
"Keadaan Sukma gimana, Ma?" Hisyam bertanya pada istrinya.
Fifi tersenyum. "Semakin membaik. Obat dari dokter Sandra juga semakin dikurangi dosisnya. Ketakutannya pada orang baru sudah bisa ia atasi."
Sebenarnya, rasa trauma Sukma bisa secepat itu hilang karena memang gadis itu berusaha sekeras mungkin untuk sembuh. Menurut dokter Sandra, rasa trauma Sukma terlihat sangat parah itu karena terlalu lama mendapatkan penanganan. Dengan bantuan dari berbagai pihak yang mendukungnya, serta lingkungan yang positif, trauma itu bisa dia atasi lebih cepat dari yang mereka duga.
Meski begitu, dokter Sandra mengatakan mungkin sewaktu-waktu Sukma akan kembali kambuh jika mendapatkan tekanan. Itu sebabnya dia memperingatkan pada Fifi agar ke mana-mana tetap membawa obat Sukma untuk berjaga-jaga.
"Hans Arganta sudah tertangkap."
Fifi mengangguk. "Aku sudah lihat beritanya tadi."
"Sukma juga?" tanya Hisyam. Fifi menggeleng. "Enggak. Aku lihatnya pas dia masih di kamar. Waktu dia ke rumah keluarga, aku buru-buru ganti Chanel lain."
Hisyam terdengar menghembuskan napas berat. "Meski pria itu sudah tertangkap, kita pasti akan membutuhkan kesaksian Sukma untuk semakin menguatkan laporan. Aku berharap Hans Arganta akan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya."
"Tapi Pa, bagaimana kalau tiba-tiba Sukma malah kambuh lagi?"
Hisyam terdiam sejenak. "Sidang pertama akan dilakukan Minggu depan. Selama seminggu ini, kita harus berusaha pelan-pelan memberitahu Sukma. Kalau perlu, kita memanggil dokter Sandra ke sini untuk mendampingi. Gimana?"
"Kenapa harus dengan Sukma, Pa?" tanya Fifi bingung. Setahunya, bukti yang mereka miliki sudah sangat kuat. Saksi pun juga sama. Lalu, kenapa Sukma harus ikut terlibat juga? Dia khawatir akan kesehatan mental Sukma. membayangkan Sukma kembali meringkuk ketakutan, membuat Fifi benar-benar tak sanggup.
Hisyam membuang napas pelan. Dia mengerti ketakutan istrinya itu. Hisyam membawa Fifi ke dalam dekapannya, menangkan istrinya yang terlihat sangat gelisah itu.
"Papa tahu, Ma. Meski tanpa Sukma, Hans Arganta pasti akan tetap mendapatkan hukuman. tapi, Ma. Papa berpikir, saat hakim menjatuhkan hukuman karena perbuatan Hans, Sukma ada di sana. Melihat bagaimana orang yang telah menghancurkan hidupnya kini tengah menuai perbuatannya sendiri.
"Papa juga ingin menghancurkan mental Hans, dengan membawa Sukma di sana. Sebagai bukti, gadis yang berusaha ia singkirkan kini malah baik-baik saja, dan mampu berdiri menghadapinya."
__ADS_1
Fifi mencerna semua ucapan sang suami. Perlahan, wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap mata Hisyam. "Tapi Pa, kalau kita bawa Sukma ke sana, bukankah dia berpotensi ketemu dengan ibu kandungnya?"
Hisyam mengangguk. "Itu sudah pasti. Papa bahkan yakin, kalau Dewi sekarang malah tengah berusaha mencari keberadaan Sukma."
"Aku--aku nggak mau, kalau Sukma dibawa sama dia, Pa!"
Hisyam menggeleng pelan. "Hei, nggak bakal ada yang berani membawa puteri kita. Dia anak kita. Puteri keluarga ini. Kalaupun Dewi sudah sadar dan ingin meminta maaf pada Sukma, kita biarkan. Sukma itu anak yang cerdas. Dia tidak akan mau kembali pada seseorang yang sudah menghancurkan hidupnya sejak kecil."
"Meski Sukma cerdas, Papa nggak boleh lupa kalau anak itu sangat baik. Aku nggak mau dia terpengaruh dan malah kembali dengan Mamanya. Aku nggak mau kehilangan puteri kita, Pa!"
"Ma, dengar! Sukma sudah dewasa. Memaafkan perbuatan Mamanya, itu sudah jelas harus ia lakukan. Tapi aku yakin, dia nggak akan mau kembali hidup bersama Ibu Kandung yang mencipta trauma selama bertahun-tahun di hidupnya. Kalau pun dia akan bersama Ibu Kandungnya, apa Mama berpikir Sukma akan melupakan kita? Anak kita bukan gadis yang berpikiran picik, Ma!" Hisyam berusaha menasehati sang istri. Jangan sampai ketakutan Fifi malah menjadi beban pikiran Sukma nanti.
***
Di sisi lain, di kediaman keluarga Hans Arganta, Dewi tengah menangis tersedu-sedu. Mata wanita itu sudah bengkak, karena terlalu banyak menangis. Ayas dan Apin tetap setia menemani wanita itu di kamarnya. Ayas sudah mendengar penjelasan adiknya tentang sang papa. Ketakutan pria itu akan Sukma yang kembali ke hidup Dewi, dan juga rasa egois karena tak bisa menerima Sukma yang merupakan anak dari istrinya.
Ayas jadi kasihan pada gadis malang itu. Sudah sejak kecil menderita, dan papanya malah ikut menambah penderitaan gadis itu.
Ayas tiba-tiba kepikiran sesuatu. Dia melirik ke arah Apin, dan ternyata sang adik menyadarinya. Ayas beranjak, kemudian mengisyaratkan pada Apin untuk mengikuti dirinya.
"kenapa? Mama jangan ditinggal lama." Sampai di balik pintu, Apin langsung bertanya.
"Kamu menjelaskan semuanya ke aku tadi, dan kamu begitu tahu banyak tentang kasus ini. Jangan bilang kalau kamu--"
"Aku apa? Yang melaporkan perbuatan Papa?" ujar Apin, memotong perkataan Ayas.
Ayas menghembuskan napas kasar. Dia tahu, kalau dirinya sudah membuat adiknya itu tersinggung. Lagipula, Ayas yakin meskipun hubungannya dengan sang ayah tak begitu dekat, Apin tidak akan sejahat itu untuk melaporkan perbuatannya.
__ADS_1
"Aku mungkin sudah melaporkan Papa sejak dua tahun lalu, seandainya aku bisa dan juga sanggup. Nyatanya, aku tetap nggak akan tega melaporkan Papaku sendiri ke Kantor Polisi."
"Maaf!" ujar Ayas merasa bersalah.
"Beberapa bulan lalu ada yang datang mencari tahu tentang Sukma di sekolah. Ternyata mereka keluarga Sukma."
"Mereka juga yang sudah melaporkan Papa ke kantor polisi. Parahnya, mereka bukan orang sembarangan."
"Siapa?" tanya Ayas penasaran.
"Rajendra Damar Al-Hisyam."
"Al-Hisyam?"
Apin mengangguk. "Iya."
"Aku kaya nggak asing, ya, sama nama itu?"
Apin menggelengkan kepalanya pelan. "Itu nama pengusaha terkenal. Kamu sejak dulu sering baca majalah bisnis milik Om Hanif, kan? Mungkin kamu baca namanya di sana. Atau enggak, paling juga liat berita di TV."
Ayas mengangguk. "Mungkin."
BRUK!!
Suara itu membuat keduanya teralih. Mereka buru-buru masuk ke dalam kamar, dan terkejut mendapati Dewi yang sudah terjatuh di atas lantai dengan posisi yang tak sadarkan diri.
"Ma! Ma, astaga! Mama, sadar! Jangan gini, Ma!" Berkali-kali Ayas mengguncang tubuh Dewi. Apin kemudian menggendong Dewi kembali ke atas ranjang. "Aku akan telpon dokter dulu. Untuk sementara, kamu olesin minyak angin untuk dioleskan ke depan hidung Dewi.
__ADS_1
Apin menggaruk kepalanya yang terasa gatal. "AARGGGHHH!" Pria itu berteriak frustasi akan keadaan. Kenapa semuanya malah jadi serumit ini?