
"Main, yok Nat, habis ini!" Ajakan dari Daniel kembali mendapat gelengan Nathan untuk ke sekian kalinya.
"Nat, kenapa sih? Jadi kaya malas main sama kita akhir-akhir ini?" tanya Neo.
"Sorry. Aku cuma lagi nggak mood main ke mana-mana aja."
"Apa ini karena Sukma?" ujar Daniel menebak. Nathan langsung menghela napas kasar mendengar ucapan Daniel.
"Kalau ada masalah, cerita Nat." Neo berusaha menasehati.
"Oke, aku butuh bantuan kalian. Itupun kalau kalian mau bantu. Kalau enggak, ya nggak apa-apa."
"Apa? Apa? kita siap dengar, kok." Daniel dan Neo langsung mendekat ke arah Nathan, siap mendengarkan masalah yang dipendam oleh pria itu.
"Ingat kan, kalau aku pernah bilang Sukma itu ada trauma?" tanya Nathan. Daniel dan Neo langsung mengangguk bersamaan.
"Akhir-akhir ini, perubahannya itu makin kelihatan. Dia banyak kemajuan. Dan kemarin, tante Sandra sempat minta tolong ke aku untuk sering-sering ngajak kalian ke rumah."
"Hah? Ngapain?" tanya Daniel tak mengerti ke mana arah pembicaraan Nathan.
"Kata Tante Sandra, itu bisa membantu penyembuhan Sukma, dengan cara mulai membiasakan dia dengan kehadiran orang baru," jelas Nathan.
Daniel dan Neo mengangguk mengerti. "Kita siap, kok, bantu kami Nat. Lagian, punya Adek cewek itu kayanya enak."
__ADS_1
"Makanya Yo, suruh bokap kamu buatin adik." Neo langsung memukul kepala Daniel karena ucapan pria itu.
"Heh, papa aku duda ya. Mau buat adik sama siapa?"
"Ya, suruh kawin lagi, lah!" jawab Daniel enteng.
"Papaku setia meskipun Mama udah lama meninggal. Nggak kaya Papa situ, yang hobinya ganti istri setahun dua kali. Udah kaya lebaran aja."
Bukannya marah, Daniel malah tertawa. Nathan hanya mampu menghela napas pelan melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
"Jadi, pulang nanti kita fix ke rumah kamu, ya, Nat?" ujar Neo mulai serius.
"Hmm."
Nathan langsung menatap tajam lada Daniel saat mendengar ucapan pria itu. "Orang tua aku kaya, dan aku juga bisa beliin apapun yang dia mau. Jadi, nggak usah sok caper!"
Neo tertawa keras, menertawakan nasib Daniel yang kena julid Nathan.
"Kan usaha, Nat! Siapa tahu Sukma itu sebenarnya jodoh aku."
"Nathan!"
Nathan yang dipanggil namanya, namun yang menengok malah mereka bertiga.
__ADS_1
Aluna, salah satu teman Laras yang tadi memanggil Nathan. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Nathan.
"Nat, Laras sakit," ujar Aluna.
Nathan menatap tak minat pada gadis tersebut. Salah satu alisnya ia angkat, seolah mengisyaratkan ketidak tertarikannya.
"Dia di rumah sakit sekarang," ucap Aluna lagi, namun tetap sama, tak mendapatkan respon apapun dari Nathan.
"Nat! Laras sakit, loh! Sa-Kit!" ujarnya penuh penekanan.
Nathan menghela napas kasar. "Lalu, hubungannya dengan aku apa? Aku bukan dokter, jadi...ngapain laporan ke aku?"
Aluna menganga di tempatnya. Awalnya, dia sedikit tak percaya dan menganggap Laras berbohong perihal Nathan yang sudah tidak mengejarnya lagi. Tapi, hari ini Aluna baru sadar kalau ucapan Laras benar. Si bucin Nathan, kini telah berubah.
"O...oke. Tapi, Nat, ini Laras loh. Masa kamu udah nggak peduli ke dia?" tanya Aluna.
Nathan mendengus pelan. "Dia memangnya siapaku, sampai aku harus peduli?" Tajam, menusuk, dan menyakitkan. Aluna saja yang mendengar sakit hati sendiri, bagaimana kalau Laras yang mendengar, ya?
"Oh...oke. Tapi Nat, alamat rumah sakitnya nanti ku kirim. Siapa tahu kamu berubah pikiran." Aluna segera pergi dari sana. Dia merasa malu juga, saat anak kelas Nathan melihat bagaimana Nathan mengabaikan semua ucapannya tadi.
"Ckk! Nggak perlu!" ujar Nathan, namun sayangnya Aluna sudah berlalu dari sana.
"Gengnya Laras emang pada nggak beres semua, ternyata." Daniel berujar sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1