Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Saling membantu


__ADS_3

"Nat, kamu yakin orang itu nggak bahaya?" Fifi langsung melemparkan pertanyaan tersebut pada Nathan saat mereka menceritakan kejadian tadi. Sukma sudah diantar Nathan ke kamarnya sejak selesai makan siang, meski gadis itu sebenarnya tak perlu sampai di kawal kalau hanya sekedar ke kamarnya sendiri. Nathan saja yang terlalu protektif pada sang adik angkat.


"Aku juga nggak tahu, Ma. Tapi, semoga aja dia benar-benar orang yang tahu gimana keadaan Sukma dulu."


"Benar, Bu. Menurut saya, tak ada salahnya kita mencoba mencari tahu informasi dari dia untuk sementara. Karena sekarang kita akan sulit memasuki sekolah itu. Sebenarnya bisa dengan menggunakan kekuasaan keluarga, tapi, mereka akan curiga nantinya kenapa keluarga Hisyam bisa terlibat dengan Sukma. Takutnya, nanti mereka malah makin menutup rapat semuanya," saran Sapto.


"Terus, gimana?" tanya Fifi.


"Tadi ada nomor yang baru masuk. Tapi, pas kuhubungi balik udah nggak bisa. Dia cuma nyuruh nyimpan nomornya aja."


"Apa nggak sebaiknya nomor itu dilacak saja?" tanya Fifi.


Hisyam langsung menggeleng. "Enggak bisa, Ma. Nanti kalau dia tahu, dia pasti akan menganggap kita nggak percaya ke dia. Semua bukti akan semakin menjauh kalau gitu."


Fifi mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Hisyam. Mr. Black itu tidak mengenalkan dirinya yang asli pasti karena tak ingin mereka tahu siapa dia. Kalau mereka malah mencari tahu tentang dia, bisa-bisa dia malah menghilang.


____


Esok harinya, Nathan kembali masuk kampus yang langsung disambut dengan pertanyaan oleh dua sahabatnya.


"Dari mana aja Nat, dua hari bolos kuliah?" tanya Neo.


"Ada urusan penting, yang harus cepat diselesaikan," jawab Nathan.

__ADS_1


"Urusan apa? Tumben nggak curhat?" tanya Daniel bingung.


Nathan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya menghela napas berat. "Masalah Sukma."


"Sukma? Emang dia kenapa? Bukannya udah banyak kemajuan, ya?" Neo langsung memberondongi pria itu dengan banyak pertanyaan, membuat Nathan mendelik kesal. Pasalnya, Neo seolah terlalu bersemangat saat menanyakan perihal Sukma.


"Bisa enggak, ekspresinya kalem aja?" semprot Nathan.


Daniel malah tertawa, dia menepuk pundak Nathan. "Seharusnya kamu yang kalem aja, Nat! Si Neo cuma nanya. Sensi amat kaya cewek PMS."


Nathan memijit pelipisnya pelan, dia benar-benar tak bisa mengontrol diri kalau sudah masalah Sukma. Gadis kecil itu benar-benar sudah menarik seluruh dunia Nathan hingga hanya seolah berpusat padanya saja.


"Ah, aku cuma lagi banyak pikiran. Sorry!" ujar Nathan merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Bro. Paham kok, gimana perasaan seorang Abang yang takut adiknya malah Abang-abangan sama sahabatnya sendiri."


"Ngomong-ngomong, Sukma kenapa?" tanya Daniel.


"Dia masih ketakutan kalau mendengar kata sekolah. Ya nggak masuk akal aja, kalau dia jadi kaya gitu nggak ada sebabnya, kan? Kita jadi curiga kalau dia di sekolah dulu juga menerima tekanan."


Neo dan Daniel mencerna ucapan Nathan. "Dengan kata lain, bisa aja sumber trauma Sukma lebih besar kemungkinannya berasal dari sekolah?" tebak Neo menyimpulkan.


Nathan mengangguk. "Makanya kita lagi nyari tahu. Apalagi pihak sekolah dia kaya mencurigakan gitu."

__ADS_1


"Mencurigakan gimana?" tanya Daniel.


"Aku kemarin datang ke sana dan ngaku utusan dinas sosial yang mau lengkapin data salah satu pasien yang nggak lain adalah Sukma. Tapi kepala sekolah malah marah, dan seolah nggak terima kalau Sukma adalah murid di sana. Bahkan dia terang-terangan menyebut Sukma gila." Emosi Nathan seolah kembali naik mengingat perkataan kepala sekolah kemarin.


"Terus gimana?"


Nathan menghembuskan napas kasar. "Aku nggak dapat info apa-apa. Bahkan ke murid yang dulu satu angkatan sama Sukma, yang mereka tahu Sukma itu cuma gadis pendiam dan aneh."


"Susah juga sih. Kenapa nggak gunain kekuasaan Om Hisyam aja?" saran Daniel, hampir seperti pemikiran Fifi kemarin.


"Nggak semudah itu. Yang ada, nanti mereka malah menghilangkan bukti secepatnya kalau tahu Sukma ada keterkaitan dengan keluarga kami."


Neo dan Daniel mengangguk mengerti. "Terus, gimana nanti?"


Nathan kemudian mengingat pesan yang kemarin. "Aku sebenarnya mau minta saran dari kalian juga. Dan mungkin, bakal sekalian minta bantuan sih. Jadi, aku kemarin nggak sengaja nemuin kertas yang dijatuhkan seseorang yang nabrak aku. Tulisannya itu bilang, kalau dia tahu tentang gadis itu yang kemungkinan besar adalah Sukma. Sayangnya, dia cuma pakai identitas Mr. Black," jelas Nathan. "Menurut kalian, gimana?"


"Menurutku patut ditelusuri, Nat. Kalau memang sekolah tahu sesuatu tentang Sukma, berarti siapapun murid yang tahu jelas nggak mau buka suara. Dia mungkin ingin memberitahu kebenaran, tapi dia juga butuh melindungi dirinya. Iya, kan?" simpul Neo.


"Ya, benar! Jadi, dia pakai nama samaran biar keberadaannya nggak terancam. Kemungkinan besar, yang terlibat bukan orang sembarangan di sekolah itu," ujar Daniel menambahkan.


Otak Nathan langsung tercerahkan. "Ya, ya, ya! Masuk di akal. Berarti, kita juga harus mempersiapkan diri untuk melindungi si Mr. Black jika suatu saat dia ketahuan pihak sekolah dan berakhir posisinya terancam."


"Tenang aja, kita akan bantu turun tangan. Sukma adalah anggota baru keluarga kamu, yang berarti anggota baru di circle kita juga. Dan tugas kita adalah saling melindungi satu sama lain." Daniel menepuk-nepuk pundak Nathan.

__ADS_1


"Thanks! Kalian meski kadang tak berguna, kadang-kadang juga berguna!" canda Nathan.


"Ye, bilang mau terharu aja pakai menghina!" Ketiganya kemudian tertawa bersama.


__ADS_2