Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Rencana Masa Depan Sukma


__ADS_3

"Kalau Sukma udah bisa ngendaliin ketakutannya sendiri, Papa dan Mama berencana kembali lanjutin pendidikannya dia. Menurut kamu gimana?" Hisyam meminta pendapat Nathan. Saat ini, dua pria tersebut tengah menonton di ruang keluarga. Sementara Sukma dan Fifi sedang menyibukkan diri di dapur.


Setelah tahu Sukma bisa memasak, Fifi lebih memilih memasak makanan dengan saling membantu bersama Sukma. Sementara para ART di rumah tersebut, tugasnya sudah dibagi-bagi. Seperti ada yang khusus menyapu dan mengepel lantai, ada yang khusus mencuci piring, dan pekerjaan dapur yang lain.


"Bagus sih, Pa. Tapi, kalau dimasukkan ke sekolah, umurnya akan lebih tua dari umur teman-temannya nanti, kan?" Sukma jadi seperti ini sejak kelas X SMA dan itu sudah berlalu dia tahun. Berarti, teman seangkatan Sukma seharusnya sudah duduk di kelas XII.


Hisyam mengangguk. "Karena itu, jadinya Mama dan Papa akan meminta Sukma untuk home schooling aja. Tapi tergantung Sukmanya, mau yang seperti apa. Kalau dia tetap mau Sekolah di Sekolah umum, ya nggak apa-apa juga. Toh dia cuma terlambat dua tahun. Papa rasa nggak ada masalah."


Nathan menggeleng pelan. "Papa ingat, kan, Sukma pernah histeris hanya karena kata sekolah? Aku yakin dia pernah ngalamin sesuatu gitu pas Sekolah. Dan kalau dia memilih masuk sekolah dibandingkan home schooling, dan teman-temannya tahu kalau dia lebih tua dari mereka, aku nggak mau Sukma mah kembali dibully, Pa."


Hisyam menepuk kepalanya karena baru ingat hal tersebut. "Ah, benar juga, ya. Untung aja Papa diskusiin sama kamu dulu hal ini."

__ADS_1


Hisyam menghembuskan napas kasar. "Ya sudah, tak ada pilihan lain selain kita minta Sukma untuk home schooling saja."


"Satu lagi Pa, menurutku untuk kemajuan Sukma bisa berinteraksi dengan orang banyak, lebih baik Papa sama Mama ngasih les ke Sukma," saran Nathan.


"Maksudnya?" tanya Hisyam belum mengerti maksud dari sang anak.


"Maksud aku, Sukma juga kan harus mulai terbiasa berinteraksi dengan orang banyak. Jadi, kalau Sukma masuk tempat les, di sana kan umurnya berbeda-beda. Kita tanya aja Sukma maunya les apa. Les pelajaran, atau dia mau ngembangin bakatnya."


"Terima kasih, Papa sebelumnya malah nggak kepikiran ke sana," tambah Hisyam lagi.


Selang lima menit, Fifi berjalan mendekat pada dua lelaki berarti di hidupnya itu. "Pa, Nat, makan yuk! Semuanya udah siap."

__ADS_1


Mendapati meja makan yang terdapat banyak makanan, juga harum khas yang menyeruak dari makanan tersebut, Hisyam langsung berdecak kagum. "Wah, kalian hari ini masak apa?"


Pria paruh baya itu menepuk puncak kepala Sukma yang sudah duduk di kursi makan, sebagai bentuk rasa bangganya pada sang putri yang pandai memasak.


"Ada sop ayam, udang tepung krispi, ikan pepes, dan nggak lupa, sayur sawi tumis kesukaan Abang Nathan."


"Wahh!! Ini Sukma lagi yang masak ya, Ma?" tanya Hisyam sembari melirik Sukma yang wajahnya terlihat berseri. Gadis itu memang akan senang ketika selesai masak, dan keluarganya memuji rasa masakan itu. Sukma merasa gembira karena dia begitu dihargai.


"Iya, dong! Mama cuma bantuin aja, motong-motong ayam sama sawi." Fifi memang bisa memasak, tapi tidak terlalu, karena memang sebelum ini lebih banyak ART yang memasak. Namun demi Sukma, wanita itu rela berjibaku dengan alat-alat dapur dan berbagai jenis sayuran dan juga ikan.


"Anak Papa memang nggak usah diragukan lagi, skillnya," puji Hisyam lagi. Keluarga tersebut akhirnya fokus untuk menghabiskan apa yang tersaji di meja makan. Terlebih, masakan Sukma sangat enak, membuat Hisyam berkali-kali memuji rasa masakan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2