Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Kambuh


__ADS_3

"Sukma, maafkan Mama. Mama menyesal pernah meninggalkan kamu dulu!" Dewi menangis, memohon untuk diberi pemaafan dari sang anak. Ini usaha pertamanya untuk bertemu langsung dengan Sukma, ternyata malah ketahuan gadis itu.


Sukma menggeleng pelan. "Penyesalan Anda sudah terlambat. Anda tahu, tidak? Banyak luka yang saya dapat karena anda. Sejak kecil, saya nyaris mati, padahal saya tidak tahu apa-apa. Setelah itu, saya dibully di sekolah karena terlihat aneh. Padahal, saya hanya menderita traumatis akibat perbuatan anda. Saat remaja, pun, saya tetap menderita. Disiksa, diancam, disakiti bahkan nyaris diperk0s4. Dan itu lagi-lagi karena Anda!" Sukma meluapkan segala isi hatinya pada sang ibu.


"Apa salah saya? Apa saya meminta dilahirkan dari Anda? Lalu, kenapa saya selalu menderita karena Anda?" Sukma jatuh terduduk. Tubuhnya terasa lemas. Gelas yang ia bawa juga kehilangan keseimbangan, sehingga jatuh ke lantai.


Fifi langsung mendekat. Memberikan pelukan pada sang anak. Sesekali, wanita itu memeriksa tubuh Sukma, memastikan gadis itu tidak terkena pecahan kaca.


Dewi juga kini tengah menumpahkan tangisannya. Wanita itu tak bisa berkata-kata. Hanya suara tangisan yang terdengar. Sementara Sukma, gadis itu kembali tenggelam dalam kesakitannya. keterkejutan akan kedatangan sang ibu, membuatnya kembali tidak bisa mengendalikan diri.


Rasanya, kepala Sukma begitu sakit. Telinganya berdenging. Banyak suara-suara bermunculan. Begitu menyiksa.


"Kalau kamu tidak hadir, aku dan suamiku pasti baik-baik saja!"


"Hahaha, gadis aneh!"


"Ih, jangan dekat-dekat sama dia. Dasar gadis aneh!"


"Ihh, dia kaya hantu!"


"Nggak usah genit ke Seno!"


"Jauhi anak saya!"


"Kamu harus jadi milikku, Sukma! Aku mencintai kamu!"


"AAAAHHHH! DIAM!" Teriakan Sukma menggema. Gadis itu meremas rambutnya, berusaha menghilangkan suara-suara itu.

__ADS_1


Fifi menangis karena ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wanita itu menoleh pada Dewi yang kini juga menatap Sukma khawatir.


"Mbak, tolong ambilkan ponsel saya!" pinta Fifi. Dewi buru-buru mengambil ponsel Fifi dan menyerahkannya ke wanita itu. Dewi ikut syok. Dia baru pertama kali melihat hal seperti ini. Ternyata, anaknya begitu menderita. dan itu semua, karena perbuatannya.


Fifi segera menghubungi Hisyam. Meminta pria itu untuk pulang. setelahnya, dia juga menghubungi dokter Sandra.


Fifi melemparkan ponselnya dengan asal ke atas sofa. Wanita itu memeluk Sukma dengan erat. Mencegah tubuh itu banyak bergerak, karena ada pecahan kaca di sekitarnya.


"Sukma, sayang! Dengarin Mama, Nak! Tenangkan diri kamu, oke? Ada Mama, Nak! Ada Mama. Mama sayang Sukma. Lawan rasa takut kamu." Fifi berbisik sembari menangis.


"Please, Sayang! Kontrol ketakutan kamu. Mama nggak bisa lihat kamu gini. Mama mohon. Kamu pasti bisa!"


Dewi terduduk lemas melihat pemandangan di depannya. Fifi, wanita yang tidak ada hubungan darah dengan Sukma, begitu sayang pada gadis itu.


Dewi tanpa sadar membandingkan dirinya dengan Fifi. wajar bukan, Sukma membencinya? Hari ini, dia begitu gembira karena bisa bertemu langsung dengan Sukma. Tetapi, jika tahu dari awal begini endingnya, lebih baik dia menahan diri terlebih dahulu. Ini salahnya. Dia terburu-buru ingin menemui anak gadisnya. Padahal, Fifi sudah berkali-kali mengatakan kalau dia harus sedikit bersabar.


Dokter Sandra menyuntikkan obat pada Sukma. Gadis itu memang sudah terlihat tenang, namun pikirannya pasti sedang berjalan ke segala arah. Ini kali pertama Sukma kembali hilang kendali setelah dinyatakan sembuh. Mungkin, kehadiran ibu kandungnya benar-benar membuatnya syok.


Fifi menghela napas saat melihat Sukma tertidur. Ada jejak air mata di pipi gadis itu. Gadis yang sangat malang! Fifi tiba-tiba teringat pada Dewi. Dia berpamitan pada dokter Sandra, untuk menemui Dewi sebentar.


Saat keluar dari dalam kamar, Fifi mendapati Dewi tengah duduk dengan kepala menunduk. Mungkin, wanita itu sedang merenungi kejadian yang baru saja terjadi.


"Mbak Dewi!" panggil Fifi. Wanita yang lebih muda darinya itu menoleh. Matanya terlihat membengkak. "Maaf!"


Fifi mendekat. "Nggak perlu minta maaf. Saya tahu, ini bukan keinginan kamu juga."


"Ini pertama kalinya dia kehilangan kendali setelah dinyatakan sembuh sama dokter Sandra," cerita Fifi.

__ADS_1


Dewi menghela napas berat. "Maafkan saya, Mbak. Kalau saya tidak datang, mungkin Sukma nggak akan kambuh seperti tadi."


"Kamu sebaiknya pulang dulu. Saya akan terus mengabarkan tentang kondisi Sukma pada Mbak. Mbak juga harus istirahat."


Dewi sebenarnya merasa berat hati untuk pulang. Namun, berada di sini juga, bisa membuat Sukma makin kesakitan, kan?


"Saya harap, kamu nggak ngambil hati semua ucapan Sukma tadi. Dalam hati kecilnya, dia pasti ingin bertemu kamu. Hanya saja, rasa sakit itu masih begitu membekas. Jadinya, dia tidak bisa mengontrol egonya." Fifi tidak ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang durhaka. Walau bagaimana pun, Dewi adalah ibu kandung Sukma. Seburuk apa pun perbuatan wanita itu di masa lalu. Fifi percaya, Sukma juga bukan anak seperti itu. Sukma, adalah putrinya yang kuat, baik hati, dan juga pemaaf. Fifi yakin, suatu saat nanti, Sukma akan memaafkan Dewi dan berdamai dengan masa lalunya.


"Saya paham, Mbak!" ucap Dewi. "Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya harap, Mbak tetap sudi memberitahukan kabar Sukma pada saya. Maaf, sudah membuat kekacauan."


Fifi tersenyum. Dia mengangguk pelan. "Saya pasti akan selalu memberi kabar ke kamu."


Lima menit setelah kepergian Dewi, Hisyam muncul diikuti oleh Nathan dan teman-temannya di belakang pria itu.


"Gimana ceritanya bisa kaya gini, Ma?" tanya Hisyam. Wajah pria itu kentara khawatir. Saat Fifi menghubunginya, dia langsung menuju ke sini. Tak lupa, ia menghubungi Nathan. Mengatakan kalau Sukma kembali kehilangan kontrol. Nathan yang tengah bersama dia sahabatnya di apartemen, langsung buru-buru pulang juga.


"Nanti Mama cerita. Sukma sekarang udah tidur. Di sana ada dokter Sandra. Sebaiknya, kita tanyakan keadaan dia sama dokter Sandra dulu." Fifi tidak mau menceritakan kejadian itu di saat mereka masih dalam keadaan khawatir. Fifi takut, mereka menyalahkan Dewi. Fifi juga seorang ibu. Jadi, dia tahu bagaimana rasanya berada di posisi Dewi yang serba salah.


Fifi berjalan ke dapur. Meminta ART mereka untuk membersihkan pecahan kaca tadi. Setelahnya, wanita itu menyusul ke kamar.


"Kondisinya sudah baik-baik saja. Saya tadi ngasih Sukma obat penenang. Kejadian hari ini, mungkin membuat Sukma benar-benar syok, sehingga memicu traumanya kembali. tapi, saya datang tadi, dia sudah tenang. dia berhasil dengan cepat mengontrol dirinya sendiri," jelas dokter Sandra.


"Terus, kenapa dikasih obat penenang, dok?" tanya Nathan.


Dokter Sandra tersenyum. "Hanya untuk membuatnya tertidur sejenak. Dia memang berhasil mengontrol dirinya, tapi pikirannya masih tetap berjalan. Takutnya, pikiran itu akan kembali memicu emosinya untuk naik."


Nathan mengangguk mengerti. Pria itu kemudian menatap sang mama. "Sebenarnya, Adek kenapa bisa begini, Ma?"

__ADS_1


__ADS_2