
Mohon baca Author Note😊
Happy reading!
Di kediaman Hans Arganta, Dewi tengah berbicara dengan seorang pengacara. Menjelaskan duduk perkara penangkapan sang suami. Dewi sebenarnya tak ingin mengurus ini. Namun, dia masih tahu diri. Sebenci-bencinya dia pada perbuatan Hans, pria itulah yang memungutnya saat dulu luntang-lantung di jalan. Lagipula, ini hanya sebagai formalitas. Pasal yang dituntut pada Hans sangat banyak, dan kata Polisi sudah dilengkapi dengan bukti yang kuat. Dewi yakin, Hans akan dihukum seberat-beratnya.
"Jadi, Ibu tidak ingin mengajukan banding nanti pada kasus Bapak Hans setelah sidang selesai?" tanya Pak Agus--pengacara yang disewa Dewi.
"Tidak perlu," jawab Dewi seadanya.
"Kita hanya perlu mendapatkan sesuatu yang bisa menyangkal bukti. Melakukan banding bisa meringankan hukuman Pak Hans," ujar si pengacara. Dia bingung, baru kali ini keluarga kliennya mah terkesan pasrah akan tuduhan.
 "Suami saya sudah terbukti salah. Kamu disewa hanya sebagai formalitas saja." Bahkan sejak awal, Dewi malah ingin memakai jasa yang disediakan oleh pengadilan. Namun, Dewi tidak ingin terkesan seperti orang yang tak tahu berterima kasih.
"Baik, kalau begitu."
Pak Agus kemudian berpamitan pada Dewi, meninggalkan wanita itu sendirian di ruang tamu. Ayas yang baru keluar kamarnya, menghampiri sang mama yang kini tengah melamun.
"Ma?!"
Dewi tersentak kaget. Dia memaksakan senyuman pada Ayas. "Ayas? Hari ini kamu nggak kuliah?"
Ayas menggeleng. Itu pertanyaan yang ke sekian kalinya dari Dewi. Entah karena wanita itu memang sengaja bertanya hal yang sama, atau memang dia sedang tidak fokus hingga lupa sudah menanyakan hal yang sama berulang kali.
"Mama udah nanya itu hampir lima belas kali." Ayas mengelus bahu sang mama. Dia tahu, mamanya itu sedang banyak pikiran. Senyuman yang Dewi tampilkan, hanya kamuflase dari kesedihan yang ia rasakan. Kesakitan dikecewakan oleh orang yang selama ini ia jadikan tumpuan, tentu memang sangat sulit diterima nalar.
"Maaf, Sayang. Mama lagi nggak fokus," ujar Dewi merasa bersalah.
__ADS_1
Ayas menggelengkan kepalanya. "Ayas paham. Ayas nggak akan minta Mama untuk memaafkan Papa, karena Ayas tahu Papa sudah benar-benar kelewatan. Ayas cuma mau Mama tetap kuat, jangan tenggelam dalam kesedihan. Ayas juga berharap, Mama nggak akan ninggalin Ayas dan Apin." Apas membungkuk, memeluk Dewi yang masih duduk di sofa. Ia takut kehilangan sosok mamanya, yang merawat mereka sejak kecil.
Dewi mengangguk. Meski sulit, tapi ini bukan kesalahan Ayas dan Apin. Ini kesalahan suaminya, dan tak ada hubungannya dengan dua anaknya.
"Mama nggak akan ninggalin kalian." Dewi berbisik pelan, membelai rambut anak sulungnya itu.
Suara deru motor memasuki halaman, Apin sudah datang. Pria itu beberapa hari ini memang lebih banyak menghabiskan waktu di cafe. Padahal, jelas sekali kalau dia menghindar. Apin adalah laki-laki, jadi sulit menampakkan kesedihannya. Tanpa mereka tahu, kalau Apin malah terlibat dengan penangkapan sang papa. Entah bagaimana reaksi Ayas jika tahu hal itu.
"Apin udah datang. Kita makan siang, ayo!" ajak Dewi.
"Apin!" panggil Dewi saat Apin melintas di depan mereka. Apin menghentikan langkah, dan menoleh tanpa suara.
"Kita makan siang sama-sama dulu," ujar Dewi.
"Apin ada urusan dan lagi buru-buru. Maaf!" tolak Apin. Pria itu beberapa hari ini memang menghindar. minat Sukma yang menangis tempo hari, hatinya selalu timbul penyesalan saat minat Dewi. Dia menikmati kasih sayang mamanya, sementara Sukma mah tersiksa karena mamanya. Apin merasa itu sungguh tidak adil bagi Sukma.
Dewi mengembuskan napas kasar. "Setidaknya, kita makan bersama dulu. Ayo!"
***
Di sisi lain, di kediaman Hisyam, Sukma dan Fifi sedang duduk di ruang tamu. Fifi menemani gadis itu belajar bersama guru privatnya. Keadaan Sukma mulai membaik, berkat selalu dihibur oleh orang-orang terdekatnya. Bahkan Nathan sengaja membawa dua temannya, dan juga membiarkan Leo datang ke rumahnya demi Sukma. Dukungan mereka benar-benar berpengaruh besar pada Sukma. Gadis itu akhirnya merasa dirinya diinginkan, dan menyadari kalau dia berharga. Semua yang terjadi selama ini hanyalah ujian sebelum dipertemukan dengan orang-orang sebaik mereka.
Sukma sangat senang belajar. Sebab Fifi mengatakan, setelah ikut ujian, Sukma bisa mendaftar di tempat kuliah Nathan. Menimbah ilmu di tempat yang sama dengan kakaknya itu. Leon juga mengatakan akan masuk di sana bersama Sukma. Nathan yang mendengar hal itu memelototi Leon, karena dia tahu Leon hanya modus.
Setelah guru les Sukma pulang, gadis itu masih tetap di sana untuk mempelajari apa yang menjadi pembahasan tadi. Sementara Fifi berpamitan ke dapur. Nathan yang baru pulang dari kampus, melihat sang adik yang asik membaca. Pria itu mendekat, dan mengelus puncak kepala Sukma dengan lembut.
"Rajin amat," ujar Nathan.
__ADS_1
Sukma mendongak, dan tersenyum. "Harus, dong. Kata Mama, bentar lagi waktu ujian akhir. Aku akan ikut ujian, dan kalau lulus bisa masuk Universitas kaya Abang."
Nathan mengangguk pelan. "Kamu pasti lulus. Abang yakin seratus persen."
Sukma tertawa mendengarnya. "Aamiin, deh! Oh ya, Abang hari ini kuliahnya nggak sampai sore?"
"Enggak. Sebenarnya ada jadwal sore, tapi dosennya lagi nggak ada. Jadi, bebas deh. Tapi ya gitu, jadwalnya diganti di hari kosong yang lain." Nathan mengeluh.
Sukma mengangguk mengerti. "Enak ya berarti, kalau jadi dosen. Bisa ngasih jadwal sesukanya ke mahasiswa."
Nathan tertawa mendengar celetukan Sukma. Tapi benar juga yang dikatakan gadis itu. Kalau nggak masuk, tinggal ganti di hari lain. Mahasiswanya mana bisa menolak. Akhirnya, ya manut aja.
"Kenapa? Kamu mau jadi dosen?" tanya Nathan. Sukma menggeleng. "Aku kayanya mau jadi pengusaha aja. Bisa nggak, sih, Bang?"
Nathan tersenyum. "Ya bisa lah. Jadi perempuan karir itu juga keren. Tapi ya, gitu. Suatu saat kalau kamu menikah, pasti banyak hal yang harus kamu pertimbangkan."
Sukma menautkan alisnya. "Menikah, ya? Memangnya ada yang mau sama Sukma?"
Nathan menatap Sukma aneh. "Apaan pertanyaannya kaya gitu?"
Sukma tertawa kecil, kemudian menunduk. "Nggak tahu. Sukma nggak cantik, terus punya trauma lagi. Bisa dikatakan, Sukma pernah gila, Bang. Memangnya siapa yang bakal mau?"
Nathan menghela napas kasar. "Dek, dengar! Kamu nggak gila. Kamu itu gadis kuat, anak baik, dan juga cantik. Siapa yang nggak mau? Hmm?"
"Tapi orang pasti akan mundur saat tahu masa lalu aku. Bahkan, aku pernah dilecehkan, Bang!"
Emosi Nathan rasanya naik saat Sukma mengingatkan tentang pelecehan itu. Sebenarnya, Nathan belum puas menghajar pria br3ngs3k yang melecehkan Sukma itu. Dia terselamatkan karena dijadikan saksi perbuatan Hans.
__ADS_1
"Kamu hanya korban, Dek. Nggak boleh ngomong kaya gitu. Pasti ada yang nerima kamu. Kalaupun seisi dunia menolak kamu karena masa lalu itu, Abang sendirilah yang akan menyambut kamu dengan tangan terbuka. Jadi, jangan sedih lagi, ya?" ucap Nathan bersungguh-sungguh.
Sementara Sukma, gadis itu menganggap kalimat Nathan hanya sekedar kalimat penghibur. Tanpa tahu, kalau Nathan tengah mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.