama tolong hibur Sukma. Cuma Mama yang selalu bisa meluluhkan dia," ujar Nathan sebelum beranjak dari tempatnya.
Sepeninggal Nathan, Fifi menatap Hisyam. "Pa, Nathan..."
Hisyam menggeleng. "Jangan mikir aneh-aneh. Dia cuma belum ikhlas, adiknya jatuh cinta. Nathan itu pasti takut tersaingi. Walau bagaimana pun, dia dekat dengan Sukma belum terlalu lama. Terus tahu adiknya mencintai seseorang, Nathan pasti merasa terancam." Hisyam mencoba menenangkan sang istri.
Fifi terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala. Mungkin benar kata Hisyam. Lagipula, setahu Fifi, Nathan kan suka sama teman kuliahnya sejak lama. Mana mungkin secepat itu berpindah hati.
"Ya sudah, Mama temanin Sukma, sana. Hibur dia. Papa harap, Sukma kuat menghadapi cobaan ini. Dia sudah bertahan sejauh ini, tak apa mencoba bertahan sekali lagi. Papa yakin, sebentar lagi cahaya kebahagiaan akan mendatangi Sukma."
Sementara di dalam kamar, Sukma kembali menumpahkan tangisnya. Rasanya begitu sulit menerima kenyataan. Ibunya masih hidup? Siksaan yang selama ini ia dapatkan saat duduk di bangku SMA, semua karena wanita itu? Dan...Apin anak sambung ibunya? Kenyataan macam apa ini? Kenapa dunia senang menciptakan lelucon yang menyedihkan? Bukankah sebuah lelucon itu seharusnya mencipta tawa? Lalu kenapa Sukma malah menangis setiap harinya?
Suara pintu kamar yang tak juga membuat Sukma teralih. Gadis itu menatap ke depan dengan tatapan kosong. Fifi yang baru datang, memilih mendekat. Naik ke ranjang Sukma, dan memberi pelukan pada gadis yang bersandar di kepala ranjang itu.
Merasakan pelukan, tangis Sukma kembali pecah. Kali ini, gadis itu menangis sekeras-kerasnya. Meraung pilu dalam pelukan sang Mama.
"Apa salah aku, Ma? Kenapa wanita itu sangat jahat? Waktu kecil, dia hampir membunuhku. Dan setelah besar, aku juga nyaris terbunuh karena dia. Kenapa dulu dia melahirkan aku kalau hanya diberi siksaan seperti ini?"
Fifi tak menjawab. Hanya pelukannya mengerat di tubuh Sukma. Air mata wanita itu ikut terjatuh, merasakan kesedihan Sukma yang teramat dalam. Kenapa gadis ini diuji dengan hal berat seperti ini?
__ADS_1
"Apa aku menyerah aja ya, Ma, biar wanita itu puas?"
Fifi seketika panik. Dia berusaha membalikkan badan Sukma agar menghadap ke arahnya. "Sayang, astagfirullah! Istighfar, Nak!"
Fifi menepuk-nepuk pelan pipi Sukma. "Dengarin Mama, Nak. Ada Mama, ada Papa, ada Bang Nathan dan teman-temannya. Kita semua sayang kamu. Kalau kamu pergi, kami akan merasakan sakit. Sukma mau nyakitin banyak orang?"
Sukma menatap Fifi dengan air mata yang mengalir melewati kedua belah pipinya. Gadis itu tak menjawab, hanya isakan pilu yang terdengar.
"Bertahanlah sekali lagi. Kamu anak yang kuat, dan kami semua yang sayang kamu, akan menjadi tumpuan kamu. Sekarang kamu tidak lagi sendiri. Kita balas orang-orang yang jahat ke kamu dengan cara memperlihatkan kebangkitan kamu dari rasa sakit. Kita buat mereka menyesali perbuatan buruk mereka ke kamu."
"Tapi rasanya susah, Ma. Aku sakit hati saat tahu Ibu kandungku masih hidup, dan ternyata ikut andil dalam kesakitan yang aku rasakan kedua kalinya. Aku benci hal itu. Dia sudah lama menjauh dari hidup aku dan Ayah, kenapa dia masih memberikan luka? Apa dia tidak puas karena dulu gagal menghabisi nyawaku?"
Fifi mengembuskan napas kasar. Sukma pasti sedikit tidak paham, kenapa ibunya bisa terlibat. Bukan maksud wanita itu menyakiti anaknya. Hanya suaminya saja yang punya ketakutan. Fifi paham, Dewi pasti akan sangat sedih saat tahu Sukma membencinya. Padahal, dia juga tidak tahu jika Sukma sudah ditemukan keberadaannya oleh Hans, dan malah dibuat semakin jauh dari dia.
"Dengarkan Mama, sayang. Mama nggak membela Ibu kamu. Memang semua ini berawal dari dia. Tapi bukan dia yang menyakiti kamu. Pak Hans melakukan kejahatan itu tanpa diketahui Ibu kamu. Pria itu takut kamu bertemu dengan Ibumu, dan kalian akan memilih bersama-sama seperti dulu. Karena selama ini, Ibu kamu selalu berusaha mencari keberadaan kamu."
Sukma terdiam. Kemudian berdecih pelan. "Karena dia mencariku, makanya masalah mulai datang. Tetap saja itu karena dia, Ma."
Fifi menghela napas berat. Dia paham Sukma berkata demikian karena lagi dalam pengaruh amarah. "Ma, aku mohon. Jangan bawa aku ke dia. Aku mohon ke Mama, jangan buang aku. Kalau Mama mau buang aku, buang aku kembali ke Panti asuhan yang dulu."
Fifi terkejut dengan ucapan Sukma. Gadis itu menatapnya dengan wajah memohon. Fifi seketika menangis. "Nak, siapa yang mau buang kamu? Mama nggak akan mungkin melakukan itu, Sayang!"
"Aku nggak mau Mama ketemuin aku sama dia. Aku nggak mau, Ma."
Fifi memeluk gadis yang kini kembali meraung itu. "Mama janji nggak akan membawa kamu ketemu dia. Tenang, ya, Sayang! Mama akan selalu ada untuk kamu. Kamu anak Mama, dan sampai kapanpun begitu."
__ADS_1
"Maaf kalau sejak kedatangan aku, keluarga kalian jadi susah, Ma." Sukma merasa bersalah. Karena kehadirannya, keluarga Hisyam malah jadi ikut terseret dalam masalahnya. Sebab itu, Sukma takut dibuang. Andai mereka ingin membuang Sukma, Sukma hanya berharap mereka mengembalikan Sukma Panti dulu. Bukan diserahkan pada Dewi.
"Jangan berpikir macam-macam ya, Sayang! Kamu tetap anak Mama. Kamu nggak pernah menyusahkan kami. Kamu justru berkah yang datang ke kehidupan kami." Fifi mengecup kepala gadis itu berkali-kali. Sementara Hisyam yang sedari tadi mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka, menghapus air matanya yang menetes. Ujian hidup Sukma terlalu berat, syukurnya gadis itu adalah gadis yang kuat. Tetap bertahan meskipun asinnya air mata selalu menyapa.