
Nathan dan Sukma kini tengah berada di balkon kamar milik Sukma. Keduanya duduk berhadapan, dengan Nathan yang memegang gitar di tangannya.
Nathan memetik sembarang senar gitar, dan bersenandung lagu asal membuat Sukma tertawa.
"Abang apaan, ih! Nyanyi yang benar, dong!" ujar Sukma.
Nathan berdehem pelan. "Ehm. Oke. Jadi, Nona Sukma mau dinyanyikan lagu apa?" tanya Nathan dengan senyum manis di bibirnya.
Sukma terdiam sebentar. Memikirkan lagu apa yang bagus untuk dinyanyikan sang abang.
"Gimana kalau lagunya Tr0y3 S1v4n, Angel Baby." Sukma mengusulkan. Akhir-akhir ini dia memang sering mendengarkan lagi di salah satu aplikasi musik.
"Hmm. Boleh. Kayanya emang cocok lagu itu untuk kamu," ujar Nathan penuh arti. Sayangnya, Sukma jelas tidak akan peka akan hal itu.
Nathan mulai memetik gitarnya, dan menyanyikan lagu itu. Sukma pun sesekali ikut bersenandung. Saat selesai, gadis itu langsung bertepuk tangan.
"Wih, ternyata Abangnya Sukma ini benar-benar keren, ya!" puji gadis itu.
Nathan tertawa mendengar pujian Sukma. Apalagi ekspresi kagum yang dilebih-lebihkan terpasang di wajah itu, membuat Nathan begitu merasa gemas dengannya.
"Lebay!" cibir Nathan.
Sukma tiba-tiba terdiam. Gadis itu malah kepikiran, kalau Nathan nanti pergi, bukankah dia akan kesepian?
"Kenapa? Kok malah tiba-tiba diam?" Nathan yang menyadari keterdiaman Sukma, menegur gadis itu. "Jangan melamun malam-malam. Apalagi di balkon gini. Abang bakal ninggalin kamu sendirian di sini, kalau kamu kerasukan."
Sukma mengembuskan napas kasar. "Aku tiba-tiba kepikiran aja. Kalau Abang nggak di rumah ini, Sukma pasti bakal kesepian."
Nathan menghela napas pelan. Lagi dan lagi, Sukma mengatakan hal yang sama.
"Kan ada Mama, Dek!" Nathan mulai serius.
Sukma mengangguk pelan. Gadis itu memaksakan senyumnya. Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus menghormati keputusan abangnya. Tidak boleh ngambek nggak jelas, karena dia bukan anak kecil lagi.
"Iya, deh! Sekarang, ayo lanjut main gitarnya!" Sukma memilih mengalihkan pembicaraan.
***
Hari pindahnya Nathan akhirnya tiba juga. Pria itu membawa satu koper berisi pakaiannya. Wajah Sukma terlihat sendu, berat rasanya melepas Nathan. padahal, pria itu pindahnya tidak terlalu jauh juga. Sukma cuma perlu naik mobil ke sana. Tidak perlu menyewa tiket pesawat ataupun kereta api. Tetapi, kenapa rasanya tetap berat, ya?
__ADS_1
"Jaga diri! Jangan tidur terlalu malam juga. Awas aja kalau kamu sering begadang sama dua teman kamu itu!" ancam Fifi.
Nathan tertawa, namun tetap mengangguki ucapan mamanya. "Iya, Mama Sayang!"
Nathan menghampiri Sukma. Menepuk pelan puncak kepala gadis itu. "Jangan cemberut. Kan nanti kamu sama Mama bakal sering berkunjung. Iya, kan, Ma?" Nathan meminta bantuan Fifi. Wanita itu lantas mengangguk.
"Benar, sayang! Kita akan sering mengunjungi apartemen Abang kamu."
Sukma memaksakan senyuman. Gadis itu maju selangkah lebih dekat pada Nathan. Tanpa disangka, dia malah melingkarkan tangannya ke tubuh Nathan.
Jantung Nathan langsung heboh. Kaget, sekaligus deg-degan efek dipeluk pujaan hati. Sementara Fifi, wanita itu juga ikut terkejut akan tingkah reflek Sukma.
Nathan menatap Mamanya. Wanita itu tengah melotot ke arahnya, memberi ancaman. Nathan tersenyum, pria itu malah melingkarkan tangannya ke tubuh Sukma. Membalas pelukan gadis itu.
Fifi mendengus. apalagi melihat Nathan memeletkan lidah padanya. Untung saja ada Sukma. Kalau tidak, Fifi sudah menjewer telinga Nathan sampai memerah.
Fifi berdehem kencang, memberi kode agar dua anak manusia itu melepaskan pelukan mereka. Sukma tersadar, gadis itu buru-buru melepas lingkaran tangannya di tubuh Nathan.
"Sukma pasti bakal sering kangen ke Abang!"
Nathan mengangguk pelan. "Abang juga pasti bakal sering kangen ke Sukma."
Nathan akhirnya berpamitan pada Fifi dan Sukma. Pria itu masuk ke mobilnya, dja mulai menjalankan roda besi tersebut keluar dari kediaman Al-Hisyam.
"Dari pada galau mikirin Abangmu, mending kita masak aja, sayang! Ayo!" Fifi berusaha menghibur Sukma.
"Ayo!" Sukma menurut. Meski, tidak seantusias biasanya.
***
Bel rumah berbunyi, membuat Sukma yang tengah menonton beranjak dari duduknya. Gadis itu membukakan pintu untuk tamu.
Sukma menautkan alis bingung, saat melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depannya.
"Cari siapa, ya, Tante?"
"Ma--Mama kamu. Dia--ada?" Entah perasaan Sukma atau bagaimana, tetapi suara wanita itu terdengar bergetar.
"Oh, ada kok, Tante. Ayo, masuk! Aku panggilin Mama dulu." Sukma membawa tamu tersebut ke ruang tamu dan mempersilahkannya menunggu di sana.
__ADS_1
Sukma menuju kamar mamanya. Mengetuk pintu berwarna abu tua itu, dan membukanya saat mendengar sahutan mamamya dari dalam.
"Ada tamu, Ma, di bawah. Nyari Mama, katanya."
Fifi yang baru selesai mandi dan tengah menyisir rambut itu, menoleh. "Siapa?"
"Ibu-ibu. Seumuran Mama, mungkin," jawab Sukma.
Fifi mengoleskan lipstik ke bibirnya. "Terus, orangnya di mana sekarang?"
"Di ruang tamu, Ma." Fifi mengangguk paham. "Ayo, kita ke sana."
Langkah Fifi memberat saat melihat wanita yang duduk di sofa itu. "Dewi," gumam wanita itu.
"Mama minta tolong buatin minum, ya, untuk tamu." Fifi kemudian mendekati Dewi dengan terburu.
"Mbak! Mbak ngapain di sini?" tanya Fifi. Bukan dia tidak mau ada seseorang yang berkunjung ke rumahnya. pasalnya, jika Sukma tahu, yang ada Dewi makin jauh dari anaknya itu.
"Aku rindu anakku, Mbak Fi!" jawab Dewi seraya menunduk.
Fifi menghela napas kasar. "Mbak, kan, sudah janji, bakal nunggu waktu yang tepat untuk menemui Sukma. Nunggu dia siap dulu."
"Tapi aku nggak sanggup lagi menahan kerinduan untuk anakku, Mbak Fi. Aku selalu tersiksa tiap waktu, karena mikirin anak aku." Fifi mengembuskan napas kasar. Fifi paham akan hal itu.
"Tapi Mbak, kalau Sukma tahu, bisa bahaya. Dia belum bisa memaafkan Mbak. Aku belum berhasil bujuk dia."
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau nengok dia sebentar aja, kok."
Dewi mengambil tangan Fifi, dan menggenggamnya. "Makasih ya, Mbak Fi. kamu sudah mau membantu saya untuk bertemu Sukma. Meskipun, dia tidak tahu siapa saya."
"Maksudnya?" Suara seseorang mengagetkan kedua wanita paruh baya itu. Mereka menoleh, melihat Sukma yang berdiri dengan wajah kaku. Di tangan gadis itu, ada nampan yang berisi dua gelas jus jeruk..
"Sukma! Dek, kamu sejak kapan di situ?" Fifi gugup. wanita itu berdiri, mendekat ke arah Sukma. Namun, Sukma malah memundurkan langkahnya.
"Jadi...anda Ibu Kandung saya?" tanya Sukma tak percaya. Dewi dan Fifi hanya mampu terdiam..
"Ngapain anda di sini? Belum puas, melihat hidup saya menderita?"
Dewi menggeleng pelan. "Bukan begitu, Nak! Mama hanya ingin menemui kamu."
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau bertemu dengan anda." Sukma menatap Dewi tajam.