
"Minuman untuk siapa, Ma? Ada tamu?" Sukma yang baru turun dari lantai dua bertanya pada Fifi, saat melihat di atas meja tersedia tiga gelas minuman dan satu toples berisi cemilan keripik ubi.
"Iya, teman Abang," jawab Fifi. Wanita itu melirik ke arah tangan Sukma yang menenteng satu buku pelajaran.
"Lagi belajar?" tanya Fifi sembari melemparkan senyuman manis pada sang anak gadisnya tersebut.
"Iya. Sukma lagi belajar. Tapi tadi haus, makanya turun," jawab Sukma.
"Cemilan kamu juga masih ada di dalam kulkas," ujar Fifi. Dia tahu kebiasaan anak gadisnya itu, saat belajar akan sering mengunyah makanan. Makanya Nathan dan Hisyam sering membelikannya Snack setiap pulang.
"Di atas masih ada beberapa bungkus. Cuma minumnya tadi lupa ambil."
Fifi mengangguk pelan. "Ya sudah. Adek mau Mama buatin minuman juga?" tanya Fifi menawarkan, namun gadis itu menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Sukma cuma mau ambil air aja, Ma."
__ADS_1
Baru ingin beranjak ke dapur, Sukma terhenti saat mendengar suara orang berbincang yang mendekat. Dia berbalik, dan menemukan Papa, Abang, dan juga seorang pria asing yang baru hari ini dilihatnya. Oh, mungkin itu teman abangnya yang dikatakan sang mama tadi. Sukma reflek menunduk saat pria itu menatap ke arahnya, satu hal yang sering terjadi ketika ia bertatapan dengan orang asing. Meski begitu, dia pasti bisa mengendalikannya dalam beberapa detik.
"Dek, kebetulan kamu lagi di sini. Kenalin, ini Leon. Teman Abang kamu, sepupunya Neo, dan sekaligus Papanya Leon ini rekan bisnis Papa." Hisyam berjalan mendekat ke arah Sukma, melingkarkan tangannya di bahu sang anak dan membawanya mendekat pada Leon.
Nathan mendengus pelan saat tak sengaja menatap Leon yang ternyata sedang menatap dirinya penuh ejekan. Kalau tak mengingat ada orang tuanya dan sang adik, Nathan rasanya ingin menonjok wajah tengil anak itu. Dasar bocah tak beradab! Umpat Nathan dalam hati.
"Leon!" Leon menyodorkan tangan kanannya, memperkenalkan diri pada Sukma, yang disambut gadis itu dengan sedikit ragu. Sukma berusaha mengendalikan diri, perlahan, wajahnya ia angkat dan menatap ke arah Leon yang saat ini tengah menampilkan senyuman manis.
"S...Sukma," ujarnya menyebutkan nama dan menyambut tangan Leon.
"Stop! Jangan lama-lama!" Nathan memutus jabatan tangan dua anak itu, dia kemudian menatap Leon tajam. "Nggak tahu malu," ujarnya kesal.
Leon meringis pelan, padahal niatnya sebelum ini memang menjahili Nathan. Tapi mulutnya tadi malah mengeluarkan kekaguman tanpa disadari. Dan berakhir dia salah tingkah sendiri.
"Maaf, habis memang cantik sih." Sudah kepalang basah, lebih baik nyebut saja sekalian. Lagi pula, rasa malu Leon itu memang cuma seuprit. Keluar dikit, ya udah, habis.
__ADS_1
"Duduk dulu, ayo! Malah debat. Ini, minum dulu." Fifi mengajak semuanya untuk duduk. Dia menggelengkan kepalanya melihat betapa posesifnya Nathan pada sang adik. Padahal Leon hanya memuji, tapi Nathan sudah kebakaran jenggot sendiri.
"Kamu itu loh Nat, Leon itu tamu. Nggak boleh gitu, dia juga kan lebih muda dari kamu!" ujar Fifi saat melihat Nathan masih menatap Leon tajam.
"Ya masa Nathan biarin dia ngegoda Sukma?" balas Nathan.
Sementara Sukma meringis pelan di tempatnya mendengar ucapan sang Kakak. Padahal, menurutnya Leon tadi hanya main-main. Tapi Nathan marahnya malah serius.
"Ya lagian emang kenapa? Mereka mungkin seumuran juga, kan? Mama sih senang-senang aja." Fifi tertawa melihat respon sang anak. Wanita itu bangga, saat Nathan seolah menegaskan kalau dia tak akan membiarkan Sukma digoda oleh pria mata keranjang.
"Sukma nggak bakal mau sama dia, Ma." Nathan kemudian menatap Sukma yang kini duduk di tengah Fifi dan Hisyam, tepat berhadapan dengan Nathan. "Iya kan, Dek? Kamu nggak bakal suka sama dia?" ujarnya meminta pembelaan dari sang adik.
Sukma tersenyum kecil, dan menggeleng. "Sukma belum kepikiran menyukai orang." Sukma lebih memilih jawaban aman. Lagipula, benar yang dia katakan. Saat ini dirinya masih ingin fokus menyembuhkan diri. Keluar dari rasa traumanya itu. Dan belajar dengan giat, biar bis aikut ujian paket dan mendaftar di kampus yang sama dengan sang Abang.
"Astaga! Nggak boleh terlalu posesif gitu sama adek kamu." Hisyam berujar pada sang anak sembari tertawa. Sementara Nathan hanya mendengus pelan mendengarnya.
__ADS_1