
Leon menatap pria di depannya dengan tatapan datar. Melalui bantuan Siska tempo hari, Leon mendapatkan nomor pria yang diduga melakukan p3l3c3h4n terhadap Sukma tersebut.
"Kamu..." Pria itu menatap Leon dengan alis berkerut. Pasalnya, dia tak mengenal Leon sama sekali. Selama bersekolah di sini, dia tak suka mengenal anak-anak lain kecuali yang memang masuk ke dalam circlenya.
"Saya yang kirim pesan ke kamu tadi!" jawab Leon dengan jujur. Dua pria itu saling menatap dengan pandangan datar. Namun, dalam hati saling menilai satu sama lain.
"Ckk! Saya suka gaya kamu, sok misterius!"
Leon menyunggingkan senyum miring. "Ya. Setidaknya itu lebih keren, daripada gayamu yang b3j4d!"
Pria itu mengangkat sebelah alisnya, menatap Leon seolah meminta pria itu mengulang kalimat sebelumnya.
"Saya bilang kamu b3j4d. Salah?" Leon jelas bukan orang yang penakut. Lagi pula, seni bela diri yang dia kuasai bisa dibanggakan. Meskipun kalau dipakai melawan 10 orang, Leon jelas akan terbaring koma di rumah sakit.
Pria itu berdecih pelan. Menatap Leon dengan sengit.
"Jangan sembarangan. Kamu nggak kenal siapa saya!"
Leon menggeleng-gelengkan kepalanya, memperlihatkan wajah penuh ejekan pada pria di depannya. "Saya kenal siapa kamu. Ketua geng di sekolah ini. Murid sini juga takut sama kamu. Keliatan keren, di mata cewek-cewek yang nggak waras. Tapi kamu...Nggak lebih hanya seorang pecundang yang suka mengambil kesempatan saat seseorang dalam keadaan lemah."
__ADS_1
Pria itu mulai terpancing. Wajahnya memerah, menahan amarah. Dia sama sekali tak mengenal siapa pria di depannya, namun bisa-bisanya dia menghina sedemikian rupa, seolah dia tahu segalanya.
Maju beberapa langkah, tangan pria itu meraih kerah baju Leon. Rahangnya mengeras, urat di tangannya bermunculan, sebab menahan rasa geram.
"Kamu siapa?" Dia bertanya dengan serius. Matanya menatap Leon penuh selidik.
Sementara Leon, pria itu tetap tenang di tempatnya. "Santai, Bro, santai!" ujarnya. "Kalau main fisik, sebenarnya bisa. Tapi, gimana kalau kita bicarakan baik-baik dulu. Selanjutnya, adu jotos juga nggak buruk-buruk amat!"
Bukannya melepas cengkramannya di kerah Leon, pria itu malah semakin geram karena merasa emosinya dipermainkan.
"CEPAT SEBELUM KESABARAN SAYA HABIS!"
Karena terlanjur geram, pria itu melayangkan tinjunya ke arah pipi Leon. Dengan gerakan cepat, Leon berhasil melepaskan diri dan mampu menghindar. Senyuman miring kembali terbit di bibir Leon, menatap lawannya penuh ejekan.
"Saya sudah bilang, kalau main fisik saya juga mampu. See!"
"Cepat katakan, apa mau kamu?!"
Leon tertawa melihat pria itu yang terpancing emosi. "Oke! Kalau kamu penasaran, datang ke alamat ini!"
__ADS_1
Leon mengambil secarik kertas yang ada di sakunya, lalu menyerahkan pada pria itu.
"Ini apa? Kamu bermaksud menjebak saya?"
Leon menggelengkan kepala. "Enggak! Kalau penasaran, datang saja ke alamat itu."
"Saya nggak mau!"
"Tidak masalah! Oh ya, saya punya kata kunci untuk kamu. Siska!" Leon memperhatikan pria itu yang menegang. "Gimana? Sudah tertarik datang?"
"Kamu...utusan pria itu?" tanya pria itu menyelidik.
"Saya utusan siapapun, itu tidak perlu kamu tau. Yang jelas, kalau kamu ingin tahu lebih jauh, silahkan datang ke sana, Seno Arganta!" Leon menekan saat menyebut nama pria itu.
***
"Bagaimana gadis itu?"
"Dia sudah diamankan, Pak!"
__ADS_1
"Bagus! Jangan sampai keberadaannya terendus orang luar!"