Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Selangkah Lagi


__ADS_3

Leon saat ini tengah mencari cara bagaimana agar dirinya bisa masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. CCTV ruang guru tak membuahkan hasil, dan karena kepala sekolah terlibat mencurigakan berdasarkan cerita Nathan maupun Siska, Leon jadi ingin menyelidiki pria paruh baya itu langsung.


Kemarin, Leon berusaha meretas CCTV di ruangan kepala sekolah, namun dia belum mendapatkan bukti apapun. Leon merasa, sekarang waktunya ia bisa masuk ke sana dan mencari siapa tahu saja dia menemukan petunjuk.


Suasana sekolah memang sudah sepi sejak tadi. Semua murid telah pulang ke rumah terkecuali yang mengikuti ekstra kurikuler, itupun hanya klub basket dan klub renang yang latihan hari Rabu seperti ini.


Leon jelas bersusah payah untuk bisa melakukan rencana ini. Pasalnya, kemarin dia dengan berani memasuki ruang OSIS dan mencari membongkar tempat penyimpanan kunci ruangan kepala sekolah. Kegiatannya sebenarnya terbantu dengan adanya Tyo, pria itu ternyata anggota OSIS dan Leon mengikutinya ke sana. Diam-diam, dia mencari kesempatan untuk menelusuri ruangan itu, hingga dia mendapatkan tempat penyimpanan seluruh kunci ruangan. Beruntungnya lagi, masing-masing kunci terdapat keterangan ruangan apa saja, hingga dia bisa dimudahkan. Leon sengaja mencopot satu kunci ruang kepala sekolah, sebab kunci tersebut ada tiga buah. aksi Leon ini jelas sangat didukung keberuntungan. Padahal, Leon sudah menyiapkan sebuah gabus yang bisa ia gunakan untuk mencetak kunci tersebut jika ia harus membuat duplikat.


Leon itu sangat cekatan, sehingga seluruh pergerakannya tak terlihat oleh Tyo. Dan sekarang, waktunya Leon beraksi lagi. Kepala Sekolah sudah pulang sejak tadi, jadi Leon merasa aman untuk masuk ke sana. Letak CCTV pun Leon sudah hapal, sehingga memudahkannya untuk menghindari tempat yang disorot oleh kamera pengintai tersebut. Dan untuk penjagaan, Leon juga sudah mengganti pakaiannya dengan kaus hitam, celana hitam, topi, kaca mata, dan juga masker yang menutupi wajahnya, persis seperti seorang penguntit. Tak lupa kaus tangan, agar sidik jarinya tak berjejak di benda apa saja yang ia sentuh. Semua sudah ia persiapkan sejak semalam.


Dengan Leon membuka pintu ruangan kepala sekolah, mendongak sejenak pada kamera CCTV yang ada di plafon pojok ruangan. Leon berjalan ke arah samping kiri, tak lupa sebelum itu ia mengunci ruangan terlebih dahulu.


Leon menjatuhkan tubuhnya, mengambil posisi jongkok. Membuka satu persatu laci meja yang ada di sana, membaca setiap tulisan yang ada di dalam map dengan cepat dan teliti. Merasa tak ada yang ia temukan, Leon berjalan ke arah lemari. Masih dengan posisi berjongkok dan berjalan ke arah kiri dan sedikit menempel di dinding. Leon berhasil sampai di pinggir kemari, saat akan berjalan ke tengah, Leon mengumpat pelan. Dia melupakan kamera CCTV yang ada di atas pintu masuk.


"Si4l! Nggak apa, Leon, harus tenang!" bisiknya pelan. Dia mengenakan pakaian tertutup seperti ini, jadi wajahnya tak akan kelihatan. Biar nanti CCTV itu akan ia rusak setelah ini, agar tak ada yang bisa mengetahui aksinya.


Leon kemudian membuka lemari tersebut dan ternyata terkunci. Leon mengeluarkan jepitan kecil yang memang sudah ia persiapkan, dan berusaha membuka kunci lemari tersebut. Senyuman manis terukir di bibir pria itu saat dia berhasil membukanya.


Leon mengambil satu persatu berkas di sana, dan membacanya. Pria itu berdecak pelan, saat tak menemukan apa yang ia cari. Sekali lagi, dia membongkar isi lemari tersebut, bahkan terkesan mengacak-acaknya, namun Leon tak lagi peduli.


"Nggak ada bukti apapun? Sedikit petunjuk aja nggak ada."


Leon tak menyerah, dia sekali lagi membuka berkas-berkas di sana, sampai dia menemukan sebuah map berwarna biru bertuliskan nama 'SUKMA AYU NINGRUM' di judulnya. Leon tersenyum miring, walau cuma satu petunjuk tak apa. Karena Leon yakin, dari satu petunjuk, akan membawa mereka ke petunjuk-petunjuk yang lain. Dan puzzle itu akan segera tersusun rapi. Leon tak sabar menanti akan hasil akhir tersebut. Bukankah semakin besar perjuangan, akan semakin besar juga hasil yang diperoleh nanti?


Dengan terburu, Leon membawa map tersebut dari sana. Leon berhasil keluar ruangan tersebut, pria itu bernapas lega. Saat berjalan menuruni anak tangga, langkah Leon terhenti. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Leon menatap sekeliling dengan was-was, namun tak menemukan siapapun di sana Leon menggelengkan kepalanya, mungkin ini hanya perasaannya saja.


Leon melanjutkan langkah, sesampainya di lantai dua, dia berbelok ke sebuah ruangan kecil yang berada di sebelah kiri koridor. Itu ruangan CCTV. Sama seperti ruang kepala sekolah, ruangan itu juga kosong.

__ADS_1


Leon dengan cepat mencari rekaman yang ada di ruangan kepala sekolah, dan mulai menghapus rekaman tersebut dimulai dari menit di mana dia memasuki ruangan itu. Leon kembali memasang senyuman miring saat selesai, dan segera keluar dari sana.


Leon mengepalkan tangannya saat sudah berada di koridor lantai dua. Berhenti melangkah, dan memejamkan mata sejenak. "Keluar! Saya tahu, kamu mengikuti saya sejak tadi!" ujarnya tegas.


"Mr. Black! Itu, kamu kan?"


Tak berapa lama, terdengar tepuk tangan di belakangnya. Leon berbalik, menatap seorang pria yang memakai pakaian hitam sepertinya. Bedanya, jika Leon hanya mengenakan kaos berlengan panjang, pria itu malah mengenakan Hoodie hitam, hingga bahkan postur tubuh atasnya tak kentara seperti apa.


"feelingmu ternyata tidak bisa diabaikan juga." Leon berdecak mendengar ucapan Mr. Black.


"Apa maumu?" tanya Leon langsung.


"Ckk! Gampang. Cukup jangan mencari tahu apapun tentangku, hanya itu. Untuk misi, aku rasa kita punya tujuan yang sama, kan?"


Leon tertawa pelan. Ternyata dia ketahuan. Beberapa hari ini, Leon pun juga mulai menyelidiki siapa Mr. Black. Dia bahkan rela duduk berjam-jam di Cafe tersebut, hanya untuk mencari tahu. Bahkan Leon berani membobol CCTV lantai dua Cafe, namun sayangnya tak berhasil karena keamanannya malah tak bisa ditembus. Dari sana, Leon yakin kalau Mr. Black bukan orang sembarangan.


"Ketahuan ya?"


Mata Leon membuat sempurna. "Apa maksudmu?"


Mr. Black tertawa melihat kekhawatiran Leon. "Kamu meremehkan lawanmu. Kamu lupa, jika Kepala Sekolah bukan orang yang pintar, sudah jelas kasus gadis itu tidak akan serumit ini."


Leon mengepalkan tangannya. "Tapi tenang saja, tinggal selangkah lagi kita bisa menjatuhkannya. Sebaiknya, kita segera pergi dari sini. Karena dia sudah di bawah!"


Leon tersentak mendengar ucapan Mr. Black. Benar, dia terlalu meremehkan kepala sekolah. Leon menyadari kesalahannya.


"Ikut saya!" Leon menurut, berjalan mengikuti Mr. Black yang malah berbalik arah. Kemudian memasuki satu ruangan yang Leon yakini adalah gudang. Mr. Black berjalan ke arah sudut ruangan, di sana ternyata tersedia tangga lipat. "Bergerak cepat, kalau tidak dia akan menemukan kita."

__ADS_1


Mr. Black membuka satu jendela di ruangan itu, yang ternyata langsung menuju taman belakang sekolah. Dengan terburu, keduanya turun dengan menggunakan anak tangga itu. Saat sudah menginjak tanah, Leon mendengar Mr. Black mengumpat.


"**1*, dia ada di sini!" Leon mengedarkan pandangan, benar. Seorang pria tengah berada di taman tersebut, menatap ke sekeliling arah dengan gelisah. "Kamar mandi belakang, ayo! Di sana satu-satunya tempat agar kita tidak terlihat!"


Leon menurut. Keduanya berlari mendekati kamar mandi, masuk ke sana dan mengunci diri.


"S14lan! Bau banget nih kamar mandi! Padahal pakai masker, masih nembus aja baunya!" ujar Leon sembari menutup hidungnya dengan satu tangan.


"Diam! Kalau nggak mau ketahuan! Dia datang bukan cuma sendiri, tapi dengan anak buahnya! Kalau kita ketahuan, bisa-bisa kita babak belur."


Leon terdiam mendengar bisikan Mr. Black itu. Suara langkah kaki berjalan cepat terdengar dari luar. Benar, ada banyak ketukan langkah yang tertangkap di indra pendengaran Leon. Sebenarnya, dia bisa saja melawan mereka. Namun Leon tak ingin gegabah, bisa-bisa penyamarannya malah terbongkar.


"Maaf, Tuan! Tidak ada di sini. Mereka pasti masih terjebak di dalam."


"KALAU BEGITU, CEPAT CARI DI DALAM SANA! JANGAN ADA SATU RUANGAN PUN YANG TERLEWAT!"


"Baik, Tuan!"


Selang tiga menit, benar-benar tak lagi terdengar ada suara apapun di luar sana.


"Aman! Ayo kita keluar!"


Leon mengangguk pelan. "Tunggu!" Leon menahan Mr. Black yang akan keluar dari pintu kamar mandi.


Mr. Black menghentikan langkah, namun tak berbalik. "Seperti kamu bilang, saya meremehkan lawan. Dan kamu pun sama juga, terlalu meremehkan saya. Suara aslimu, saya tahu siapa kamu!"


Tubuh Mr. Black menegang, kepalan tangannya perlahan terbentuk. Saat dalam situasi genting tadi, dia malah mengeluarkan suara aslinya, bukan seperti suara palsu yang selama ini ia buat.

__ADS_1


"Terserah mu! Kamu tahu pun, tak akan ada untungnya, bukan?" Kemudian, dia berjalan meninggalkan Leon di sana sendirian.


"Cosplay yang bagus!" gumam Leon sebelum ikut keluar dari ruangan berbau busuk tersebut.


__ADS_2