
"Hei, Leon kan?" Leon yang tengah memakan baksonya nyaris tersedak karena ada yang menepuk pundaknya. Dengan cepat, dia meminum jus jeruk yang ada di atas meja, dan berbalik menghadap si pelaku. Dia meringis pelan, melihat Siska yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah bersalah. "Sorry, aku ngagetin ya?"
Leon mengangguk, namun segera memasang senyum manisnya pada cewek itu. "Iya, tapi aku nggak apa-apa, kok!"
"Boleh duduk di sini, kan?" tanya Siska, membuat Leon berdecak dalam hati. Bisa-bisanya dia minta izin setelah sudah mendudukkan diri di sana. Untung saja Leon sadar, kalau dia memang harus mendekati gadis itu untuk mencari berbagai info.
"Kamu kok sendirian? Belum punya teman?" tanya Siska.
Leon menggeleng, "iya. Namanya juga murid baru, apalagi aku sedikit susah bergaul." Padahal, dia bukan susah bergaul. Hanya saja, mempersempit jarak pertemanannya di sini Leon rasa akan lebih aman. Bukan apa-apa. Leon lebih suka berteman dengan mereka yang ia rasa bisa dimanfaatkan dalam misinya. Sebab di sini dia bukan untuk bersantai, melainkan tengah menjalankan misi penting.
"Padahal kamu keliatan asik banget, anaknya."
Leon tersenyum miring. "Kamu liatnya gitu?" tanya Leon dan mendapat jawaban anggukan kepala dari Siska.
"Kamu lucu, aku tadi di kelas merhatiin kamu yang debat sama Bu Klara." Leon dalam hati mengomel, mana ada debat sama guru dianggap lucu. Aneh-aneh saja anak zaman sekarang.
__ADS_1
"Kamu sendirian? Teman kamu yang kemarin ke mana?" tanya Leon.
"Oh, itu, mereka lagi duduk di sana. Aku tadi liat kamu, langsung nyamperin ke sini." Siska menunjuk ke arah meja yang letaknya di tengah. Leon mengangguk, tipikal orang yang suka menjadi pusat perhatian.
"Nggak pesan makan?" tanya Leon.
"Sudah tadi. Tapi minta di antarkan, soalnya capek banget ngantrinya."
Leon mengangguk pelan. "Ya sudah, aku nunggu pesanan kamu datang dulu kalau gitu, baru lanjut makan. Nggak enak soalnya, ada orang cantik di sini, aku malah asik makan sendiri." Leon mulai mengeluarkan jurus buayanya. Ia tertawa dalam hati, saat melihat wajah Siska yang memerah malu karena pujiannya.
"Nggak, aku tetap nunggu kamu. Atau, kamu mau aku siapin bakso ini? Enak, kok! Apalagi kalau yang nyuapin cowok ganteng kaya aku, kan?" tawar Leon. Wajah Siska semakin memerah, dia bergerak gelisah di tempatnya sebab salah tingkah.
"A...apa, sih, Leon!" Siska tak bis menyembunyikan senyumannya. "Kamu juga lucu ternyata, kalau salah tingkah!" Leon semakin mengeluarkan jurus mautnya.
"Astaga! Kamu itu ya," Siska kalah. Gadis itu tertunduk malu dengan menangkup kedua belah pipinya. Sementara Leon, sudah mengeluarkan kata-kata julid dalam hati. Kalau dia tak sedang dalam misi, mana mau dia menggombali cabe-cabean macam ini. Meskipun Siska terlihat cantik, bagi Leon itu tak cukup.
__ADS_1
"Kamu ternyata sekelas, ya, sama Tyo."
Siska mendongak, menatap wajah Leon yang tengah berbicara. Namun kembali menatap ke arah lain saat melihat Leon yang tengah menatapnya juga. Pipi gadis itu lagi-lagi berulah, mengeluarkan semburat merah yang sangat kentara di sana. Tatapan Leon yang tajam namun meneduhkan itu membuat Siska ingin berteriak saja.
"Iya. Aku sama dia sekelas."
"Aku baru kenal dia aja di sini. Sama kamu, juga sih satu. Berarti temanku baru dua," cerita Leon.
Siska yang susah payah mengendalikan diri, kini menegakkan punggungnya meski tak berani menatap mata Leon. Dia lebih memilih mengedarkan pandangannya ke segala arah, asal bukan ke wajah tampan itu.
"Seiring berjalannya waktu kamu pasti bakal dapat teman. Tapi, kamu juga bisa temanan sama aku aja. Aku nggak keberatan kok."
Leon mengangguk. "Emang nggak apa-apa? Nggak ada yang bakal marah, gitu?"
Siska menggeleng cepat. "Enggak ada kok. Aku...free. Eh, maksud aku, nggak ada yang bakal marah kalau kamu temanan sama aku. Gitu." Gadis itu berujar salah tingkah, membuat tawa Leon muncul ke permukaan.
__ADS_1