Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Pinjam Pundak


__ADS_3

Sejak dua hari lalu, berita di TV memuat tentang hilangnya seorang gadis sekaligus anak tunggal keluarga Januar. Berbagai macam judul termuat baik di Televisi maupun di laman internet.


Diterpa masalah pelik perusahaan, puteri keluarga Januar menghilang?


Bagai jatuh tertimpa tangga pula. Perusahaan nyaris bangkrut, kini puteri Tunggal keluarga Januar menghilang


Puteri tunggal keluarga Januar menghilang, apakah ada hubungannya dengan perusahaan besar itu yang kabarnya akan gulung tikar?


Selain itu, masih banyak lagi judul berita yang membahas masalah hilangnya seorang Siska Maharani Januar. Hisyam yang tengah menonton berita di TV hanya memandang lurus dan tersenyum miring.


"Apa rencana Papa selanjutnya?" tanya Nathan. Pria itu sudah beberapa hari ini selalu mendatangi perusahaan Hisyam bersama tiga temannya dan juga Leon.


"Kita datangi anak laki-laki itu, jika situasi memang bahaya juga, kita buat dia seperti Siska."

__ADS_1


Neo dan Daniel yang selama ini sering melihat Hisyam yang selalu bertutur lembut serta suka bercanda, bergidik ngeri saat tahu bagaimana pria itu bertindak untuk anak gadis kesayangannya tersebut. Mereka tidak menyangka, Hisyam memiliki sisi menakutkan seperti ini.


"Leon, kamu tahu tugas kamu, kan?" Leon langsung mengangguk. "Besok saya akan membawa pria br3ngs3k itu ke sini."


Hisyam mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Pria itu kemudian melirik Nathan. "Hari ini kamu pulang cepat ke rumah. Kamu tau, Mama kamu tadi protes ke Papa, katanya Sukma curhat ke Mama, dia kesepian di rumah. Kamu selalu pulang malam, dan bahkan nggak sempat mendatangi kamarnya untuk sekedar menegur dia."


Nathan tersentak. Memang dia sering pulang malam bersama dengan Papanya, dan saat lagi pun dia akan buru-buru berangkat. Bukan tanpa alasan, dia tak tega melihat wajah Sukma. Semua perlakuan Siska dan pria itu akan terbayang di wajahnya, dan Nathan seolah akan menangis saat berhadapan dengan Sukma. Dia tidak ingin Sukma kebingungan, jika dia tiba-tiba menangis di hadapan gadis malang itu. Jadi, lebih baik Nathan menghindar dulu. Tapi ternyata dia malah membuat sang adik kesepian.


"Nathan?" tegur Hisyam saat melihat Nathan malah melamun.


_____________


Nathan menghembuskan napas kasar berkali-kali sebelum memutuskan mengetuk pintu kamar Sukma yang tertutup rapat itu.

__ADS_1


Pintu kamar dibuka dari dalam, membuat Nathan berdiri di sana dengan wajah tegang. Dia sejujurnya bingung, ingin berbicara dengan Sukma mulai dari mana. Beberapa hari tidak bercengkrama dengan gadis itu, malah menghadirkan rasa canggung pada diri Nathan.


"Abang?!"


"Eh!" Nathan menggaruk pelipisnya untuk menghilangkan canggung. Bisa-bisanya dia malah asik dengan pemikirannya sendiri. Lihatlah, gadis di hadapannya ini sedang menatap dirinya dengan tatapan polos bercampur kebingungan.


"Tumben Abang pulang cepat?" tanya Sukma. Dia membuka pintu dengan lebar, mengisyaratkan Nathan untuk masuk.


Selanjutnya, dia berbalik dan melangkah duluan. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang mendekapnya dari belakang. Sukma menegang di tempat karena terkejut. Sementara Nathan, dia menenggelamkan kepalanya di pundak gadis itu.


Sukma menyentuh tangan Nathan yang melingkari tubuhnya dengan ragu, lalu menepuk-nepuknya pelan. "Abang kenapa? Ada masalah ya?" tanya gadis itu.


Nathan tetap diam di posisinya. Tak berapa lama, Sukma merasakan bahunya basah. Nathan menangis?

__ADS_1


"Abang! Berat banget ya, masalahnya? Ya udah deh, Sukma izinkan Abang nangis di pundak Sukma sejenak. Tapi jangan lama-lama ya, pegel soalnya. Hehe!" ujar Sukma dengan menyelipkan candaan garing di ujung kalimatnya.


Dalam keadaan menangis, Nathan malah tersenyum karena mendengar candaan sang adik. "Lima menit. Izinkan Abang pinjam pundak kamu lima menit."


__ADS_2