Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Makan malam


__ADS_3

Hari sudah malam, namun Daniel dan Neo masih berada di rumah Nathan. Fifi sengaja menahan dua sahabat anaknya itu untuk makan malam bersama.


"Tante pamit ke kamar dulu, ya, mau manggil Sukma. Kalian duduk aja, kalau udah lapar langsung makan aja," ujar Fifi pada tiga anak muda tersebut.


"Nggak apa-apa kok, Tante. Kita tunggu Tante aja." Neo menjawab. Dia masih tahu diri, entahlah dengan Daniel.


Fifi mengangguk, kemudian berbalik bermaksud pergi ke kamar Sukma.


"Tunggu!" Fifi menghentikan langkah, dan berbalik menatap anaknya. "Ya? Ada yang kamu perlukan, Bang?" tanya Fifi.


Nathan meneguk salifanya, "anu, Ma. Emm...biar aku aja yang manggil Sukma. Sekalian mulangin ini!" Nathan mengeluarkan gunting kuku yang ia pinjam tadi dari saku celananya.


Fifi terdiam sejenak. Hari ini Nathan benar-benar aneh. Tapi Fifi senang akan perubahan Nathan, karena anaknya itu terlihat seolah kini mulai menerima Sukma sebagai adiknya.


"Ya sudah. Kalau dia tidur, kamu bangunin pelan-pelan, ya. Kasihan kalau dia kaget," pesan Fifi. Nathan hanya mengangguk sebagai balasan. Kemudian berdiri dari kursinya, dan segera pergi dari sana.


Nathan menaiki anak tangga, dia memukuli kepalanya sendiri. Merasa bodoh karena bisa-bisanya dia malah menawarkan diri untuk memanggil Sukma. Astaga! Kenapa mulutnya seolah bekerja tanpa meminta persetujuan otak, sih?

__ADS_1


Nathan mengetuk pelan pintu kamar Sukma yang sedikit terbuka. Dia membuka pintu tersebut dengan lebar saat mendengar mendengar suara lembut Sukma yang menyahut dari dalam sana.


"Makan." Sukma yang tengah membaca novel mengangguk mendengar ucapan singkat Nathan. Gadis itu beranjak dari ranjang, dan berjalan mendekat ke arah Nathan.


Nathan berjalan duluan, diikuti oleh Sukma di belakangnya. Nathan tiba-tiba berhenti dan berbalik, membuat Sukma langsung menghentikan langkah mendadak dengan ekspresi terkejut. "Ada teman Abang di bawah. Kamu...nggak apa-apa?"


Sukma terdiam, dan Nathan dapat menangkap kegelisahan di wajah gadis itu. "Kalau kamu keberatan, Abang nyuruh mereka pulang sekarang."


Sukma langsung melotot, kaget mendengar ucapan Nathan. Dalam hati dia meringis, kenapa abangnya ini jahat sekali, sih? Bisa-bisanya mau ngusir temannya.


"Ayo!" Sukma kembali tersentak kaget saat Nathan menarik tangan kirinya, dan membawa tangan itu ke dalam genggamannya.


"Biar kamu nggak gugup. Kalau ketakutan kamu muncul, remas aja tangan Abang."


Sukma mendongak, menatap tubuh Nathan yang sudah berjalan duluan sembari menggenggam tangannya, kemudian ke arah tangan mereka yang saling bertaut itu.


Fifi, Neo, dan Daniel yang sedang duduk menunggu mereka di meja makan langsung terperangah melihat kedatangan Nathan dan Sukma. Nathan yang berjalan di depan dengan menggenggam tangan Sukma, dan di belakangnya Sukma yang berjalan sembari menunduk.

__ADS_1


"Ayo!" Nathan menarik kursi yang berada di sampingnya untuk Sukma, tepatnya di berada di tengah tempat duduknya dan Fifi. Sementara di seberang meja ada Daniel dan Neo.


Daniel dan Neo saling tatap, saling memberi kode. Sebenarnya, mereka ketinggalan seberapa banyak? Di sisi lain, Fifi malah semakin terheran. Ini bukan Nathan yang biasanya. Memang akhir-akhir ini Nathan mulai menunjukkan perhatiannya pada Sukma, tapi hanya sebatas menanyakan keadaan gadis itu pada Fifi saja. Bahkan berbicara dengan Sukma saja dia tidak pernah.


"Ma?!" Fifi langsung tersentak mendenga panggilan Nathan.


"Eh, maaf. Mama kaget aja, tadi." Fifi langsung menyuarakan keterkejutannya.


"Nathan cuma bantu dia aja, Mama pasti tahu." Nathan mengisyaratkan maksudnya pada Fifi. Wanita itu kemudian langsung mengangguk mengerti dan mengulas senyum untuk sang anak sulung.


Fifi kemudian beralih pada Sukma, "oh ya, Sayang. Kamu ingat, kan, mereka ini. Ini teman-teman Abang. Abang Daniel sana Abang Neo," ujar Fifi memperkenalkan kembali.


Sukma merasakan tangannya diremas oleh Nathan, seolah memberinya semangat. Perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya, menatap ke arah dua sahabat sang abang. Namun, keringat perlahan mulai membanjiri wajahnya. Tubuhnya pun terasa gemetar. Ternyata dia belum sekuat itu bertemu dengan orang lain. Nathan yang merasakan perubahan Sukma, langsung mengelus punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya. Berusaha menyalurkan ketenangan.


"Ayo kita makan." Nathan langsung memberi kode pada sang mama. Fifi yang mengerti pun langsung mengambilkan nasi dan mengisinya di piring Nathan, Sukma, dan tak lupa Neo serta Daniel juga diperlakukan sama olehnya.


Sukma yang mulai merasa tenang, mencuri pandang pada Nathan, dan ternyata pria itu tengah menatapnya juga. Sukma mengulas senyum pada Nathan sebagai ucapan terima kasihnya dan hanya dibalas pria itu dengan anggukan pelan. Namun, tangannya tetap menggenggam tangan Sukma. Dia melepaskan genggaman tangannya hanya saat akan makan saja.

__ADS_1


__ADS_2