Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Cahaya Baru


__ADS_3

Seorang pria tengah berdiam diri di kamarnya. Dia tengah berdiri di dekat jendela, matanya menerawang jauh ke depan. Tangannya mengepal dengan erat, sarat akan emosi yang sedang dirasakan pria itu.


"Anak itu, jadi dia masih hidup? Cih!" Ia bergumam pelan penuh kekesalan.


"Kupikir dia sudah menghabisi ny4wanya sendiri setelah semuanya. Si4l!"


"Pi!" Panggilan itu menyentaknya. Tangannya yang tadi terkepal, terlepas begitu saja. Wajahnya yang tadi mengetat sebab emosi, mulai mengendur. Senyum manis langsung tercipta di wajahnya sebelum ia berbalik ke sumber suara.


"Eh, iya. Kenapa Mi?" ujarnya begitu lembut.


"Udah waktunya makan malam," ujar sang istri. Wanita itu mendekat dan berdiri di samping suaminya. Dia melihat pemandangan di luar jendela yang sudah tiga hari ini selalu diperhatikan sang suami.


"Apa sih Pi, yang menarik di luar jendela ini? Mami perhatiin, udah tiga hari Papi suka berdiri di sini." Ia bertanya keheranan.


"Ah, enggak ada apa-apa. Cuma, langitnya kayanya indah."


Wanita itu mengangguk dan percaya begitu saja alasan sang suami.

__ADS_1


"Ayas sama Apin udah pulang?"


"Iya, udah dari tadi sore. Sekarang mereka udah di meja makan." Kedua paruh baya itu kemudian melangkah keluar dari kamar tersebut sembari bergandengan.


________


Di kediaman Hisyam, keluarga bahagia itu juga tengah menikmati makan malam. Nathan yang duduk di sebelah Sukma, tengah membantu gadis itu mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya. Hisyam dan Fifi yang memperhatikan interaksi dua orang itu sejak tadi malah tak berhenti tersenyum.


"Ma, Pa, ada yang mau Sukma omongin." Selesai makan malam, mereka belum beranjak dari sana. Semua mata langsung tertuju pada Sukma saat gadis itu membuka suara.


"Sukma setuju untuk belajar di rumah. Tapi, Mama harus tetap nemanin Sukma. Sukma ingin ada kemajuan lebih banyak lagi di diri Sukma. Bisa belajar dan kuliah seperti Kak Nathan juga." Gadis itu berujar penuh kelembutan, namun ada nada tegas di sana. Seolah Sukma tengah menegaskan ke dirinya sendiri, yang mungkin ketakutan itu tengah menantang dirinya.


Tiga orang di sana sontak merasa terharu. Hisyam yang duduk di samping kanan Sukma, menepuk-nepuk lembut kepala gadis itu dengan bangga.


"Papa senang kalau itu kemauan Sukma. Sukma memang harus belajar melawan ketakutan itu, biar Sukma bisa lebih berkembang lagi."


"Tapi, Sukma enggak apa-apa? Jangan dipaksakan ya, Sayang!" Fifi berujar senang dan sedikit khawatir.

__ADS_1


"Sukma akan mencoba untuk nggak apa-apa, Ma. Sukma akan uji, sejauh apa ketakutan itu bisa Sukma kuasai," ujar Sukma menenangkan.


Sukma menoleh ke samping kirinya saat merasa tangannya digenggam seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Nathan? Pria itu tengah menatapnya lembut penuh kehangatan.


"Kakak bangga sama kamu. Kakak janji, akan ikut nemanin kamu belajar kalau Kakak nggak ada kegiatan lain. Kamu jangan takut lagi, kita atasi sama-sama ketakutan kamu itu. Kamu nggak sendirian, ada Kakak, Mama, sama Papa juga."


Sukma mengangguk. Entahlah. Tak henti-hentinya Sukma memanjatkan rasa syukur karena dipertemukan dengan keluarga Hisyam yang begitu menyayanginya. Meski terkadang rasa rendah dirinya muncul saat mengingat begitu banyak sakit dan trauma yang membayangi dirinya.


Selesai makan malam, Sukma dan Nathan berjalan beriringan menuju lantai dua, di mana kamar mereka berada. Nathan menatap Sukma yang berjalan di sampingnya. "Kamu benaran nggak apa-apa, belajar nanti?" tanya Nathan memastikan kembali.


Sukma mengangguk. "Iya. Aku udah yakin, kok. Seperti kata Kakak. Aku nggak sendirian melawan ketakutan ini. Ada kalian yang selalu support aku dari belakang. Berdiri menguatkan aku dan membantu mempertahankan kewarasanku. Iya, kan?"


Nathan tersenyum lembut. Tangannya menepuk puncak kepala Sukma dengan bangga. "Kakak senang kamu berani maju lebih jauh lagi. Benar, di sini ada Kakak, Mama sama Papa yang akan selalu dukung kamu. Kapan menguatkan kamu ketika kamu terjatuh. Dan akan membantu kamu melangkah saat kamu sudah tertatih."


"Makasih. Sukma bahagia ketemu kalian." Sukma menghentikan langkahnya di depan pintu kamar miliknya. Gadis itu berbalik menatap Nathan yang kini tengah menatap ke arahnya juga.


"Sama-sama. Kita semua juga bahagia karena kehadiran kamu. Kamu itu cahaya baru di rumah ini," ujar Nathan membalas.

__ADS_1


__ADS_2